Bayangkan sudah berpraktik sebagai pengacara selama lebih dari empat dekade, namun reputasi panjang tersebut mendadak tercoreng hanya karena kecerobohan memahami teknologi kecerdasan buatan (AI). Kejadian menggelikan sekaligus tragis ini sungguh-sungguh terjadi di New Mexico, Amerika Serikat. Seorang pengacara senior harus menelan pil pahit dijatuhi sanksi hukum berat setelah menyerahkan berkas pembelaan yang dipenuhi fakta fiktif dan saksi buatan—yang sepenuhnya diarang oleh chatbot ChatGPT.
Pengacara kawakan tersebut bernama Stephen Aarons. Ia sebelumnya disewa oleh keluarga seorang terdakwa bernama Oscar Renee Sandoval untuk mengajukan proses banding. Sandoval sendiri pada Februari 2025 lalu telah divonis hukuman penjara seumur hidup ditambah 4,5 tahun setelah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan pembunuhan tingkat pertama terhadap pasangannya, Shiereen Al-Jibury. Berharap bisa meringankan atau membatalkan vonis kliennya, Aarons mengambil jalan pintas dengan memanfaatkan ChatGPT untuk menyusun draf dokumen hukum banding tersebut.
Ketika Kecerdasan Buatan Mengarang Bebas di Ruang Sidang
Niat hati ingin mengefisiensikan pekerjaan, Aarons justru melakukan kesalahan mendasar yang fatal dalam etika profesi advokat. Ia menandatangani dan memfaktualkan berkas banding utama (*brief in chief*) ke pengadilan tanpa melakukan verifikasi atau pengecekan ulang terhadap klaim fakta dan referensi hukum yang ditulis oleh AI tersebut. Aarons juga sama sekali tidak menginformasikan kepada kliennya bahwa dokumen itu disusun oleh kecerdasan buatan.
Mahkamah Agung New Mexico dibuat terperanjat saat memeriksa berkas yang diajukan Aarons. Di dalam dokumen persidangan itu, ChatGPT menyisipkan kesaksian palsu dari pihak kepolisian serta nama-nama saksi yang sepenuhnya fiktif. Fenomena penyampaian informasi bohong yang dikemas secara meyakinkan oleh AI ini dikenal luas dalam dunia teknologi sebagai hallucination (halusinasi AI).
"Saya benar-benar tidak tahu bahwa AI bisa mengarang fakta dan mengutip hal yang tidak pernah ada," aku Stephen Aarons di hadapan majelis hakim, sebuah pengakuan yang ironis bagi seorang advokat berteknik tinggi.
Sanksi Tegas dan Kurangnya Empati
Mahkamah Agung New Mexico dalam amar putusannya secara tegas menyatakan Stephen Aarons bersalah atas penghinaan langsung terhadap pengadilan (*direct contempt of court*). Pengadilan tinggi negara bagian tersebut lantas merujuk Aarons ke dewan disiplin advokat untuk menjalani tindakan korektif dan sanksi etik lebih lanjut. Majelis hakim menyimpulkan bahwa tindakan Aarons tidak hanya merusak marwah peradilan, tetapi juga menunjukkan kurangnya rasa penyesalan serta pengabaian yang nyata terhadap nasib kliennya sendiri.
Berikut adalah perbandingan ringkas antara penyusunan risalah hukum konvensional dengan penggunaan AI tanpa verifikasi manusia seperti yang dilakukan Aarons:
| Aspek Analisis | Riset Hukum Konvensional | Risalah Hasil ChatGPT (Tanpa Verifikasi) |
|---|---|---|
| Keabsahan Saksi | Berdasarkan BAP dan kesaksian fakta di persidangan | Berisiko memuat saksi fiktif / buatan AI |
| Rujukan Yurisprudensi | Mengutip putusan hakim dan UU yang nyata valid | Rentan menciptakan nomor pasal dan kasus palsu |
| Tanggung Jawab Etik | Advokat memeriksa ketelitian tiap paragraf | Kelalaian fatal yang berujung sanksi contempt of court |
Pelajaran Berharga bagi Dunia Hukum Modern
Kejadian yang menimpa Stephen Aarons menjadi alarm keras bagi komunitas hukum di seluruh dunia. Generatif AI seperti ChatGPT memang mampu merangkai kata dengan gaya bahasa akademik dan hukum yang sangat meyakinkan. Namun, tanpa pengawasan ketat dari manusia yang kompeten, keluaran teknologi tersebut bisa sangat menyesatkan.
Fakta kunci dari kasus ini menegaskan bahwa masa kerja 40 tahun tidak menjadi jaminan bahwa seseorang kebal dari kesalahan fatal akibat ketidaktahuan teknologi. Bagi para profesional, kejujuran etis dan validasi fakta tetap merupakan benteng utama yang tidak bisa digantikan oleh algoritma komputer mana pun.
Comments (0)