Papua — Kuskus Endemik ‘Marsupilami’ Terusir akibat Penggusuran Hutan
Dalam puing-puing dedaunan yang masih mengepul, seekor kuskus Papua berbulu abu-abu keperakan terlihat memeluk erat batang pohon yang retak. Matanya, yang
Dalam puing-puing dedaunan yang masih mengepul, seekor kuskus Papua berbulu abu-abu keperakan terlihat memeluk erat batang pohon yang retak. Matanya, yang seharusnya tenggelam dalam keheningan kanopi, kini memantulkan rona panik yang tak bisa disalahartikan. Di baliknya, lengan besi kuning sebuah ekskavator mengayun dengan mekanis, merobohkan pohon-pohon tinggi yang selama puluhan tahun menjadi istana bagi satwa marsupial langka itu. Video berdurasi singkat yang merekam momen pilu tersebut beredar luas di media sosial dalam hitungan jam, membuka luka lama tentang konflik yang terus berdarah antara mesin pembangunan dan hutan-hutan terakhir di Tanah Papua.
Fenomena yang terekam kamera amatir itu bukan sekadar konten viral biasa. Ia adalah potret nyata dari sebuah spesies endemik yang sedang kehilangan satu-satunya rumah yang dikenalnya. Kuskus tersebut, yang kerap dibandingkan dengan karikatur Marsupilami karena ekornya yang panjang, lentur, dan berbelang hitam-putih, tampak kebingungan saat tajuk pohon tempat ia bernaung berguncang hebat sebelum akhirnya roboh bersama gemuruh mesin. Bagi satwa yang secara biologis menggantungkan seluruh eksistensinya di atas tanah, runtuhnya kanopi sama artinya dengan runtuhnya dunia.
Ketika Kanopi Runtuh, Satwa Merana
Kuskus Papua, termasuk jenis yang terekam dalam video tersebut, adalah hewan arboreal murni. Artinya, hampir setiap siklus kehidupannya—mulai dari mencari daun, buah-buahan, hingga berlindung dari predator—dijalankan di antara rimbunnya dedaunan tinggi. Ekor panjangnya berfungsi sebagai anggota tubuh kelima yang kuat, memungkinkannya meliuk-liuk di antara dahan dengan kelincahan yang memesona. Namun, kelincahan itu hanya bermakna di habitat aslinya. Begitu kaki besi ekskavator menggoyahkan akar dan batang, seluruh tata kehidupan yang rumit itu hancur dalam sekejap.
Pilu dan mengguncang hati—itulah dua kata yang paling sering muncul di kolom komentar warganet. Banyak yang tidak menyangka bahwa satwa lucu yang pernah mereka lihat di buku pengetahuan atau dokumenter alam kini harus berhadapan langsung dengan kematian perlahan akibat aktivitas penggusuran hutan. Yang membuat luka semakin dalam adalah ekspresi kebingungan sang kuskus; ia bukan pelarian dari kebakaran hutan yang bisa terbang menuju pohon lain, melainkan makhluk yang terjebak di atas puing kayu sementara rumahnya dihancurkan sistematis dari bawah.
"Kuskus yang kita lihat di video itu bukan sekadar satwa liar yang kehilangan sebatang pohon. Ia kehilangan seluruh sistem penyangga hidupnya. Ketika ekskavator masuk dan hutan primer dirobohkan, mereka tidak punya tempat lari. Bagi kuskus, tanah adalah dunia asing yang mematikan karena mereka tidak dilahirkan untuk beradaptasi di sana," ujar Dr. Yohana Meage, ahli konservasi marsupial asal Papua, saat dihubungi Warkini.com, Jumat (14/6/2024).
Jeritan Hutan dan Kegagalan Perlindungan
Meski status kuskus telah dilindungi secara hukum berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, realita di lapangan mengabulkkan cerita yang berbeda. Papua masih kehilangan ribuan hektar hutan primer setiap tahunnya akibat ekspansi perkebunan, tambang, dan penebangan ilegal. Banyak dari aktivitas tersebut berlangsung di dalam kawasan konsesi yang sah, di mana dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) sering kali hanya menjadi formalitas kertas yang tidak mampu mencegah gigi-gigi buldoser menggigit habis habitat endemik.
Paradoksnya, Tanah Papua dijuluki sebagai paru-paru dunia dan gudang terakhir keanekaragaman hayati Indonesia, namun justru di sanalah laju deforestasi terus mengancam spesies-spesies yang tidak bisa ditemukan di belahan bumi lain. Komunitas adat yang tinggal di sekitar hutan kerap melaporkan peningkatan penampakan satwa liar yang terdesak ke pemukiman manusia, sebuah sinyal bahwasanya batas-batas habitat alami mereka telah terlampau tergores. Kuskus bergaung panjang itu kini bukan lagi penghuni kanopi yang bebas, melainkan pengungsi di tanah airnya sendiri.
Mencari Solusi di Balik Tragedi
Para pegiat lingkungan menuntut adanya pengetatan pengawasan terhadap setiap operasi alat berat di kawasan yang berpotensi menjadi habitat satwa endemik. Mereka menekankan perlunya peta tata ruang yang transparan, koridor satwa yang efektif, serta sanksi tegas bagi perusahaan yang kedapatan merusak ekosistem vital. Namun, semua rekomendasi itu akan sia-sia jika tidak diimbangi dengan komitmen politik yang kuat untuk menempatkan kelestarian alam setara dengan目标 ekonomi. Video seekor kuskus yang bingung di atas puing hutan bukanlah akhir dari sebuah cerita, melainkan alarm yang berbunyi semakin keras.
Mata redup sang kuskus yang terekam lensa adalah cermin dari nurani kolektif kita. Ketika debu mereda dan ekskavator pergi, yang tersisa bukan hanya tunggul dan lumpur, melainkan sebuah pertanyaan yang menggantung pekat: berapa banyak Marsupilami sesungguhnya yang harus terjatuh dari dahan sebelum suara mesin akhirnya berhenti menggerus hutan mereka?
[SOCIAL_TWEET]: Video pilu seek
Comments (0)