LAMPUNG SELATAN – Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau (GAK) mengonfirmasi telah terjadi erupsi
di GAK pada Rabu siang. Meski demikian, status aktivitas gunung api tersebut masih berada pada level II
atau waspada.
Kepala Pos Pemantauan GAK Andi Suwardi mengatakan erupsi yang terjadi belum mengubah status
aktivitas gunung.
"Benar, siang tadi terjadi erupsi di Gunung Anak Krakatau. Statusnya masih waspada atau level II,
sehingga belum ada perubahan," kata Andi saat dikonfirmasi.
Menurutnya, aktivitas vulkanik yang terjadi masih tergolong normal dan masih berada dalam parameter
yang dipantau oleh petugas.
Andi menjelaskan erupsi tersebut dipicu oleh meningkatnya energi di dalam gunung yang mendorong
magma mendekati permukaan. Fenomena ini dikenal sebagai erupsi efusif, yakni keluarnya magma
berupa aliran lava secara perlahan tanpa disertai ledakan besar.
"Terjadi peningkatan energi yang cukup untuk mendorong magma ke permukaan. Magma keluar dalam
bentuk lelehan lava secara perlahan tanpa letusan eksplosif yang besar," jelasnya.
Meski kondisi masih relatif aman, masyarakat, nelayan, maupun wisatawan tetap diminta tidak
mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau dalam radius dua kilometer dari kawah demi menjaga
keselamatan.
"Kami mengimbau masyarakat, nelayan, dan wisatawan untuk tidak memasuki atau mendekati kawasan
Gunung Anak Krakatau dalam jarak dua kilometer. Imbauan ini demi keselamatan bersama," tegas Andi.
Sebelumnya Aktivitas Gunung Anak Krakatau yang berada di perairan Selat Sunda, wilayah Kabupaten
Lampung Selatan, Provinsi Lampung, kembali menjadi perhatian setelah Badan Geologi Kementerian
Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merilis laporan khusus terkait peningkatan aktivitas gunung api
tersebut pada 27 Juni 2026. Meski menunjukkan gejala peningkatan, status Gunung Anak
Krakatau hingga kini masih berada pada Level II (Waspada).
Laporan tersebut menyebut adanya peningkatan aktivitas magmatik yang terpantau sejak awal Juni
2026. Kondisi itu ditandai dengan meningkatnya emisi gas sulfur dioksida (SOâ), munculnya anomali
panas di sekitar kawah, hingga bertambahnya aktivitas gempa vulkanik.
Lalu, seperti apa kondisi terkini Gunung Anak Krakatau dan apa yang perlu diwaspadai masyarakat?
Berdasarkan laporan Badan Geologi, gejala peningkatan mulai terpantau sejak 1 Juni 2026. Satelit
Sentinel mendeteksi emisi gas SOâ dan anomali panas di kawasan kawah, yang kemudian diikuti
peningkatan intensitas asap serta aktivitas gempa vulkanik.
Memasuki 26 Juni 2026, aktivitas tersebut kembali meningkat. Asap kawah teramati berwarna kelabu
dengan kandungan abu vulkanik tipis yang mengarah ke barat hingga barat laut. Kondisi ini turut
terpantau melalui satelit yang dioperasikan Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin, Australia.
Badan Geologi menjelaskan peningkatan aktivitas magmatis di permukaan dapat menjadi indikasi awal
menuju erupsi. Apabila erupsi terjadi, potensi bahaya yang mungkin muncul meliputi awan panas, aliran
lava, lontaran material pijar, hingga hujan abu di sekitar gunung.
Meski demikian, hingga laporan tersebut diterbitkan, status Gunung Anak Krakatau masih berada pada
Level II (Waspada) dan belum mengalami peningkatan ke level yang lebih tinggi.
Seiring meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau, masyarakat diimbau tetap tenang dan mengikuti
perkembangan informasi yang disampaikan Badan Geologi maupun instansi terkait. Warga juga diminta
mematuhi rekomendasi yang berlaku serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum
terverifikasi. (detik/c1/abd)
Sumber: Radar Lampung Musik
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
Tinggalkan Komentar