Manajer St Basil's Mengaku Lupa, Keluarga Korban Covid Tak Bisa Melupakan

MELBOURNE — Isak tangis pelan terdengar di ruang sidang pengadilan koroner Melbourne, Australia, ketika sejumlah keluarga korban hadir untuk akhirnya mende

Manajer St Basil's Mengaku Lupa, Keluarga Korban Covid Tak Bisa Melupakan

MELBOURNE — Isak tangis pelan terdengar di ruang sidang pengadilan koroner Melbourne, Australia, ketika sejumlah keluarga korban hadir untuk akhirnya mendengar kesaksian dua manajer paling senior dari panti jompo St Basil's — fasilitas perawatan lansia di mana 50 penghuni meninggal dunia akibat Covid-19 dan kelalaian selama Juli dan Agustus 2020.

Dua pejabat senior tersebut, Konstantin Kontis dan Vicky Kos, akhirnya dipaksa memberikan kesaksian dalam penyelidikan koroner yang dibuka kembali tepat pada peringatan keenam tragedi tersebut. Sebelumnya, keduanya telah berkali-kali melakukan upaya hukum untuk menghindari kewajiban bersaksi — namun semuanya gagal.

Tragedi Musim Dingin 2020 di Victoria

Tragedi St Basil's merupakan salah satu babak tergelap dalam sejarah penanganan pandemi Covid-19 di Australia. Berikut kronologi peristiwa yang mengguncang negara tersebut:

  1. Juli 2020 — Kasus Covid-19 pertama terdeteksi di panti jompo St Basil's, Fawkner, Melbourne. Keterlambatan pengujian kemudian disebut sebagai akar penyebab meluasnya kematian.
  2. Juli–Agustus 2020 — Wabah menyebar tak terkendali. Hampir seperempat dari 188 penghuni — sebanyak 50 orang — meninggal dunia akibat Covid-19 atau kelalaian perawatan.
  3. Akhir 2020 — Pemerintah Victoria memerintahkan penyelidikan koroner atas kematian massal tersebut.
  4. 2021 hingga 2025 — Proses hukum berjalan lambat. Kontis dan Kos berulang kali mengajukan upaya hukum untuk menghindari panggilan bersaksi.
  5. 2026, peringatan keenam tragedi — Penyelidikan koroner dibuka kembali, dan kedua mantan manajer senior itu akhirnya dipaksa duduk di kursi saksi.

Enam Tahun Menunggu Jawaban

Bagi keluarga korban, enam tahun adalah waktu yang sangat panjang untuk menunggu kejelasan. Mereka datang ke ruang sidang dengan membawa foto-foto orang tercinta yang telah tiada, berharap mendengar pengakuan dan jawaban dari pihak yang paling bertanggung jawab.

Namun, yang mereka dengar justru mengecewakan. Dalam kesaksiannya, kedua mantan manajer senior itu berulang kali menyatakan tidak dapat mengingat detail krusial seputar pengambilan keputusan selama krisis berlangsung.

"Mereka bilang tidak ingat. Tapi kami — keluarga yang ditinggalkan — tidak akan pernah bisa melupakan," ujar salah satu kerabat korban yang hadir di persidangan.

Keterlambatan Pengujian Jadi Akar Masalah

Berdasarkan temuan awal penyelidikan, keterlambatan pengujian setelah kasus Covid-19 pertama terdeteksi di fasilitas itu disebut sebagai akar penyebab dari 50 kematian tersebut. Ketika wabah mulai menyebar, respons yang lambat membuat virus menular dengan cepat di antara para lansia yang rentan.

Situasi di dalam panti jompo saat itu digambarkan sangat memprihatinkan:

  • Sebagian besar staf terpaksa dikarantina karena terpapar virus, menyisakan kekosongan tenaga perawat yang parah.
  • Penghuni dilaporkan kekurangan makanan, air, dan perawatan dasar selama puncak krisis.
  • Panggilan telepon dari keluarga yang panik tidak dijawab, meninggalkan mereka dalam ketidakpastian selama berhari-hari.
  • Pemerintah federal akhirnya mengambil alih operasional fasilitas setelah situasi dinilai di luar kendali pengelola.

Upaya Hukum Menghindari Kesaksian

Sebelum akhirnya bersaksi, Kontis dan Kos diketahui melakukan berbagai upaya hukum untuk menghindari kewajiban memberikan bukti di hadapan penyelidikan koroner. Namun, pengadilan menolak seluruh upaya tersebut dan memerintahkan keduanya hadir.

Kehadiran mereka di kursi saksi menjadi momen yang sangat dinantikan keluarga korban. Selama enam tahun, para keluarga merasa suara mereka tidak didengar, sementara para pengambil keputusan kunci terus berlindung di balik proses hukum.

Keluarga Korban Terus Berjuang

Bagi keluarga yang ditinggalkan, penyelidikan ini bukan sekadar formalitas hukum. Ini adalah perjuangan untuk memastikan bahwa kematian 50 orang yang mereka cintai tidak sia-sia — dan bahwa sistem perawatan lansia di Australia diperbaiki agar tragedi serupa tidak terulang.

Tragedi St Basil's telah memicu perdebatan nasional tentang standar perawatan lansia di Australia, kesiagaan pandemi di fasilitas perawatan, serta akuntabilitas para operator panti jompo. Hingga kini, keluarga korban terus menuntut satu hal yang belum pernah mereka terima: pengakuan penuh atas kesalahan yang terjadi.

Sementara para manajer mengaku lupa, ruang sidang pengadilan koroner Melbourne menjadi saksi bahwa bagi keluarga korban, ingatan tentang kehilangan itu tetap hidup — dan akan terus hidup hingga keadilan benar-benar ditegakkan.

[SOCIAL_TWEET]: "Mereka bilang tidak ingat. Kami tidak bisa melupakan." 💔 6 tahun setelah 50 lansia tewas di panti jompo St Basil's Melbourne, dua manajer senior akhirnya bersaksi — dan mengaku lupa detail krusial. #StBasils #Covid19[SOCIAL_TG]: ⚖️ SIDANG YANG DINANTI 6 TAHUN. Dua manajer senior panti jompo St Basil's — tempat 50 lansia tewas akibat Covid-19 pada 2020 — akhirnya dipaksa bersaksi setelah berkali-kali gagal menghindar lewat upaya hukum. Namun jawaban mereka: "tidak ingat." Sementara itu, keluarga korban yang hadir di ruang sidang tidak akan pernah bisa melupakan. Ini kisah perjuangan mereka mencari keadilan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bobby-hartono

Editor Lifestyle. Mantan editor majalah lifestyle. Fokus pada tren, gaya hidup urban, dan budaya pop.

Comments (0)

User