[LOKASI/NAMA] — Jared Cooney Horvath: Penggunaan Layar di Sekolah Lemahkan Perkembangan Kognitif Anak
Di tengah gempuran global yang menuntut larangan penggunaan ponsel pintar di sekolah dan pembatasan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun, satu suara da
Di tengah gempuran global yang menuntut larangan penggunaan ponsel pintar di sekolah dan pembatasan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun, satu suara dari dunia neurosains menggema dengan nada yang lebih dalam dan mengkhawatirkan. Jared Cooney Horvath, seorang neurosains pendidikan dan mantan guru, tidak sekadar menyerukan pembatasan perangkat genggam. Ia menantang fondasi utama yang selama ini dianggap sebagai kemajuan: teknologi pendidikan itu sendiri.
Alarm dari Dunia Neurosains
Horvath melancarkan misinya dengan sebuah argumentasi yang mengguncang keyakinan banyak pihak. Menurutnya, penggunaan layar dan perangkat digital di dalam kelas bukanlah solusi modernisasi pembelajaran, melainkan ancaman serius terhadap cara anak-anak belajar dan berkembang. Penggunaan teknologi edukasi justru melemahkan fondasi kognitif generasi muda. Pernyataan ini datang dari seseorang yang memahami kedua sisi meja—ia pernah berdiri di depan kelas sebagai pendidik sebelum mendalami mekanisme kerja otak manusia di laboratorium.
"Ini mungkin menjadi salah satu kebenaran tersulit yang harus dihadapi generasi kita," tulis Horvath dalam bukunya, The Digital Delusion.
Kutipan tersebut bukan sekadar retorika provokatif. Bagi Horvath, ini adalah pengakuan menyakitkan atas eksperimen besar-besaran yang telah dilakukan terhadap perkembangan otak anak-anak selama dua dekade terakhir. Revolusi digital di ruang kelas, yang dipromosikan sebagai jalan pintas menuju pembelajaran yang lebih efektif, kini dipertanyakan validitasnya dari perspektif ilmu saraf. Ia melihat ada kesenjangan besar antara janji teknologi dan realitas neurologis yang terjadi pada proses belajar anak.
Ketika Layar Menggantikan Proses Berpikir
Horvath berargumen bahwa interaksi berkepanjangan dengan layar mengubah cara otak anak memproses informasi secara fundamental. Alih-alih membangun jalur neural yang kuat melalui pengalaman belajar konvensional—yang melibatkan ketahanan terhadap frustrasi, penalaran mendalam, dan interaksi sosial langsung—anak-anak justru terbiasa pada stimulus instan dan multitasking dangkal. Paparan berkepanjangan terhadap teknologi edukasi justru menciptakan generasi yang kurang mampu secara kognitif.
Bukan berarti Horvath menolak teknologi secara keseluruhan. Namun, ia menekankan bahwa ada batasan biologis yang tidak bisa dinegosiasikan. Otak anak memerlukan rangsangan tak terstruktur, kegagalan alami, dan pemecahan masalah manual untuk mengembangkan korteks prefrontal—area krusial yang mengatur perencanaan, pengendalian impuls, dan pemikiran kritis. Ketika layar dan aplikasi pembelajaran menyediakan segala jawaban dengan satu sentuhan atau algoritma adaptif, proses pembentukan kemampuan kognitif tersebut terhambat secara signifikan.
"Anak-anak kita menjadi kurang mampu secara kognitif," tegas Horvath, menyuarakan keprihatinan yang semakin meluas di kalangan peneliti perkembangan anak.
Misi di Tengah Arus Dominan
Seruan Horvath datang pada momentum yang kompleks dan penuh pertentangan. Di satu sisi, pemerintah dan sekolah di berbagai belahan dunia terus berlomba-lomba menerapkan program satu-perangkat-untuk-satu-siswa, platform pembelajaran berbasis awan, dan aplikasi interaktif yang diklaim dapat mempersonalisasi pendidikan. Di sisi lain, gelombang penelitian longitudinal mulai menunjukkan korelasi negatif antara penggunaan layar berlebihan dan perkembangan bahasa, memori kerja, serta keterampilan regulasi emosional pada anak usia sekolah.
Bagi Horvath, situasi ini ibarat bangunan megah yang dibangun di atas tanah retak. Industri ed-tech yang bernilai miliaran dolar telah berhasil meyakinkan orang tua dan pendidik bahwa lebih banyak layar berarti lebih banyak peluang dan efisiensi. Namun, sang neurosains menantang premis tersebut dengan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa pembelajaran mendalam memerlukan keterlibatan manusiawi, bukan algoritma. Ia percaya bahruh teknologi telah mengubah ruang kelas dari tempat interaksi intelektual menjadi ruang konsumsi konten pasif.
Menghadapi Kebenaran yang Tidak Nyaman
Buku The Digital Delusion bukan sekadar kritik akademis; ini adalah panggilan untuk introspeksi massal terhadap arah pendidikan modern. Horvath mengajak para pendidik, pembuat kebijakan, dan orang tua untuk mengakui bahwa transformasi digital di sekolah mungkin telah melampaui batas kewajaran. Ia mengingatkan bahwa generasi masa depan tidak memerlukan lebih banyak aplikasi atau perangkat canggih; mereka memerlukan ruang untuk berpikir lambat, mengalami kebosanan kreatif, dan belajar melalui interaksi tatap muka yang autentik.
Misi Horvath tentu tidak mudah. Ia berhadapan dengan kepentingan industri teknologi dan paradigma yang sudah mengakar kuat dalam sistem pendidikan kontemporer. Namun, dalam konteks pergeseran global menuju pembatasan digital—termasuk larangan ponsel di sekolah yang mulai diberlakukan di berbagai negara—suara peringatannya mungkin menemukan telinga yang lebih banyak. Bagi Horvath, mengakui bahwa layar di kelas bisa jadi racun bagi perkembangan otak adalah langkah pertama untuk menyelamatkan kapasitas kognitif generasi yang akan datang.
[SOCIAL_TWEET]: 🧠 Ahli saraf Jared Cooney Horvath bilang teknologi di kelas justru bikin anak kurang pintar. Apa pendapatmu soal larangan layar di sekolah? Baca selengkapnya 👇 #Pendidikan #Tekn
Comments (0)