Bestie, kalau lo bangun pagi terus buka jendela dan yang keliatan cuma putih-putih kayak efek fog di game horor, itu bukan cutscene. Itu yang dirasain warga Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis (20/8). Kabut asap karhutla alias kebakaran hutan dan lahan literally nyelimutin kota sampai jarak pandang dipangkas jauh. Bukan kabut estetik buat feed IG, tapi asap beneran yang bikin napas berat.
Jalanan yang biasanya ramai jadi beda banget. Kendaraan jalan pelan-pelan, lampu udah nyala dari pagi, tapi tetap aja pandangan terbatas. Suasana kotanya jadi mood banget kayak setting dystopia — cuma bedanya ini nyata dan lagi kita jalanin, bukan series Netflix yang bisa di-pause.
Ini Bukan Sekadar Kabut Pagi, Tapi Alarm Serius
Buat yang mungkin mikir "ah paling kabut biasa", nggak, bestie. Kabut asap dari karhutla itu red flag besar. Asapnya bawa partikel halus yang bisa masuk sampai saluran napas, dan efeknya nggak main-main: batuk, sesak, iritasi mata, sampai gangguan pernapasan buat yang punya riwayat asma atau ISPA. Anak-anak dan lansia paling rentan, jadi jangan sampai kita anggap ini cuma fenomena cuaca biasa.
Palangka Raya sendiri bukan sekali dua kali kena. Kalau musim kemarau datang dan titik api muncul di area gambut, kota ini sering jadi langganan kabut asap. Plot twist-nya, masalahnya nggak selesai cuma dengan hujan atau angin ganti arah. Selama sumber kebakarannya ada, asapnya bakal balik lagi. Ibaratnya, kita cuma nge-pause masalah, bukan nge-close tab-nya.
"Pagi-pagi udah bau asap, mata perih. Mau ke mana-mana mikir dua kali," keluh seorang warga di media sosial.
Kenapa Karhutla Susah Banget Dipadamkan?
Nah ini bagian yang bikin salfok. Kebakaran lahan di Kalimantan sering terjadi di tanah gambut. Gambut itu lapisan organik yang bisa nyala sampai kedalaman beberapa meter. Jadi dari permukaan kelihatan cuma asap tipis, tapi di bawahnya ada bara yang masih hidup. Pemadaman pakai air dari permukaan sering nggak cukup, karena apinya "ngumpet" di dalam tanah. Butuh teknik khusus, waktu lama, dan tenaga ekstra.
Ditambah lagi, asap bukan cuma masalah lokal. Kabut bisa terbawa angin ke kota lain, bahkan lintas provinsi. Artinya dampaknya bisa lebih luas dari yang kita lihat. Kualitas udara ikut anjlok, penerbangan bisa terganggu, dan aktivitas sekolah maupun kerja jadi berantakan. Kalau udah begini, ini bukan cuma urusan orang Kalimantan — ini urusan kita semua.
Yang bikin gemas, penyebab karhutla sering dikaitkan dengan pembukaan lahan pakai cara bakar. Metode ini murah dan cepat, tapi efeknya parah banget. Ada juga faktor cuaca kering yang memperparah. Kombinasi keduanya bikin titik api gampang muncul dan cepat meluas. Auto jadi bencana tahunan yang seolah nggak ada habisnya.
Yang Bisa Kita Lakuin (Yes, Kita, Bukan Cuma Pemerintah)
Tenang, ini bukan berarti kita cuma bisa pasrah. Ada beberapa hal yang bisa jadi langkah bareng-bareng. Pertama, buat warga yang ada di area terdampak, pakai masker saat keluar rumah. Kalau bisa masker yang filtrasinya lebih baik dari masker kain biasa. Kedua, kurangi aktivitas luar ruangan kalau nggak urgent. Ketiga, pantau info resmi soal kualitas udara dan titik api biar nggak termakan hoaks.
Buat yang tinggal jauh dari Palangka Raya, jangan ngerasa nggak kena dampak. Isu lingkungan itu connected banget. Perubahan iklim bikin musim kemarau makin ekstrem, dan itu bikin karhutla makin gampang terjadi. Jadi support kebijakan yang berpihak ke lingkungan, kurangi perilaku yang merusak alam, dan jangan jadi bagian dari penyebar api — literally maupun figuratif.
Kabar baiknya, sampai sekarang masih ada upaya pemadaman dan penanganan dari berbagai pihak, termasuk petugas lapangan yang kerja keras di kondisi nggak gampang. Mereka ini real MVP, bukan cuma hero di film. Tapi usaha mereka bakal lebih ngefek kalau kita semua sadar dan ikut jaga.
Pertanyaannya buat lo: kalau kabut asap kayak gini jadi rutinitas tiap tahun, sampai kapan kita mau anggap ini "normal"? Drop pendapat lo di kolom komentar, dan share artikel ini biar makin banyak yang melek. Gas, jangan cuma scroll doang!
Comments (0)