Pasangan Cuek-cuekan Setelah Berantem? Hati-hati Bahaya Silent Treatment
Pernah nggak sih lo habis berantem sama pacar, terus tiba-tiba dia berubah jadi es batu? Chat cuma dibales 'iya', 'oke', 'terserah' — atau lebih parah, di-read doang berjam-jam padahal status online...
Pernah nggak sih lo habis berantem sama pacar, terus tiba-tiba dia berubah jadi es batu? Chat cuma dibales 'iya', 'oke', 'terserah' — atau lebih parah, di-read doang berjam-jam padahal status online-nya nyala terus. Kalau iya, selamat datang di fase yang anak TikTok biasa sebut cold war era. Dan jujur aja, fase ini kadang lebih nyiksa daripada berantemnya itu sendiri.
Fenomena pasangan yang tiba-tiba cuek setelah bertengkar itu literally dialamin hampir semua orang yang pernah pacaran. Dua-duanya saling tunggu, dua-duanya saling gengsi, dan ujung-ujungnya malah jadi perang dingin berkepanjangan. Kayak nonton drama Korea Queen of Tears, tapi versi low budget dan tanpa soundtrack sedih.
Cuek Itu Beda Sama Butuh Ruang, Bestie
Sebelum lo auto cap pasangan lo red flag, kita luruskan dulu satu hal: diam sebentar itu nggak selalu jahat. Ada perbedaan besar antara orang yang bilang, 'aku butuh waktu sendiri dulu, nanti kita ngobrol lagi ya,' sama orang yang tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan dan bikin lo nebak-nebak sendiri kayak main teka-teki silang.
Yang pertama itu namanya cooling down, dan itu sehat banget. Psikolog bilang, jeda setelah konflik bisa nurunin emosi biar obrolan selanjutnya nggak makin meledak. Sedangkan yang kedua? Itu yang namanya silent treatment — diam yang dipakai buat hukuman, bukan buat tenang. Bedanya ada di niat dan komunikasinya. Kalau dia ngasih tahu kapan bakal ngobrol lagi, itu green flag. Kalau dia sengaja bikin lo cemas tanpa kejelasan, nah itu baru masalah.
Silent Treatment Masuk Daftar 'Kiamat' Hubungan
Ini bukan gue yang ngada-ngada ya. John Gottman, peneliti hubungan yang legendaris banget, pernah nemuin empat pola komunikasi yang bisa 'meramal' kandasnya sebuah hubungan. Dia nyebutnya The Four Horsemen: kritik berlebihan, meremehkan, defensif, dan yang terakhir stonewalling — alias menutup diri dan ngacuhin pasangan. Yap, cuek-cuekan yang lo anggap sepele itu masuk daftar ini.
Lebih serem lagi, riset soal pengucilan sosial nunjukkin kalau diacuhin orang terdekat itu mengaktifkan area otak yang sama yang aktif pas kita ngerasain sakit fisik. Makanya pas di-read doang, dada lo berasa nyeri beneran. Itu bukan lebay, itu otak lo literally ngirim sinyal sakit.
Kenapa Ada Orang yang Hobinya Ngambek Cuek?
Alasannya macem-macem, dan nggak semuanya jahat. Pertama, ada orang yang emang conflict avoidant — dia takut konfrontasi, jadi kabur ke mode diam karena nggak tahu harus ngomong apa. Kedua, ada yang tumbuh di keluarga yang konfliknya selalu diselesaiin dengan saling diam, jadi dia pikir itu normal. Ketiga, ada juga yang pakai diam sebagai senjata: dia tahu lo bakal cemas, dan dia pengen lo yang minta maaf duluan meskipun bukan lo yang salah.
Nah, yang ketiga ini yang bahaya. Kalau pasangan lo konsisten pakai silent treatment buat ngontrol lo — misalnya ngambek berhari-hari tiap lo nggak nurutin maunya — itu bukan lagi 'lagi emosi', itu pola manipulatif. Dan pola kayak gini nggak bakal berhenti sendiri kalau nggak pernah disadarin bareng-bareng.
Terus Harus Gimana Dong?
Pertama, jangan balas cuek dengan cuek. Dua orang yang saling diam itu kayak dua HP yang sama-sama nunggu dichat — nggak bakal ada yang connect. Kalau lo udah lebih tenang, nggak ada salahnya lo yang buka duluan. Bukan berarti lo kalah, tapi lo milih hubungan daripada gengsi.
Kedua, pas ngobrol, pakai kalimat 'aku' bukan 'kamu'. Bilang 'aku sedih pas kamu diemin aku kemarin' itu jauh lebih aman daripada 'kamu tuh selalu ngilang kalau ada masalah'. Kalimat kedua auto bikin orang defensif, dan berantem babak dua pun dimulai.
Ketiga, sepakati aturan main: boleh kok minta waktu sendiri, tapi harus bilang dan ada batasnya. Misalnya, 'kita break dulu sampai besok sore, habis itu ngobrol.' Simpel, tapi ngefek banget buat ngurangin drama tebak-tebakan.
Dan yang paling penting: kalau pola cuek-cuekan ini udah jadi siklus yang bikin lo capek secara mental, lo berhak mikir ulang soal hubungan ini. Komunikasi itu skill, dan skill bisa dipelajari — asal dua-duanya mau. Kalau cuma lo yang berjuang sendirian, itu bukan hubungan, itu proyek kelompok yang anggotanya kabur semua.
Jadi, lo tim mana: tim langsung ngobrol atau tim perang dingin dulu seminggu? Atau punya cerita horor soal silent treatment yang bikin lo auto move on? Drop di kolom komentar! Siapa tahu cerita lo bisa nyelametin bestie lain dari hubungan yang itu-itu aja.
Comments (0)