Nama Sam Altman kembali mencuri perhatian, kali ini bukan karena peluncuran model AI terbaru, melainkan karena gagasan yang terdengar seperti fiksi ilmiah: mengunggah pikiran manusia ke dalam komputer. Framing itu muncul dalam pemberitaan media teknologi yang menyandingkan sosok CEO OpenAI tersebut dengan ambisi besar soal masa depan kesadaran manusia. Bagi sebagian orang ide ini terdengar gila, tapi bagi Altman, itu bagian dari obsesi panjangnya soal bagaimana manusia dan mesin akhirnya menyatu.
Altman bukan nama kemarin di dunia teknologi. Pria kelahiran Chicago 1985 ini sempat kuliah di Stanford sebelum keluar, membangun startup Loopt, lalu memimpin Y Combinator selama lima tahun dan mengubahnya menjadi inkubator startup paling berpengaruh di dunia. Sejak 2019 ia memimpin OpenAI, perusahaan yang melahirkan ChatGPT dan mendorong istilah artificial general intelligence masuk ke ruang obrolan publik.
Gagasan "The Merge" yang Sudah Lama Ia Tulis
Wacana soal mengunggah otak sebenarnya bukan hal baru bagi Altman. Dalam esainya yang berjudul The Merge, ia sudah membayangkan bahwa manusia dan mesin akan berbaur, bukan saling mengalahkan. Baginya, skenario paling mungkin bukan robot yang menghabisi manusia, melainkan manusia yang perlahan melebur dengan kecerdasan buatan.
“Kemungkinan besar kita akan menyatu dengan mesin,” tulis Altman dalam esai The Merge, seraya menyebut bahwa proses itu bisa berlangsung lebih cepat dari yang dibayangkan banyak orang.
Visinya itu sejalan dengan cara ia berbicara soal masa depan. Pada 2024, lewat tulisan bertajuk The Intelligence Age, Altman menyatakan bahwa superinteligensi bisa hadir dalam hitungan beberapa ribu hari. Kalimat itu, meski terkesan berlebihan, menunjukkan cara berpikirnya: ia melihat lompatan teknologi sebagai hal yang wajar, bukan anomali.
Bukan Sekadar Wacana: Ke Mana Uangnya Mengalir
Yang membuat gagasan Altman tak bisa diremehkan begitu saja adalah jejak investasinya. Ia dikenal gemar menaruh uang di proyek-proyek jangka sangat panjang, bahkan yang secara ilmiah masih jauh dari kenyataan.
- Retro Biosciences — perusahaan bioteknologi yang ia danai sekitar US$180 juta untuk meneliti cara memperpanjang umur manusia.
- Helion Energy — startup fusi nuklir yang ia dukung lewat pendanaan besar, dengan target energi bersih nyaris tak terbatas.
- Antarmuka otak-komputer — sektor yang ia pantau ketat, seiring tumbuhnya perusahaan seperti Neuralink dan riset akademik soal koneksi saraf langsung ke mesin.
- OpenAI — laboratorium AI yang ia yakini sebagai kendaraan menuju kecerdasan buatan tingkat lanjut.
Antara Visi dan Realitas Ilmiah
Meski begitu, para ahli neurosains mengingatkan bahwa mengunggah pikiran tidak semudah memindahkan file. Otak manusia punya sekitar 86 miliar neuron dengan koneksi yang jumlahnya mencapai triliunan. Memetakan seluruhnya — yang dikenal dengan istilah connectome — saja butuh teknologi yang belum ada. Belum lagi pertanyaan besar: apakah salinan digital dari pola saraf bisa disebut sebagai "kita"?
Kritikus menilai narasi semacam ini berisiko menciptakan ekspektasi palsu, seolah kematian bisa dikalahkan dengan upload ke server. Sebaliknya, pendukung melihatnya sebagai arah riset yang wajar dan layak dibiayai, meski hasilnya baru terlihat puluhan tahun ke depan.
Yang jelas, figur seperti Sam Altman punya pengaruh besar dalam menentukan ke mana uang dan talenta mengalir. Selama ia masih bersuara soal penyatuan manusia dan mesin, perdebatan soal batas antara pikiran, tubuh, dan komputer akan terus hidup — bukan hanya di laboratorium, tapi juga di ruang publik.
Comments (0)