Pengadilan Hong Kong Vonis Dua Aktivis Peringatan Tiananmen
Ruang sidang Pengadilan Distrik Hong Kong tampak hening saat hakim membacakan vonis pada Jumat pagi. Lee Cheuk-yan dan Chow Hang-tung, dua tokoh senior ger
Ruang sidang Pengadilan Distrik Hong Kong tampak hening saat hakim membacakan vonis pada Jumat pagi. Lee Cheuk-yan dan Chow Hang-tung, dua tokoh senior gerakan pro-demokrasi Hong Kong, dinyatakan bersalah atas tuduhan menghasut subversi. Putusan ini menutup babak persidangan yang telah lama dinantikan banyak pihak, sekaligus membuka babak baru kekhawatiran tentang ruang gerak kebebasan berekspresi di kota yang kerap disebut sebagai jendela Tiongkok menuju dunia itu.
Lee dan Chow adalah pemimpin Hong Kong Alliance, organisasi yang kini telah dibubarkan, yang selama lebih dari tiga dekade rutin menyelenggarakan aksi berjaga tahunan untuk memperingati peristiwa berdarah 1989 di Lapangan Tiananmen, Beijing. Peristiwa yang oleh pemerintah Tiongkok disebut sebagai "insiden" itu menjadi salah satu simbol perlawanan warga Hong Kong terhadap kebijakan Beijing. Bagi banyak pihak, aksi berjaga di Victoria Park bukan sekadar ritual, melainkan penegasan identitas politik yang menolak dilupakan.
"Ini bukan hanya vonis bagi dua individu, tetapi ujian bagi masa depan kebebasan berekspresi di Hong Kong," ujar seorang pengamat hukum yang memantau persidangan sejak awal.
Perjalanan Persidangan yang Panjang
Kasus Lee Cheuk-yan dan Chow Hang-tung bukanlah perkara yang berjalan singkat. Keduanya ditangkap pada Mei 2021, di tengah gelombang penindasan terhadap gerakan pro-demokrasi Hong Kong yang menguat setelah penerapan Undang-Undang Keamanan Nasional (NSL) pada pertengahan 2020. Tuduhan yang dijatuhkan kepada mereka berkaitan dengan peran keduanya sebagai motor penggerak aksi peringatan tahunan yang oleh pengadilan dinilai sebagai upaya menghasut subversi terhadap pemerintah pusat.
Lee Cheuk-yan dikenal sebagai veteran aktivis buruh yang karismatik dengan karier politik membentang puluhan tahun, sementara Chow Hang-tung merupakan sosok yang lebih muda namun sama vokalnya dalam menyuarakan penolakan terhadap pengaruh Beijing di Hong Kong. Keduanya menolak tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa aksi yang mereka lakukan merupakan bagian dari kebebasan berpendapat yang dijamin undang-undang dasar Hong Kong.
Bellwether Kebebasan Berekspresi
Sejak awal, kasus ini dipandang sebagai tolok ukur (bellwether) kebebasan berekspresi di Hong Kong. Para pengamat memperingatkan bahwa vonis bersalah akan mengirim sinyal kuat bahwa segala bentuk peringatan publik terhadap peristiwa 1989, sekecil apa pun bentuknya, dapat berujung pada pidana. Pesan itu, menurut mereka, justru datang pada saat ruang sipil Hong Kong sudah menyempit drastis.
- Lee dan Chow merupakan pengurus inti Hong Kong Alliance sejak organisasi itu berdiri pada 1989.
- Aksi berjaga tahunan di Victoria Park pernah menarik puluhan ribu peserta sebelum penerapan NSL.
- Organisasi tersebut resmi dibubarkan pada 2021 setelah para anggotanya menghadapi tekanan hukum beruntun.
Kelompok hak asasi manusia internasional mengecam putusan ini. Mereka menilai hukuman terhadap aktivis yang hanya menyelenggarakan peringatan damai merupakan bentuk penyempitan ruang sipil yang kian sistematis. Sebaliknya, pemerintah Beijing menyebut putusan pengadilan sebagai bukti bahwa Hong Kong menjalankan supremasi hukum sesuai ketentuan yang berlaku, dan menolak anggapan adanya politisasi hukum.
Nasib Gerakan Pro-demokrasi Hong Kong
Vonis ini menambah deretan panjang kasus hukum yang menimpa tokoh-tokoh pro-demokrasi Hong Kong. Sejak NSL diberlakukan, ratusan aktivis, pengacara, jurnalis, hingga politisi oposisi telah ditangkap dan diadili. Hong Kong Alliance sendiri — organisasi yang menjadi saksi gelombang perlawanan sejak 1989 — telah bubar, dan para pemimpinnya kini berhadapan dengan hukuman yang menanti. Bagi banyak warga Hong Kong, putusan ini adalah pukulan emosional yang mendalam, karena Victoria Park selama ini menjadi satu-satunya ruang publik untuk mengenang ribuan korban peristiwa 1989.
"Kami mungkin kehilangan ruang untuk berkumpul, tetapi kami tidak akan kehilangan ingatan," kata seorang simpatisan yang berdiri di luar pengadilan dengan mata berkaca-kaca.
Apa Langkah Selanjutnya?
Sidang penetapan hukuman (sentencing) diperkirakan akan digelar dalam beberapa pekan mendatang. Tim kuasa hukum Lee dan Chow menyatakan akan mengajukan banding atas vonis ini. Namun, di tengah lanskap hukum yang telah berubah drastis sejak 2020, harapan untuk membalikkan putusan dinilai tipis oleh sebagian besar pengamat yang mengikuti perkembangan kasus ini.
Terlepas dari hasil akhir yang akan ditetapkan pengadilan, kasus ini telah menegaskan satu hal: harga yang harus dibayar untuk menyuarakan penolakan di Hong Kong kian mahal. Pertanyaan besar yang kini menggantung adalah sejauh mana ruang sipil di kota itu masih bisa bertahan di bawah tekanan yang terus menguat, dan apakah masih ada ruang bagi perbedaan pendapat yang damai di bawah rezim hukum yang baru.
[SOCIAL_TWEET]: Pengadilan Hong Kong vonis dua aktivis peringatan Tiananmen bersalah atas tuduhan menghasut subversi. Kasus ini disebut tolok ukur kebebasan berekspresi di kota itu. #HongKong #Tiananmen[SOCIAL_TG]: Pengadilan Hong Kong vonis dua pemimpin Hong Kong Alliance atas tuduhan subversi terkait aksi peringatan Tiananmen. Banding direncanakan, tapi harapan tipis. Baca selengkapnya di Warkini.com.
Comments (0)