Bayangin lo lihat sawah yang biasanya hijau berundak-undak, sekarang jadi tanah kering yang retakannya bisa masukin kaki. Itu yang terjadi di kawasan Weninggalih, Jonggol, Jawa Barat. Foto-foto yang beredar Selasa kemarin nunjukin pemandangan yang bikin hati nyess: sapi dan kambing warga pada digembalain di atas sawah yang udah berubah kayak gurun mini. Bukan lagi tempat nandur padi, sekarang jadi lapangan penggembalaan dadakan. Parah sih, ini bukan sekadar musim kemarau biasa.
Fenomena El Nino yang lagi ngegas di 2026 ini emang jadi biang keroknya. BMKG udah warning dari jauh-jauh hari kalau kemarau tahun ini bakal lebih kering dari biasanya. Tapi tetep aja, realita di lapangan bikin nggak nyangka. Sawah yang jadi sumber hidup ratusan keluarga petani di Jonggol sekarang nganggur total. Nggak ada air, nggak ada padi, nggak ada penghasilan.
Dari Lumbung Padi Jadi Kuburan Tanah
Jonggol selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung padi di Jawa Barat. Tapi El Nino kayak nggak kasih ampun. Debit air dari saluran irigasi turun drastis, bahkan beberapa titik udah kering total sejak awal Agustus. Petani yang biasanya sibuk tandur, sekarang cuma bisa duduk di gubuk sawah sambil ngeliatin tanahnya pecah-pecah. Salfok banget sama retakan yang lebarnya bisa beberapa senti.
"Biasanya bulan ini udah mulai tandur, sekarang cuma bisa ngelus dada. Air nggak ada, kalau dipaksa tanam ya pasti mati."
Kalimat itu kayak ngewakilin perasaan petani di sana. Mereka udah coba berbagai cara, dari nyedot air tanah pakai pompa sampai ngatur jadwal tanam. Tapi tetep aja, alam nggak bisa diajak kompromi. Beberapa petani bahkan udah beralih jadi penggembala buat nutup kebutuhan sehari-hari. Plot twist-nya, sawah yang dulu jadi kebanggaan sekarang jadi tempat ternak nyari rumput kering.
El Nino Bukan Cuma Soal Cuaca, Tapi Domino Effect
Bestie, El Nino ini ibarat red flag yang udah keliatan dari awal tapi kita cuma bisa pasrah. Dampaknya bercabang ke mana-mana. Pertama, produksi padi turun. Kedua, harga beras di pasar mulai merangkak naik. Ketiga, petani yang udah nggak punya penghasilan terpaksa ngutang buat makan. Belum lagi anak-anak petani yang sekolahnya jadi terancam karena biaya.
Pemerintah sebenernya udah nyiapin beberapa program bantuan, kayak bantuan benih tahan kering dan asuransi pertanian. Tapi di lapangan, distribusinya seringkali nggak tepat sasaran. Ada yang bilang bantuannya telat, ada juga yang nggak kebagian sama sekali. Literally, mereka butuh solusi jangka pendek dan panjang sekaligus.
Kalo lo mikir ini cuma masalah Jonggol, salah besar. Beberapa daerah lain di Jawa Barat dan Jawa Tengah juga mulai ngalamin hal serupa. El Nino emang lagi jadi tamu nggak diundang yang bikin semua orang pusing. Tapi ada satu hal yang bikin sedikit lega: beberapa komunitas muda di Jonggol mulai gercep bikin gerakan ngumpulin donasi air bersih dan bibit tahan kering. Green flag banget buat anak-anak muda yang peduli.
Yang Bisa Lo Lakuin (Nggak Cuma Scroll Doang)
Kita yang nggak tinggal di Jonggol mungkin ngerasa jauh. Tapi inget, beras yang lo makan tiap hari itu dari sawah kayak gini. Kalo sawahnya kering, harga beras naik, dan ujung-ujungnya dompet lo juga kena imbasnya. Jadi ini masalah kita bareng-bareng.
Lo bisa mulai dari hal kecil: hemat air, kurangi food waste, dan support produk lokal dari petani. Kalo ada komunitas yang ngadain penggalangan dana buat daerah kekeringan, gas pol ikutan. Jangan cuma jadi penonton di timeline doang.
Pertanyaannya sekarang: sampai kapan petani Jonggol harus bertahan dengan kondisi kayak gini? Dan yang lebih penting, apa kita cuma bisa nonton sambil bilang "kasian" doang? Drop pendapat lo di kolom komentar, bestie!
Comments (0)