Viral

Biawak Pohon Tutul Biru, Naga Mini dari Raja Ampat yang Bikin Salfok

Bestie, lo pernah nggak sih scroll TikTok terus tiba-tiba ketemu hewan yang warnanya kayak hasil editan Photoshop, tapi ternyata asli? Nah, gue baru aja salfok berat sama sosok yang satu ini: biawak p...

Biawak Pohon Tutul Biru, Naga Mini dari Raja Ampat yang Bikin Salfok

Bestie, lo pernah nggak sih scroll TikTok terus tiba-tiba ketemu hewan yang warnanya kayak hasil editan Photoshop, tapi ternyata asli? Nah, gue baru aja salfok berat sama sosok yang satu ini: biawak pohon tutul biru. Nggak nyangka, reptil yang satu ini literally punya corak biru elektrik yang bikin mata auto nempel. Kalau lo pikir biawak cuma soal komodo atau biawak got yang suka nongkrong di selokan, siap-siap plot twist, karena yang ini levelnya beda banget.

Kenalan dulu sama si cantik yang satu ini

Biawak pohon tutul biru punya nama ilmiah Varanus macraei. Buat yang belum tahu, dia ini endemik dari Pulau Batanta, salah satu pulau kecil di kawasan Raja Ampat, Papua Barat. Jadi bisa dibilang, dia ini artis lokal yang mendunia. Ukurannya nggak sebesar komodo, panjangnya sekitar satu meter, tapi yang bikin dia standout adalah motifnya: tubuh hitam dengan bintik-bintik biru cerah yang tersusun rapi, plus ekor yang bisa melingkar seperti spiral. Ekornya ini fungsinya bukan buat gaya-gayaan doang, tapi buat mencengkeram dahan saat dia memanjat. Mood banget kan, punya "tangan kedua" di ekor?

Yang bikin makin menarik, warna biru itu nggak selalu sama di setiap individu. Ada yang bintiknya lebih terang, ada yang lebih gelap, tergantung usia dan kondisi tubuh. Anakannya biasanya punya warna yang lebih vivid, sementara yang dewasa cenderung lebih kalem. Jadi kalau lo lihat foto-foto di internet yang warnanya kayak neon, itu bukan filter, bestie. Itu memang real deal.

Kenapa dia jadi rebutan para kolektor?

Nah, di sinilah plot twist-nya. Karena warnanya yang unik dan eksotis, biawak pohon tutul biru jadi salah satu reptil paling dicari di pasar hewan eksotis global. Harganya? Jangan tanya. Di pasar internasional, satu ekor bisa dibanderol jutaan hingga puluhan juta rupiah. Parah sih. Permintaan tinggi ini bikin tekanan terhadap populasi di alam liar makin besar, belum lagi masalah deforestasi dan perdagangan ilegal. Padahal, menurut data konservasi, populasi mereka di alam tergolong rentan karena wilayah sebarannya yang sangat sempit, cuma di satu pulau kecil.

"Blue tree monitor is one of the most stunning reptiles I've ever seen. The blue is unreal." โ€” komentar viral di sebuah forum reptil internasional.

Komunitas pecinta reptil di Indonesia sendiri terbelah. Ada yang mendukung penangkaran legal untuk mengurangi tekanan di alam, tapi nggak sedikit juga yang khawatir penangkaran cuma jadi kedok buat jualan hasil tangkapan liar. Red flag banget kalau lo nemu penjual yang nggak bisa nunjukin asal-usul hewannya secara jelas. Green flag-nya? Kalau ada breeder yang transparan soal silsilah dan kondisi hewan, itu baru boleh dipercaya.

Fakta seru yang bikin makin sayang

Selain soal warna, biawak ini punya beberapa fakta yang bikin dia makin menarik. Pertama, dia arboreal, artinya hidup di pepohonan, bukan di tanah. Jadi jangan bayangin dia nongkrong di got kayak biawak biasa. Kedua, dia aktif di siang hari dan cukup lincah, bisa melompat dari dahan ke dahan dengan presisi yang bikin iri. Ketiga, meskipun terlihat garang, dia sebenarnya cukup pemalu dan lebih memilih kabur daripada konfrontasi. Jadi kalau lo ketemu di alam liar, jangan sok jagoan deketin, ya. Cukup foto dari jauh, hargai ruangnya.

Yang perlu digarisbawahi, status konservasi Varanus macraei masuk dalam kategori Appendix I CITES, yang artinya perdagangan internasional komersial dilarang keras. Jadi kalau ada yang nawarin ke lo dengan harga murah dan ngaku legal, auto curiga. Ini bukan cuma soal hukum, tapi soal masa depan spesies yang cuma ada di satu titik di bumi ini.

Jadi, gimana nasib si biru?

Balik lagi ke kita nih. Sebagai anak muda yang melek internet dan peduli lingkungan, kita punya suara. Mulai dari hal kecil: nggak ikut-ikutan share konten jual beli hewan dilindungi, nggak tergoda beli karena cuma pengin pamer, dan sebisa mungkin support upaya konservasi atau ekowisata yang bertanggung jawab. Kalau lo ke Raja Ampat, lihat biawak ini di habitatnya jauh lebih worth it daripada punya di kandang, kan?

Gimana menurut lo, bestie? Harusnya penangkaran dilegalkan lebih luas, atau diperketat total? Atau mungkin lo punya pengalaman lihat reptil eksotis langsung di alam? Drop di kolom komentar, gue tunggu cerita lo!

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kimberly-sutanto

Reporter Hiburan. Meliput film, musik, dan selebriti Indonesia.

Comments (0)

User