Sebuah tangkapan layar berisi klaim berbahaya kembali beredar di media sosial Facebook.

Awal Mula Penyebaran dan Konten Hoaks Berdasarkan pantauan Warkini.com, unggahan berbentuk tangkapan layar tersebut mulai ramai dibagikan pada awal pekan

Sebuah tangkapan layar berisi klaim berbahaya kembali beredar di media sosial Facebook.

Awal Mula Penyebaran dan Konten Hoaks

Berdasarkan pantauan Warkini.com, unggahan berbentuk tangkapan layar tersebut mulai ramai dibagikan pada awal pekan ini. Dalam gambar yang beredar, terlihat narasi yang menginfokan bahwa aerator akuarium yang dijual bebas di pasaran mampu memberikan suplai oksigen murni layaknya konsentrator oksigen medis. Klaim tersebut ditulis dengan bahasa sederhana seolah memberikan solusi murah bagi pasien yang kesulitan mendapatkan perawatan medis.

  1. Akun Facebook anonim mengunggah tangkapan layar berisi anjuran penggunaan aerator akuarium sebagai alternatif alat oksigen medis.
  2. Dalam keterangan unggahan, disebutkan bahwa perangkat bernilai Rp50.000 hingga Rp150.000 itu dapat membantu penderita sesak napas tanpa perlu ke rumah sakit.
  3. Unggahan tersebut kemudian dibagikan oleh puluhan akun lain dalam waktu singkat, menjangkau ribuan kali tayang sebelum akhirnya dilaporkan.
  4. Sejumlah warganet yang tidak mengetahui risiko kesehatan justru memberikan komentar positif dan menandai kerabatnya sebagai bentuk tips kesehatan.

Bedah Teknis dan Klarifikasi Ahli Kesehatan

Pakar pernapasan dan teknisi peralatan medis langsung membantah keras klaim yang beredar tersebut. Mereka menegaskan bahwa aerator akuarium dan konsentrator oksigen medis bekerja pada prinsip yang sangat berbeda. Jika aerator hanya memindahkan udara ambien ke dalam air dengan bantuan pompa, konsentrator oksigen medis menggunakan teknologi filtrasi molekular untuk menghasilkan oksigen murni dengan kadar kemurnian 90 hingga 95 persen.

  1. Dokter paru menegaskan bahwa pasien dengan sesak napas akut membutuhkan oksigen dengan kadar kemurnian tinggi, bukan sekadar aliran udara biasa.
  2. Penggunaan aerator akuarium pada manusia berisiko memasukkan bakteri, partikel, dan kontaminan lain ke saluran pernapasan karena tidak dilengkapi sistem filtrasi medis.
  3. Alat oksigen medis harus memenuhi standar ISO 80601-2-69 dan sertifikasi Kementerian Kesehatan, sementara aerator akuarium hanya memenuhi standar kelistrikan umum.
  4. Kecepatan aliran oksigen medis dapat diatur antara 1 hingga 5 liter per menit sesuai kebutuhan pasien, sedangkan aerator tidak memiliki mekanisme regulasi aliran untuk terapi pernapasan.

Risiko Fatal dan Imbauan Pihak Berwenang

Penyebaran informasi keliru terkait pengobatan sesak napas bukan tanpa konsekuensi. Pengamat kesehatan digital menyebutkan bahwa hoaks semacam ini termasuk dalam kategori misinformasi berbahaya yang dapat menyebabkan kematian. Pasien yang seharusnya segera dibawa ke fasilitas kesehatan justru menunda penanganan karena mengandalkan solusi di rumah yang tidak scientifically proven.

  1. Kementerian Kesehatan dan IDI secara berkala mengingatkan masyarakat untuk tidak percaya pada pengobatan alternatif tanpa dasar ilmiah, terutama untuk kondisi gawat darurat.
  2. Berdasarkan UU ITE, penyebaran hoaks kesehatan dapat dikenakan sanksi pidana dengan ancaman hukuman penjara maksimal enam tahun dan denda Rp1 miliar.
  3. Dinas Kesehatan setempat mengimbau keluarga pasien untuk segera membawa penderita sesak napas ke unit gawat darurat jika saturasi oksigen di bawah 94 persen.
  4. Platform media sosial diminta lebih proaktif menurunkan konten kesehatan yang tidak terverifikasi demi mencegah korban jiwa akibat tindakan penundaan medis.

Masyarakat diimbau untuk selalu memverifikasi setiap informasi kesehatan melalui kanal resmi pemerintah atau tenaga medis profesional. Penggunaan perangkat nonmedis untuk kebutuhan terapi oksigen tidak hanya tidak efektif, tetapi juga dapat memperparah kondisi pasien hingga berakibat fatal. Disiplin dalam menyaring konten digital menjadi tanggung jawab bersama guna melindungi keluarga dan lingkungan dari ancaman hoaks kesehatan.

[SOCIAL_TWEET]: Hoaks bahaya! Aerator akuarium diklaim bisa jadi alat oksigen medis. Dokter: risiko fatal, bukan oksigen murni. #CekFakta[SOCIAL_TG]: 🚨 Cek Fakta: Aerator akuarium DIBOHONGI bisa jadi alat oksigen. Ini penjelasan dokter paru dan risiko kematiannya. Baca selengkapnya 👇

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bobby-hartono

Editor Lifestyle. Mantan editor majalah lifestyle. Fokus pada tren, gaya hidup urban, dan budaya pop.

Comments (0)

User