JAKARTA — Pasar PC Lesu, Pedagang Laptop di Mal Ambassador Mengeluh Omzet Anjlok

Industri komputer pribadi (PC) global kembali mengalami guncangan signifikan pada paruh pertama 2026. Krisis kelangkaan chip memori yang belum mereda, dipa

JAKARTA — Pasar PC Lesu, Pedagang Laptop di Mal Ambassador Mengeluh Omzet Anjlok

Industri komputer pribadi (PC) global kembali mengalami guncangan signifikan pada paruh pertama 2026. Krisis kelangkaan chip memori yang belum mereda, dipadukan dengan ketegangan geopolitik antarnegara besar, berhasil menekan volume pengapalan perangkat hingga 4,9 persen year-on-year (YoY) pada kuartal II-2026. Dampak dari perlambatan tersebut tidak hanya dirasakan oleh para vendor besar di panggung internasional, tetapi juga merembet ke tingkat ritel di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia.

Menyusutnya Pasar PC Global

Data terbaru dari sejumlah firma riset teknologi menunjukkan bahwa permintaan terhadap desktop, laptop, dan workstation mengalami kontraksi lebih dalam dibandingkan proyeksi awal tahun. Kondisi ini diperparah oleh ketidakstabilan pasokan komponen penting, khususnya modul memori DRAM dan NAND flash. Para produsen chipset memori mengaku kesulitan memenuhi pesanan akibat keterbatasan bahan baku dan gangguan pada fasilitas produksi di beberapa wilayah.

Sementara itu, ketegangan geopolitik yang melibatkan kebijakan tarif impor, pembatasan ekspor teknologi, dan sanksi terhadap sektor semikonduktor membuat rantai pasok semakin rapuh. Banyak perusahaan manufaktur PC yang menahan laju produksi karena khawatir terhadap akumulasi inventaris yang tidak laku di pasar. Akibatnya, pengapalan unit baru ke seluruh dunia turun nyaris lima persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menciptakan gelombang kelesuan yang sulut di berbagai segmen pasar.

Derita Pedagang di Mal Ambassador

Gelombang lesunya pasar PC langsung terasa di pusat-pusat perbelanjaan elektronik lokal. Di Mal Ambassador, Jakarta, salah satu sentra penjualan laptop dan komputer terbesar di ibu kota, para pedagang mulai mengeluhkan sepinya pembeli. Berbagai konter yang biasanya ramai dikunjungi konsumen pada akhir pekan kini terlihat lengang. Tidak sedikit lapak yang sebelumnya menampilkan puluhan unit stok baru kini mengurangi jumlah barang dagangan di rak etalase.

"Sepi pembeli sudah berlangsung beberapa bulan. Stok laptop baru banyak yang nganggur di rak karena harga naik, sementara konsumen justru menahan belanja. Kami terpaksa andalkan penjualan aksesoris dan jasa servis untuk bertahan," ujar salah seorang pedagang di pusat perbelanjaan elektronik Mal Ambassador, Jakarta, Rabu (4/6/2026).

Menurut sejumlah pelaku usaha di lokasi yang sama, kenaikan harga jual laptop terbaru mencapai 10 hingga 15 persen dibandingkan awal tahun. Kenaikan tersebut tidak terlepas dari mahalnya biaya produksi akibat kelangkaan chip memori dan fluktuasi nilai tukar mata uang. Sayangnya, kenaikan harga justru berbanding terbalik dengan daya beli masyarakat yang tengah tertekan.

Kombinasi Krisis Chip dan Geopolitik

Analis industri menyoroti bahwa krisis yang melanda pasar PC saat ini merupakan badai sempurna dari berbagai faktor. Di satu sisi, sektor manufaktur semikonduktor masih berjuang pulih dari defisit kapasitas produksi yang berkepanjangan sejak beberapa tahun terakhir. Di sisi lain, konflik dagang dan kebijakan proteksionisme membuat arus distribusi komponen antarnegara menjadi tidak prediktabil.

Berikut adalah poin-poin kunci yang menyebabkan lesunya pasar PC saat ini:

  • Kelangkaan chip memori global: Pasokan DRAM dan NAND flash terbatas, memperlambat lini produksi laptop dan desktop.
  • Ketegangan geopolitik: Kebijakan tarif dan pembatasan ekspor teknologi semikonduktor mengganggu rantai pasok internasional.
  • Penurunan daya beli: Kondisi ekonomi makro yang belum stabil membuat konsumen menunda pembelian perangkat elektronik besar.
  • Perpanjangan siklus penggunaan: Banyak pengguna memilih memperbaiki atau meng-upgrade perangkat lama ketimbang membeli unit baru.

Semua faktor tersebut menciptakan situasi di mana para pedagang tidak hanya kesulitan mendapatkan stok dengan harga bersaing, tetapi juga menghadapi tantangan ekstra untuk meyakinkan konsumen agar melakukan pembelian.

Dampak ke Konsumen dan Proyeksi ke Depan

Bagi kalangan konsumen, kondisi ini berarti harus merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan perangkat dengan spesifikasi standar. Tidak jarang model laptop keluaran tahun lalu justru mengalami apresiasi harga di pasar sekunder karena ketersediaan unit baru yang terbatas. Sementara itu, segmen pasar laptop gaming dan workstation profesional—yang sangat bergantung pada komponen memori berkapasitas besar—mengalami kenaikan harga paling signifikan.

Meski demikian, para pengamat industri tetap menyisakan harapan akan adanya pemulihan bertahap. Beberapa pabrikan chip memori dilaporkan telah menyelesaikan ekspansi fasilitas produksi mereka dan diperkirakan akan mulai meningkatkan pasokan pada kuartal ketiga dan keempat tahun ini. Namun, proses normalisasi harga dan ketersediaan barang di pasaran diprediksi baru akan terasa secara utuh pada akhir 2026 atau awal 2027.

Di tengah ketidakpastian, para pedagang di Mal Ambassador dan sentra elektronik lainnya terpaksa beradaptasi. Selain mengandalkan jasa perbaikan, banyak yang mulai memperluas lini produk ke perangkat second atau refurbished yang lebih terjangkau. Strategi tersebut dianggap sebagai jalan keluar sementara untuk mempertahankan arus kas usaha hingga pasar benar-benar pulih kembali.

Sementara itu, konsumen yang membutuhkan perangkat baru disarankan untuk lebih cermat membandingkan harga dan mempertimbangkan kebutuhan sesungguhnya, mengingat volatilitas pasar PC masih cenderung tinggi dalam beberapa bulan ke depan.

[TAGS]: pasar PC, kelangkaan chip, Mal Ambassador, ekonomi digital, daya beli

[SOCIAL_TWEET]: Pasar PC anjlok 4,9% di Q2 2026. Pedagang laptop di Mal Ambassador keluhkan sepinya pembeli akibat krisis chip & geopol

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bobby-hartono

Editor Lifestyle. Mantan editor majalah lifestyle. Fokus pada tren, gaya hidup urban, dan budaya pop.

Comments (0)

User