Friday, July 3, 2026
Jul 03, 2026Cari
Nasional

Sebut Kenaikan Juni karena Faktor Musiman, Pemerintah Sebut Inflasi Segera Turun

Pemerintah memproyeksikan laju inflasi akan kembali melandai pada bulan depan setelah sempat meningkat pada Juni 2026.#bisnisupdate #update #bisnis #text

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso di Kantor Kemenko Bidang Perekonomian, Jumat (19/6/2026). Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparan

Pemerintah memproyeksikan laju inflasi akan kembali melandai pada bulan depan setelah sempat meningkat pada Juni 2026.

Kenaikan tersebut dinilai hanya dipicu oleh faktor temporer, seperti penyesuaian harga BBM nonsubsidi dan momentum libur panjang.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, menjelaskan inflasi tahunan pada Juni 2026 yang mencapai 3,34 persen didominasi oleh komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices).

Kenaikan harga BBM nonsubsidi menjadi motor utama pergerakan tersebut, sementara harga pangan masih dipengaruhi faktor musiman.

"Inflasi kemarin Juni 3,34 persen. Sebenarnya lebih banyak naiknya dari komponen administered prices akibat penyesuaian harga BBM nonsubsidi," kata Susiwijono kepada wartawan di Kantor Kemenko Perekonomian, Jumat (3/7).

Di luar komponen itu, inflasi inti tercatat stabil sebesar 2,7 persen. Susiwijono menilai angka ini mencerminkan daya beli masyarakat yang tetap terjaga dan kondisi ekonomi yang sehat.

Meskipun inflasi tahunan merangkak naik mendekati batas atas, posisinya dinilai masih aman dalam rentang sasaran pemerintah sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.

Sebagai langkah antisipasi menjaga konsumsi, pemerintah telah menyalurkan berbagai stimulus. Bantuan tersebut meliputi penyaluran bantuan pangan, program penguatan permintaan domestik, hingga pemberian subsidi sebesar Rp 2.000 per kilogram bagi perajin tahu dan tempe yang terdampak fluktuasi harga kedelai.

Di sisi lain, tren penurunan harga minyak mentah Brent dan WTI di pasar global diharapkan dapat ikut menekan inflasi domestik melalui penurunan biaya logistik.

Sebelumnya, harga minyak dunia sempat melonjak di atas 100 dolar AS per barel akibat eskalasi konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Susiwijono meyakini siklus inflasi akan segera melandai seiring berakhirnya dampak musiman dari harga energi dan biaya liburan.

Koordinasi antara Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Daerah (TPID) juga terus diperkuat untuk memastikan pasokan di lapangan tetap aman dan terkendali.

Sumber: Kumparan Musik

Artikel Terkait

a
admin⏱ 2 menit baca

admin adalah kontributor di WarKini. Artikel ini diterbitkan pada 03 July 2026.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tinggalkan Komentar