Survei: Kelelahan Pengemudi Jadi Faktor Utama Kecelakaan di Jalan Tol
Jakarta – Sebuah studi nasional yang dirilis oleh Pusat Kajian Transportasi dan Keselamatan Jalan (PKTKJ) mengungkap temuan mengejutkan: kelelahan pengemudi kini mendominasi sebagai pemicu utama kec...
Jakarta – Sebuah studi nasional yang dirilis oleh Pusat Kajian Transportasi dan Keselamatan Jalan (PKTKJ) mengungkap temuan mengejutkan: kelelahan pengemudi kini mendominasi sebagai pemicu utama kecelakaan di jalan tol, menggeser faktor kecepatan tinggi dan penggunaan ponsel yang sebelumnya kerap dianggap biang keladi. Riset yang melibatkan 1.500 responden pengemudi mobil pribadi dan angkutan barang ini menyebutkan bahwa 52 persen insiden tabrakan tunggal maupun beruntun di ruas tol sepanjang 2025 berkaitan erat dengan microsleep dan penurunan daya konsentrasi akibat lelah berkendara.
Riset Komprehensif Selama Enam Bulan
Ketua tim peneliti PKTKJ, dr. Rina Kusumawardhani, menjelaskan bahwa pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, simulasi mengemudi di laboratorium, serta analisis rekaman kamera dasbor dari 200 kendaraan sukarelawan. Hasilnya, pengemudi yang menempuh perjalanan lebih dari empat jam tanpa istirahat menunjukkan waktu reaksi 40 persen lebih lambat saat menghadapi situasi darurat, setara dengan seseorang yang mengonsumsi alkohol dalam kadar rendah. “Kami menemukan bahwa efek kelelahan kumulatif sering kali tidak disadari pengemudi. Mereka merasa masih bisa mengendalikan setir, tetapi otak sudah memasuki mode istirahat yang membuat keputusan di jalan menjadi fatal,” ujarnya dalam konferensi pers daring, Kamis (12/6).
Profil Pengemudi Rentan dan Pola Kecelakaan
Data PKTKJ juga memetakan kelompok paling rentan, yakni pekerja shift malam yang memaksakan diri pulang ke luar kota usai jam kerja, serta sopir logistik yang mengejar target waktu pengiriman. Kecelakaan akibat kelelahan umumnya terjadi pada pukul 02.00–05.00 dini hari dan 14.00–16.00 siang, saat ritme sirkadian tubuh berada pada titik terendah. Lebih lanjut, 68 persen responden yang pernah mengalami kecelakaan mengaku sempat mengabaikan tanda-tanda fisik seperti mata berat, sering menguap, dan setir yang oleng karena terlena. “Plot twist-nya, sebagian besar justru memilih menaikkan volume musik atau membuka kaca jendela alih-alih menepi, padahal cara itu hanya memberi efek segar sesaat,” tambah Rina.
Rekomendasi untuk Pengemudi dan Regulator
Laporan tersebut merekomendasikan agar pengelola jalan tol menambah titik rest area setiap 30 kilometer serta menyediakan fasilitas tidur singkat berbayar yang higienis. Bagi pengemudi pribadi, peneliti menyarankan teknik istirahat 15–20 menit setiap dua jam perjalanan dan tidak mengandalkan kafein sebagai solusi jangka panjang. Sementara itu, Kementerian Perhubungan disebut tengah mengkaji aturan baru yang mewajibkan kendaraan niaga jarak jauh memasang sensor deteksi kelelahan berbasis kamera. “Kami berharap temuan ini mendorong perubahan perilaku kolektif. Kelelahan bukan tanda kelemahan, melainkan sinyal biologis yang wajib dihormati,” tutup Rina.
Survei ini menjadi pengingat keras bahwa mengabaikan power nap dan memaksakan terus melaju bisa berujung petaka. Regulasi yang lebih ketat serta edukasi publik yang masif diharapkan mampu menekan angka kecelakaan di jalan tol, menjadikan perjalanan aman dan selamat sampai tujuan.
Comments (0)