warkini.
Travel

Australia Tangguhkan Pendaftaran Mahasiswa Asing untuk Program Manajemen Tertentu

Pemerintah Australia kembali mengambil langkah tegas dalam merombak sistem pendidikan internasional dan kebijakan imigrasinya. Kali ini, otoritas setempat

Australia Tangguhkan Pendaftaran Mahasiswa Asing untuk Program Manajemen Tertentu

Pemerintah Australia kembali mengambil langkah tegas dalam merombak sistem pendidikan internasional dan kebijakan imigrasinya. Kali ini, otoritas setempat resmi menangguhkan pendaftaran mahasiswa internasional untuk program studi manajemen tertentu. Kebijakan ini diberlakukan guna menutup celah hukum yang kerap dimanfaatkan para pendatang untuk mengamankan status Permanent Residency (PR) atau izin tinggal tetap di Negeri Kanguru tersebut.

Menutup Celah 'Jalur Belakang' Menuju Izin Tinggal Tetap

Selama beberapa tahun terakhir, sejumlah kursus kejuruan dan program pelatihan manajemen tingkat diploma hingga sertifikat lanjutan disinyalir menjadi sarana favorit bagi sebagian pendatang untuk memperpanjang masa tinggal. Banyak pihak mendaftar bukan demi meningkatkan kualifikasi akademik yang sesungguhnya, melainkan sekadar mempertahankan status visa kerja sambilan sambil menunggu peluang mendapatkan visa tinggal permanen.

Kementerian Pendidikan dan Departemen Dalam Negeri Australia menilai praktik ini mencederai integritas sistem pendidikan nasional mereka yang selama ini dikenal bereputasi tinggi di tingkat global.

"Kami tidak ingin institusi pendidikan dijadikan batu loncatan yang disalahgunakan untuk tujuan migrasi semata. Pendidikan berkualitas tinggi harus tetap menjadi prioritas utama bagi setiap pelajar asing yang datang ke Australia," tegas perwakilan otoritas imigrasi Australia dalam keterangan resminya.

Bagian dari Reformasi Besar Sistem Migrasi

Langkah penangguhan ini merupakan kelanjutan dari strategi komprehensif pemerintah Australia untuk memangkas jumlah migran neto tahunan yang sempat melonjak tajam pascapandemi. Australia kini menerapkan pengawasan super ketat terhadap lembaga pendidikan nonformal, perguruan tinggi swasta kategori risiko tinggi, serta institusi kejuruan yang dinilai tidak memberikan kontribusi nyata bagi kebutuhan keterampilan tenaga kerja lokal.

Beberapa poin penting dari kebijakan pengetatan studi internasional yang sedang berjalan meliputi:

  • Penangguhan kursus berisiko: Menghentikan sementara penerimaan mahasiswa asing pada kursus manajemen dan bisnis umum yang terindikasi rawan eksploitasi visa.
  • Pemberlakuan Genuine Student Test (GST): Penilaian ketat terhadap niat murni calon mahasiswa dan relevansi program studi dengan rencana karier mereka di negara asal.
  • Peningkatan standar kemampuan bahasa: Menaikkan syarat skor minimal tes kemahiran bahasa Inggris (seperti IELTS) untuk pendaftaran visa pelajar dan visa pascastudi.
  • Pembatasan jam kerja dan biaya visa: Menaikkan biaya permohonan visa pelajar secara signifikan guna menyeleksi kandidat yang benar-benar siap secara finansial.

Dampak Nyata bagi Calon Mahasiswa Internasional

Kebijakan anyar ini tentu menjadi peringatan penting bagi calon mahasiswa internasional, termasuk dari Indonesia, yang berencana melanjutkan studi ke Australia. Pelajar kini dituntut untuk jauh lebih selektif dalam memilih penyedia pendidikan (education provider) serta program studi yang diambil.

Para pakar pendidikan menyarankan agar calon mahasiswa memprioritaskan program bergelar sarjana (bachelor) atau pascasarjana (master) di universitas terakreditasi resmi, alih-alih mengambil kursus singkat kejuruan berbiaya murah yang kini berada di bawah pengawasan ketat pemerintah. Dengan pendekatan ini, peluang memperoleh visa studi akan jauh lebih terbuka tanpa terganjal regulasi imigrasi yang kian ketat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kimberly-sutanto

Reporter Hiburan. Meliput film, musik, dan selebriti Indonesia.

Comments (0)

User