Bepergian atau melakukan perjalanan jauh sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia sejak ribuan tahun lalu. Jika pada zaman Rasulullah SAW masyarakat melintasi padang pasir yang terik menggunakan kendaraan unta atau kuda, kini masyarakat modern bergerak cepat menggunakan mobil, kereta api, hingga pesawat terbang. Meski moda transportasinya telah bertransformasi secara drastis, kebutuhan akan rasa aman, keselamatan, dan keberkahan di perjalanan tetap menjadi hal yang utama bagi setiap muslim.
Para ulama dan praktisi religi terus mengingatkan pentingnya menjaga tradisi spiritual dalam setiap perjalanan. Membaca doa bepergian bukan sekadar rutinitas lisan, melainkan bentuk pengakuan atas keterbatasan manusia di hadapan Sang Pencipta saat menerjang jarak dan waktu.
Kronologi dan Tradisi Perjalanan pada Era Rasulullah SAW
Jika kita menengok sejarah peradaban Islam di Jazirah Arab, perjalanan jauh atau safar bukanlah perkara mudah. Medan yang berat serta ancaman badai pasir menjadikan setiap perjalanan memiliki risiko keselamatan yang sangat tinggi. Rasulullah SAW memberikan teladan nyata mengenai langkah-langkah spiritual sebelum melangkah keluar rumah.
- Persiapan Fisik dan Logistik: Rasulullah senantiasa memastikan perbekalan dan kondisi hewan tunggangan, seperti unta, dalam keadaan prima sebelum berangkat.
- Berpamitan kepada Keluarga: Beliau mendatangi sanak keluarga serta sahabat untuk mendoakan keselamatan satu sama lain.
- Melangkahkan Kaki Kanan: Beliau memulai perjalanan dengan membaca basmalah dan menaiki tunggangan menggunakan kaki kanan.
- Membaca Doa Perjalanan: Setelah duduk tegak di atas unta, Rasulullah melantunkan takbir tiga kali dan menguncinya dengan doa safar.
Tradisi ini menunjukkan betapa Islam sangat memperhatikan detail keselamatan, dimulai dari kesiapan mental hingga kepasrahan total melalui doa.
Bacaan Doa Bepergian Beserta Artinya yang Wajib Dihafalkan
Bagi wargi yang hendak melakukan perjalanan, baik untuk urusan pekerjaan, mudik, maupun berlibur, membaca doa naik kendaraan adalah kunci ketenangan hati. Doa ini diriwayatkan dalam HR. Muslim dan menjadi panduan utama para pejalan.
"Subhanalladzi sakhkhara lana hadza wa ma kunna lahu muqrinin wa inna ila rabbina lamunqalibun."
Arti dari bacaan tersebut adalah: "Maha Suci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami."
Makna mendalam dari doa ini mencakup tiga hal krusial:
- Ungkapan Rasa Syukur: Menyadari bahwa teknologi kendaraan—baik unta di masa lalu maupun mesin canggih masa kini—adalah kemudahan dari Allah.
- Kesadaran Diri: Manusia tidak memiliki daya dan upaya tanpa pertolongan Tuhan saat berada di jalan raya atau angkasa.
- Pengingat Kematian: Mengingatkan bahwa setiap perjalanan fisik di dunia adalah gambaran kecil dari perjalanan akhir menuju akhirat.
Adab Bepergian Era Modern dari Kendaraan Darat Hingga Udara
Memasuki era serba cepat, adab bepergian tidak mengalami perubahan hakiki. Berdasarkan panduan para dai, ada beberapa langkah praktis yang bisa diterapkan oleh penglaju modern agar perjalanan tetap bernilai ibadah.
- Memeriksa Kelaikan Kendaraan: Memastikan tekanan ban, rem, dan mesin dalam kondisi baik sebagai bentuk ikhtiar maksimal. Data menunjukkan bahwa lebih dari 80 persen kecelakaan lalu lintas dapat dicegah melalui pemeriksaan kendaraan secara berkala dan konsentrasi pengemudi.
- Mengumandangkan Dzikir Sepanjang Jalan: Memanfaatkan waktu tempuh dengan berdzikir, membaca Al-Qur'an, atau mendengarkan kajian bermanfaat dibanding melamun.
- Menjaga Etika Publik: Saat menggunakan transportasi umum seperti bus atau pesawat, menghormati penumpang lain dan menjaga kebersihan merupakan cerminan akhlak muslim.
- Membaca Doa Tiba di Tujuan: Ketika sampai di tempat tujuan dengan selamat, dianjurkan mengucapkan rasa syukur Alhamdulillah dan berdoa agar diberi kebaikan di tempat baru tersebut.
Dengan mengamalkan doa dan adab bepergian ini, perjalanan yang kita tempuh tak sekadar memindahkan tubuh dari satu titik ke titik lain, tetapi juga menjadi sarana mendulang pahala dan menjaga ketenangan jiwa sepanjang perjalanan.
Comments (0)