warkini.
Viral

JAKARTA — Presiden PKS Ingatkan Mitigasi Bencana Lewat Kisah Nabi Yusuf

Bencana alam sering kali datang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Di negara yang dikelilingi jalur cincin api (*ring of fire*) seperti Indonesia, kesia

JAKARTA — Presiden PKS Ingatkan Mitigasi Bencana Lewat Kisah Nabi Yusuf

Bencana alam sering kali datang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Di negara yang dikelilingi jalur cincin api (*ring of fire*) seperti Indonesia, kesiapsiagaan menghadapi ancaman alam bukanlah sekadar pilihan opsional, melainkan sebuah kebutuhan mutlak yang mendesak. Dalam sebuah webinar edukasi mitigasi bencana yang digelar baru-baru ini, Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Almuzzammil Yusuf (AMY), menyampaikan pesan mendalam mengenai pentingnya membangun budaya preventif di tengah masyarakat.

Mengaitkan ajaran keagamaan dengan tata kelola krisis modern, Almuzzammil menyoroti narasi sejarah monumental Nabi Yusuf Alaihissalam yang terabadikan dalam Al-Qur'an. Menurutnya, kisah tersebut bukan sekadar cerita spiritual masa lalu, melainkan sebuah masterpiece strategi mitigasi krisis dan manajemen risiko pertama yang tercatat dalam peradaban manusia.

Belajar dari Sejarah: Strategi Nabi Yusuf Menghadapi Krisis

Dalam pemaparannya, Almuzzammil mengingatkan bagaimana Nabi Yusuf mengelola visi jangka panjang ketika menghadapi ancaman kelaparan besar yang melanda Mesir. Dengan perencanaan yang sangat matang pada masa-masa panen berlimpah selama tujuh tahun pertama, krisis hebat pada tujuh tahun berikutnya berhasil dilewati tanpa mengorbankan stabilitas rakyat.

"Kisah Nabi Yusuf Alaihissalam dalam Al-Qur'an adalah pelajaran berharga tentang pentingnya mitigasi dan perencanaan jangka panjang. Beliau tidak menunggu kekeringan datang baru berpikir mencari makan, tetapi sudah menabung dan menyiapkan lumbung pangan sejak tahun-tahun kelimpahan," tegas Almuzzammil Yusuf.

Ia menekankan bahwa keberhasilan sebuah bangsa dalam mengatasi bencana sangat ditentukan oleh apa yang dilakukan jauh sebelum krisis itu terjadi. Jika suatu negara hanya mengandalkan penanganan pascabencana, maka biaya sosial, ekonomi, dan jiwa yang harus ditanggung akan selalu membengkak.

Mengubah Pola Pikir: Dari Reaktif Menjadi Preventif

Selama ini, pola penanganan bencana di Tanah Air masih sering terjebak pada pendekatan yang bersifat reaktif. Ketika banjir bandang, tanah longsor, atau gempa bumi melanda, barulah segenap elemen sibuk memberikan bantuan logistik dan evakuasi emergency. Padahal, investasi pada tahap preventif jauh lebih murah dan efektif untuk menekan angka korban jiwa.

Pendekatan Fokus Utama Dampak Biaya & Korban
Reaktif (Darurat) Evakuasi pascabencana, bantuan logistik, rehabilitasi fisik Kerugian materiil tinggi, risiko korban jiwa sangat besar
Preventif (Mitigasi) Edukasi warga, infrastruktur tahan gempa, sistem peringatan dini Investasi awal terukur, menekan potensi korban jiwa secara drastis

Melihat perbandingan tersebut, perubahan paradigma dari sekadar merespon menjadi bersiap siaga harus segera dieksekusi oleh seluruh pemangku kebijakan, baik di tingkat pusat maupun daerah.

Rekomendasi Kebijakan dan Literasi Masyarakat

Lebih lanjut, Almuzzammil mendesak pemerintah untuk menjadikan mitigasi bencana sebagai salah satu prioritas nasional yang terintegrasi secara berkelanjutan. Beberapa pilar utama yang diusulkan antara lain:

  • Penguatan Alokasi Anggaran: Memastikan dana mitigasi dan pemeliharaan alat pendeteksi bencana tidak terabaikan demi proyek fisik jangka pendek.
  • Literasi Bencana Berkelanjutan: Mengintegrasikan kurikulum kesiapsiagaan bencana ke dalam sistem pendidikan formal dan pelatihan komunitas secara rutin.
  • Infrastruktur Berbasis Mitigasi: Memperketat izin tata ruang dan tata bangunan dengan memperhitungkan peta bahaya geologi di setiap daerah.
  • Sistem Peringatan Dini (Early Warning System): Modernisasi teknologi deteksi dini agar informasi potensi bahaya dapat tersampaikan secara real-time hingga ke pelosok desa.

Pada akhirnya, pesan yang disampaikan Presiden PKS ini menegaskan kembali bahwa menjaga keselamatan jiwa manusia adalah amanat konstitusi dan perintah agama yang paling utama. Meneladani strategi Nabi Yusuf berarti mengubah sudut pandang kita: mitigasi bencana bukanlah beban anggaran, melainkan investasi terbaik untuk mengamankan masa depan bangsa dari ketidakpastian alam.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS bobby-hartono

Editor Lifestyle. Mantan editor majalah lifestyle. Fokus pada tren, gaya hidup urban, dan budaya pop.

Comments (0)

User