LAMPUNG SELATAN — Mobil Dinas Bupati Nyangkut di Jalan Rusak dan Warga Protes
Setiap hentakan ban mobil dinas menandakan ketidakadilan yang lebih besar. Di Desa Helau, Kecamatan Merbau Mataram, Lampung Selatan, mobil dinas milik Bupa
Setiap hentakan ban mobil dinas menandakan ketidakadilan yang lebih besar. Di Desa Helau, Kecamatan Merbau Mataram, Lampung Selatan, mobil dinas milik Bupati Radityo Egi Pratama sempat terjebak dan kesulitan melintasi ruas jalan yang rusak parah, pada sebuah kunjungan kerja ke wilayah tersebut. Peristiwa yang seharusnya menjadi agenda rutin pejabat ini justru berubah menjadi panggung pengadilan rakyat—di mana aspal berlubang yang selama ini hanya ditelan kesabaran warga akhirnya meledak di depan mata kepala daerah mereka sendiri. Deretan lubang menganga yang dipenuhi bebatuan, tanah gembur, dan genangan air menjadi saksi bisu atas ketimpangan infrastruktur di wilayah yang seharusnya menjadi urat nadi ekonomi perdesaan.
Jalan Menuju Neraka Perdesaan
Helau bukanlah nama asing soal derita perjalanan. Ruas jalan utama di desa tersebut telah mengalami kerusakan kronis selama bertahun-tahun, mengubah setiap aktivitas warga menjadi taruhan nyawa. Namun, apa yang terjadi pada mobil dinas berpelat pemerintah itu adalah puncak dari sebuah ironi pahit: kendaraan yang membawa pejabat tertinggi di daerah harus tersandung oleh realitas yang sama—bahkan lebih buruk—dari apa yang dihadapi rakyat jelata setiap hari. Ban mobil yang berulang kali terperosok ke dalam kubangan dalam, bawah mobil yang nyaris terseret batu-batu tajam, serta suara mesin yang berteriak keras mencoba menggapai tenaga di tengah medan yang tak manusiawi, menciptakan simfoni kelam yang menggambarkan kondisi infrastruktur di sana.
Mata warga yang memandang dari balik teras rumah mereka tampak berbinar-binar, bukan karena gembira, melainkan karena sebuah kehadirian akhirnya membuktikan apa yang selama ini mereka keluhkan. Jalan itu bukan sekadar rusak; ia telah mati. Bebatuan yang berserakan seolah menjadi pagar alami yang memisahkan Desa Helau dari akses layak ke fasilitas umum. Anak-anak sekolah harus berjalan kaki miles dengan sepatu berlumpur, ibu hamil terhuyung-huyung di atas ojek yang terhambat batu, dan petani kehilangan waktu berharga karena truk pengangkut hasil panen enggan masuk ke wilayah yang jalanannya seperti medan perang.
Amarah yang Meledak di Depan Muka Sendiri
Ketika mobil dinas Bupati Radityo Egi Pratama berhasil melewati salah satu titik terparah setelah sempat nyangkut, puluhan warga yang telah menunggu di pinggir jalan langsung menyambarnya. Mereka berkerumun dengan wajah-wajah yang mencerminkan letihnya menunggu janji. Bagi mereka, kedatangan sang Bupati bukan lagi sekadar kunjungan formal, melainkan pintu masuk untuk sebuah konfrontasi damai yang sudah terlalu lama tertunda. Dengan nada suara yang bergetar antara amarah dan harapan, warga menceritakan bahwa kerusakan jalan itu bukan lagi berita baru, melainkan tragedi berulang yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
"Jangan janji saja, Pak! Kami sudah muak dengar janji manis setiap tahun. Jalan ini rusak bertahun-tahun, pernah bikin warga kami celaka. Kalau pejabat kami sendiri baru tahu sekarang, berarti memang selama ini mata dan telinga Bapak tertutup rapat!"
Teguran itu bukanlah sekadar keluhan individual, melainkan representasi dari suara kolektif yang terlalu lama dibungkam oleh ketidakhadiran. Warga lain menyambung dengan cerita bahwa beberapa warga pernah mengalami kecelakaan akibat jalan tersebut, mulai dari jatuh dari sepeda motor hingga kendaraan roda empat yang terbalik karena menghindari lubang yang tiba-tiba muncul di tengah kegelapan malam. Medis desa seringkali kesulitan menjangkau pasien darurat karena ambulans tidak berani melewati jalan yang struktur aspalnya telah hancur total.
Cermin bagi Pembangunan yang Tersandung
Kejadian di Desa Helau ini seharusnya menjadi cermin bagi seluruh jajaran pemerintahan di Lampung Selatan. Ketika mobil dinas seorang Bupati saja nyaris tak mampu melintas, lalu bagaimana nasib warga yang menggunakan kendaraan pribadi sederhana setiap hari? Ironi tersebut menggambarkan jarak yang terlalu jauh antara meja rapat di kantor bupati dengan debu dan lumpur yang menghantui langkah warga di pelosok. Pembangunan infrastruktur tidak bisa lagi diukur dari indikator statistik di atas kertas, melainkan harus dirasakan langsung oleh setiap ban yang menggulir di aspal—atau sisa-sisa aspal—yang ada.
Radityo Egi Pratama, yang berada di dalam mobil dinas tersebut, tentu mendapatkan pelajaran langsung yang tidak mungkin didapatkan dari laporan bertebal di atas meja kerjanya. Wajah-wajah muram yang menyambutnya bukanlah bentuk permusuhan, melainkan ekspresi kehilangan kepercayaan yang sedang diuji. Apakah kejadian ini akan berubah menjadi momentum perubahan, atau sekadar ditanggap sebagai insiden viral yang memalukan lalu terlupakan, menjadi pertaruhan politik dan moral bagi kepemimpinannya ke depan.
Masyarakat Desa Helau tidak meminta jalan yang mewah. Mereka hanya ingin jalan yang cukup aman untuk dilalui anak-anak mereka menuju sekolah, cukup kokoh untuk dilalui petani membawa hasil panen, dan cukup manusiawi untuk tidak membuat setiap perjalanan feels like a gamble. Jalan rusak yang sempat menahan laju mobil dinas bupati telah berbicara lebih keras dari ribuan kata pengaduan. Tinggal apakah suara itu akan didengar, atau sekadar terbenam di antara deru mesin yang berhasil lolos dari kubangan tersebut.
Comments (0)