warkini.
Travel

Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengingatkan bahaya

Menurut keterangan resmi Badan Geologi, blue fire di Kawah Manuk terbentuk dari pembakaran gas sulfida yang keluar dari rekahan tanah di kawasan vulkanik a

Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengingatkan bahaya
Menurut keterangan resmi Badan Geologi, blue fire di Kawah Manuk terbentuk dari pembakaran gas sulfida yang keluar dari rekahan tanah di kawasan vulkanik aktif. Gas tersebut menyala ketika bersentuhan dengan oksigen di udara, menghasilkan lidah api berwarna biru yang indah dipandang namun menyimpan risiko serius bagi kesehatan manusia. Kawah Manuk merupakan salah satu kawasan vulkanik paling aktif di kompleks Gunung Papandayan. Suhu permukaan di sekitar kawah dilaporkan mencapai 90–100 derajat Celsius, sementara konsentrasi gas belerang di area tertentu bisa melampaui ambang batas aman bagi manusia. Badan Geologi mencatat bahwa paparan gas hidrogen sulfida (H2S) dan karbon dioksida (CO2) dalam konsentrasi tinggi dapat menyebabkan pusing, sesak napas, hingga kehilangan kesadaran. Analisis Badan Geologi menunjukkan bahwa fenomena blue fire di Papandayan berbeda karakter dengan blue fire di Kawah Ijen, Banyuwangi. Jika di Ijen api biru muncul dari pembakaran gas sulfur pada suhu sangat tinggi, di Papandayan fenomena serupa terjadi pada skala lebih kecil namun tetap berbahaya karena lokasinya dekat dengan jalur pendakian wisata. Berikut perbandingan karakteristik dua kawasan blue fire di Indonesia:
AspekGunung PapandayanKawah Ijen
LokasiGarut, Jawa BaratBanyuwangi, Jawa Timur
Area munculKawah ManukKawah Ijen
Suhu permukaan90–100°CHingga 200°C
Gas dominanH2S, CO2, SO2SO2, H2S
Status kawasanWisata alam terbatasWisata tambang
“Masyarakat dan wisatawan harus memahami bahwa blue fire bukan sekadar atraksi visual. Di baliknya ada gas beracun yang bisa mematikan jika terhirup dalam jumlah besar,” ujar seorang ahli vulkanologi Badan Geologi. Badan Geologi merekomendasikan sejumlah langkah mitigasi, antara lain larangan mendekat ke area kawah tanpa masker gas, pemantauan rutin konsentrasi gas, serta pemasangan papan peringatan di jalur wisata. Wisatawan juga diminta tidak berlama-lama di area terbuka yang berpotensi mengakumulasi gas berat, terutama saat angin lemah. Fenomena ini menjadi pengingat bahwa keindahan alam vulkanik selalu beriringan dengan risiko. Edukasi dan kepatuhan pada prosedur keselamatan menjadi kunci agar wisata tetap aman dan berkelanjutan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS bobby-hartono

Editor Lifestyle. Mantan editor majalah lifestyle. Fokus pada tren, gaya hidup urban, dan budaya pop.

Comments (0)

User