Untuk pertama kalinya, DPC Pertuni Kabupaten Badung tampil dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Melalui Arja Negak (Duduk), mereka membuktikan bahwa keterbatasan penglihatan bukan penghalang untuk menghidupkan seni tradisi Bali. Pementasan Arja Negak ini menjadi bentuk penyesuaian bagi pemain tunanetra dengan mengandalkan drama, vokal, dan tabuh gamelan tanpa menghilangkan ruh kesenian Arja Bali.Pantauan NusaBali di lokasi pementasan, ratusan penonton sudah memadati tribun kalangan pementasan. Mereka rela menunggu untuk menyaksikan penampilan perdana kelompok seniman disabilitas netra tersebut. Penampilan mereka pun mendapat sambutan hangat karena dinilai memukau dan sarat pesan perjuangan.Ketua DPC Pertuni Badung, Anak Agung Ngurah Mayun Juliawan, mengaku bangga karena penyandang disabilitas netra akhirnya mendapat kesempatan tampil pada ajang seni budaya bergengsi tingkat Provinsi Bali.“Hari ini kami merasa sangat berbahagia. Untuk pertama kalinya penyandang disabilitas netra dari Badung diberi kesempatan tampil di PKB. Kesempatan ini tentu tidak lepas dari dukungan Pemerintah Kabupaten Badung dan Listibya Kabupaten Badung yang membuka jalan bagi kami untuk ikut mengajegkan budaya Bali,” ujarnya kepada NusaBali, di sela-sela persiapan pementasan.Menurut Agung Mayun, Pertuni Badung membawakan lakon berjudul ‘Putra Kusuma Bangsa’. Pementasan tersebut mengangkat kisah perjuangan Pahlawan Nasional asal Bali, I Gusti Ngurah Rai. Namun, cerita disajikan dari sudut pandang sang istri, Desak Biang Putu Kari, yang berjuang membesarkan ketiga anaknya saat sang suami berjuang di medan perang mempertahankan kemerdekaan.“Kami ingin menunjukkan bahwa perjuangan tidak hanya terjadi di medan perang, tetapi juga dirasakan keluarga yang ditinggalkan. Dari situlah nilai pengorbanan dan semangat perjuangan ingin kami sampaikan kepada penonton,” katanya.Pelatih sekaligus budayawan senior, I Made Yasa, mengatakan persiapan pementasan yang berdurasi sekitar satu setengah jam itu dilakukan secara intensif selama kurang lebih dua setengah bulan, setelah surat keputusan penampilan diterima pada 4 Februari 2026. Menurut pria yang akrab disapa Mbah Yasa itu, konsep Arja Negak lahir sebagai bentuk penyesuaian dengan kemampuan para pemain yang merupakan penyandang disabilitas netra.“Kalau Arja pada umumnya identik dengan gerak tari dan perpindahan pemain di atas panggung. Karena para pemain kami tunanetra, konsepnya disesuaikan menjadi Arja Negak. Kekuatan pertunjukan akhirnya bertumpu pada vokal, dialog, penghayatan cerita, dan tabuh gamelan,” jelasnya.Dia mengakui proses latihan memiliki tantangan tersendiri. Metode mengajar harus disesuaikan karena para pemain tidak dapat mengandalkan pengelihatan.“Kami yang melatih justru harus menurunkan ego. Saya harus menuntun posisi Negak mereka satu per satu, mengarahkan setiap gerakan, bahkan mengulang latihan berkali-kali. Namun semangat mereka luar biasa. Banyak yang rela mengeluarkan biaya transportasi sendiri agar tetap bisa datang latihan,” ungkap Mbah Yasa.Pengorbanan itu akhirnya membuahkan hasil. Penampilan perdana DPC Pertuni Badung mendapat sambutan hangat dari penonton yang memenuhi Kalangan Angsoka. Berkat dukungan Pemerintah Kabupaten Badung melalui penyediaan kostum dan fasilitas transportasi, pementasan Arja Negak menjadi bukti bahwa pelestarian seni budaya Bali dapat berjalan semakin inklusif. Penyandang disabilitas pun memiliki ruang yang sama untuk berkarya, berkreasi, dan ikut mengajegkan budaya Bali.Penampilan Arja Negak DPC Pertuni Badung itu juga disaksikan langsung oleh Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa, didampingi Ketua TP PKK Kabupaten Badung Nyonya Rasniathi Adi Arnawa, Sekretaris Dinas Sosial Kabupaten Badung, perwakilan Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung, serta Ketua Listibiya Kabupaten Badung.Bupati Adi Arnawa memberikan apresiasi tinggi atas pementasan Arja Negak yang dibawakan disabilitas netra. Dia mengaku bangga atas daya juang dan kualitas estetika yang ditunjukkan para seniman disabilitas Pertuni Badung. Bagi Bupati Adi Arnawa, PKB telah bertransformasi menjadi ruang publik yang inklusif.“Hari ini kita menyaksikan bahwa Pesta Kesenian Bali benar-benar menjadi wadah bagi semua kalangan, tanpa membedakan penyandang disabilitas maupun non-disabilitas. Ini merupakan langkah yang sangat baik dan harus terus kita dorong,” ujarnya.Bupati asal Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan itu menambahkan, keterbatasan fisik bukan penghalang untuk menghasilkan karya seni berkualitas tinggi. Dia menegaskan, Pemerintah Kabupaten Badung berkomitmen penuh untuk menjamin kesetaraan ruang bagi seluruh lapisan masyarakat dalam berkesenian.“Penampilan Pertuni Badung sungguh luar biasa dan tidak mengecewakan. Bahkan jika mendengarkan dari kejauhan, nuansa pertunjukannya benar-benar seperti pementasan Prembon. Dengan segala keterbatasan, mereka mampu menghadirkan Arja Negak dengan kualitas yang sangat membanggakan,” ungkapnya.Sebagai langkah konkret berkelanjutan, Pemkab Badung melalui Listibiya Kabupaten Badung akan terus mengintensifkan pembinaan, pendampingan, serta perluasan ruang pentas bagi seniman disabilitas.Ke depan, Bupati Adi Arnawa berharap potensi seni para penyandang disabilitas tidak hanya berfokus pada Arja Negak, melainkan juga merambah cabang kesenian Bali lainnya. Langkah ini diharapkan memperkuat nilai inklusivitas sekaligus memperkaya keragaman pelestarian seni budaya di Pulau Dewata. 7 cr83, ind
Sumber: Nusa Bali Musik
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
Tinggalkan Komentar