Sebuah kota kecil di selatan Swedia, Sjobo, kini dipandang sebagai titik awal lahirnya sentimen anti-imigran yang perlahan merangsek ke panggung politik arus utama Swedia. Kota yang dulunya sempat dikecam karena menolak pengungsi kini justru melihat pandangan politiknya diadopsi secara luas di tingkat nasional.
Bengt Lundgren, seorang pensiunan berusia 89 tahun warga Sjobo, merasa kotanya telah mengambil langkah yang tepat sejak puluhan tahun silam. Dukungannya kini mantap berlabuh ke partai sayap kanan Sweden Democrats yang tengah naik daun.
"Pada akhirnya, warga Sjobo memang benar sejak awal jika Anda melihat situasi saat ini," ungkap Bengt Lundgren sembari tersenyum lebar.
Kronologi Pergeseran Sikap Politik di Sjobo
Sikap keras Sjobo terhadap kebijakan imigrasi nasional memiliki sejarah panjang yang penuh ketegangan politik. Berikut adalah garis waktu perjalanan isu imigrasi di kota tersebut:
- Tahun 1987: Pemerintah Swedia meluncurkan kebijakan distribusi pengungsi dan meminta Sjobo, yang kala itu berpenduduk sekitar 15.400 jiwa, untuk menampung sekitar 15 orang pengungsi.
- September 1988: Pemerintah lokal menggelar referendum kontroversial. Kubu penolak imigran menang telak dengan raihan hampir 68 persen suara.
- Dekade 2010-an hingga 2020-an: Pandangan skeptis terhadap imigrasi mulai menyebar luas ke seluruh penjuru Swedia seiring meningkatnya krisis migrasi Eropa.
- Pemilu 2022: Partai Sweden Democrats berhasil meraup 43 persen suara di Sjobo dan menempati posisi kedua terkuat secara nasional.
Gema Referendum 1988 yang Membelah Warga
Gagasan penolakan pengungsi pada 1988 dipimpin oleh tokoh dewan kota saat itu, Sven-Olle Olsson. Pernyataannya yang kontroversial sempat memicu perdebatan sengit dan menyedot perhatian media internasional.
"Siapa pun paham bahwa generasi masa depan Swedia tidak akan lagi berambut pirang dan bermata biru," ujar Sven-Olle Olsson kala memimpin kampanye penolakan pada 1988.
Referendum tersebut meninggalkan luka sosial yang cukup dalam. Tokoh-tokoh yang mendukung penerimaan pengungsi, termasuk pemimpin kubu 'Ya', sempat mengalami ancaman serius hingga aksi vandalisme di kediaman pribadi mereka. Namun, dinamika di Sjobo perlahan mengalami penyesuaian administratif seiring waktu berjalan.
Transformasi dan Realitas Politik Masa Kini
Kini, Sjobo berusaha memperbaiki citranya di mata publik. Ramel, seorang anggota dewan kota saat ini, mengungkapkan bahwa pemerintah kota sekarang tetap menjalankan kewajiban dengan menampung warga pendatang sesuai kuota yang ditentukan pemerintah pusat.
- Kepatuhan Kuota: Sjobo saat ini menampung imigran baru bahkan melampaui beberapa kota tetangga di wilayah yang sama.
- Pengaruh Politik Nasional: Sweden Democrats kini menjadi mitra kunci yang menopang koalisi pemerintahan sayap kanan minoritas di parlemen Swedia.
- Perubahan Persepsi Publik: Sentimen pembatasan imigrasi yang dahulu dianggap tabu kini menjadi perdebatan umum di panggung politik Swedia.
Perjalanan Sjobo menunjukkan bagaimana sebuah pandangan lokal yang awalnya dianggap ekstrem dapat bertransformasi menjadi fondasi kebijakan nasional dalam kurun waktu beberapa dekade.
Comments (0)