Wabup Soppeng Serukan Pengurangan Plastik demi Kelestarian Lejja
SOPPENG — Wakil Bupati Soppeng, Ir. Selle KS Dalle, menyerukan pengurangan drastis penggunaan plastik sekali pakai kepada seluruh lapisan masyarakat dalam
SOPPENG — Wakil Bupati Soppeng, Ir. Selle KS Dalle, menyerukan pengurangan drastis penggunaan plastik sekali pakai kepada seluruh lapisan masyarakat dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup (HLH) Sedunia 2025 yang digelar di Kawasan Wisata Alam (KWA) Lejja, Kecamatan Marioriawa, pada Selasa (3/6/2025). Acara yang mengusung tema "Hentikan Polusi Plastik" ini menjadi momentum strategis untuk meninjau kembali urgensi pelestarian lingkungan di tengah ancaman sampah plastik yang semakin mengkhawatirkan.
Pilihan lokasi peringatan di KWA Lejja bukan tanpa alasan. Kawasan konservasi yang terletak di wilayah administratif Kecamatan Marioriawa ini menyimpan kekayaan biodiversitas dan fenomena geologi berupa sumber mata air panas alami yang telah menjadi ikon pariwisata unggulan Kabupaten Soppeng. Dalam sambutannya, Wabup Selle menekankan bahwa keberlangsungan daya tarik wisata Lejja sangat bergantung pada kualitas ekosistem hutan konservasi yang mengelilinginya. Menurutnya, degradasi lingkungan akibat akumulasi sampah plastik dapat mengancam keberadaan sumber daya alam yang selama ini menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang.
"Air panas Lejja dikenal jernih, asri, dan tidak berbau menyengat. Ini adalah anugerah yang harus kita rawat bersama, agar bisa dinikmati juga oleh anak cucu kita di masa depan," ujar Wabup Selle dalam kesempatan tersebut. Pernyataan tersebut sekaligus mengingatkan bahwa kelestarian sumber air panas alami tidak terlepas dari kondisi hulu DAS dan tutupan lahan hutan yang terjaga. Plastik sekali pakai yang dibuang sembarangan tidak hanya merusak estetika kawasan wisata, tetapi juga berpotensi mencemari tanah dan sumber air, yang pada gilirannya dapat mengubah kualitas air panas alami tersebut.
Wabup Selle juga menegaskan bahwa upaya konservasi di kawasan Lejja tidak dapat dilaksanakan secara unilateral oleh pemerintah daerah semata. Konservasi yang efektif memerlukan keterlibatan aktif dari seluruh pemangku kepentingan, mulai dari aparat negara, pelaku usaha pariwisata, komunitas lokal, hingga wisatawan yang berkunjung. Partisipasi masyarakat menjadi kunci utama dalam menekan laju polusi plastik yang saat ini menjadi salah satu ancaman lingkungan terbesar di dunia, termasuk di wilayah Soppeng.
Dampak Plastik terhadap Ekosistem dan Pariwisata Berkelanjutan
Polusi plastik telah menjadi isu global yang memerlukan perhatian serius dari pemerintah daerah. Data Badan Lingkungan Hidup menunjukkan bahwa Indonesia menyumbang kontribusi signifikan terhadap sampah plastik di lautan dunia. Di tingkat lokal, akumulasi plastik di kawasan wisata alam seperti Lejja dapat mengurangi nilai estetika, mengganggu kenyamanan pengunjung, dan merusak habitat satwa liar yang menjadi bagian dari ekosistem hutan konservasi. Lebih dari itu, mikroplastik yang terbawa aliran air berpotensi mencemari sumber mata air panas yang menjadi daya tarik utama kawasan tersebut.
Dalam konteks pariwisata berkelanjutan, kebersihan dan kelestarian lingkungan merupakan prasyarat mutlak. Kawasan wisata yang tercemar plastik akan kehilangan daya saing dan berisiko mengalami penurunan kunjungan wisatawan. Hal ini tentu berdampak langsung pada pendapatan daerah dan kesejahteraan masyarakat lokal yang menggantungkan hidupnya pada sektor pariwisata. Oleh karena itu, kampanye pengurangan plastik sekali pakai di KWA Lejja bukan sekadar aksi simbolis, melainkan investasi jangka panjang untuk menjaga motor penggerak ekonomi wilayah.
| Aspek | Tanpa Pengelolaan Plastik | Dengan Konservasi Aktif |
|---|---|---|
| Kualitas Air Panas | Berisiko tercemar mikroplastik dan limbah organik | Terjaga jernih, jernih, dan bebas pencemaran kimia |
| Kunjungan Wisatawan | Menurun drastis akibat kondisi kumuh dan bau tidak sedap | Meningkat secara berkelanjutan dengan daya tarik alami |
| Ekosistem Hutan Konservasi | Rusak akibat akumulasi sampah dan gangguan habitat | Tetap terjaga dengan biodiversitas yang lestari |
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Masa Depan Lejja
Pemerintah Kabupaten Soppeng membuktikan komitmennya dengan menghadirkan berbagai pihak dalam peringatan HLH Sedunia kali ini. Acara ini turut dihadiri oleh anggota Forkopimda Kabupaten Soppeng, para kepala SKPD, serta Pasukan Kuning dari Dinas Lingkungan Hidup. Kehadiran aktor-aktor tersebut menggambarkan kolaborasi nyata lintas sektor yang diperlukan untuk menjawab tantangan lingkungan kompleks. Forkopimda sebagai garda terdepan keamanan dan ketertiban memberikan jaminan perlindungan kawasan, sementara SKPD terkait memastikan kebijakan teknis dan anggaran untuk pengelolaan lingkungan berjalan optimal.
Keikutsertaan Pasukan Kuning dari Dinas Lingkungan Hidup juga menandakan adanya personel khusus yang fokus pada penegakan aturan dan edukasi kebersihan di tingkat lapangan. Keberadaan satgas lingkungan seperti Pasukan Kuning menjadi penting untuk memastikan bahwa kebijakan pengurangan plastik tidak hanya tinggal di atas kertas, tetapi benar-benar diimplementasikan dalam praktik sehari-hari di kawasan wisata dan pemukiman sekitarnya. Edukasi kepada pengunjung, pemasangan tanda larangan membuang sampah sembarangan, dan sosialisasi penggunaan kantong ramah lingkungan menjadi beberapa langkah konkret yang dapat diperkuat ke depannya.
Wabup Selle menambahkan bahwa generasi mendatang berhak mendapatkan warisan alam yang setidaknya sama baiknya dengan kondisi yang dinikmati generasi sekarang. Oleh karena itu, perubahan perilaku masyarakat dalam mengonsumsi dan membuang plastik harus dilakukan segera. Gerakan membawa tumbler pribadi, menolak sedotan plastik, dan menggunakan kantong belanja kain perlu didorong menjadi gaya hidup, bukan lagi sekadar tren sesaat. Dengan demikian, KWA Lejja dapat terus berfungsi sebagai paru-paru daerah sekaligus destinasi wisata yang memberikan manfaat ekonomi dan ekologis secara berimbang.
Pada kesempatan yang sama, peserta peringatan HLH Sedunia juga
Comments (0)