Suasana hangat dan penuh haru menyelimuti halaman Sekolah Luar Biasa (SLB) Dharma

Gagasan Kemanusiaan dari Komandan Daerah Militer Program Orang Tua Asuh bukan sekadar simbolisasi belaka. Dilahirkan dari kerja sama Pangdam XXI/Radin Int

Suasana hangat dan penuh haru menyelimuti halaman Sekolah Luar Biasa (SLB) Dharma

Gagasan Kemanusiaan dari Komandan Daerah Militer

Program Orang Tua Asuh bukan sekadar simbolisasi belaka. Dilahirkan dari kerja sama Pangdam XXI/Radin Inten dan Dharma Pertiwi Daerah U, program ini dirancang untuk menjembatani kesenjangan akses yang selama ini dirasakan anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) dalam meraih pendidikan berkualitas. Tak hanya soal bantuan materi, inisiatif ini juga menitikberatkan pada pendampingan psikososial, pengembangan potensi, serta jaminan keberlangsungan sekolah bagi para penyandang disabilitas. Dalam sambutannya, Pangdam Kristomei menegaskan bahwa kepedulian terhadap ABK harus bertransformasi dari sekadar wacana menjadi gerakan kolektif yang menyentuh akar permasalahan. Setiap anak, bagaimanapun kondisinya, adalah anugerah yang berhak dibimbing menuju masa depan yang lebih baik.

Komitmen Dharma Pertiwi untuk Pendidikan Inklusif

Peluncuran program ini berlangsung serentak dengan kunjungan kerja Ketua Umum Dharma Pertiwi, Ibu Evi Agus Subiyanto, ke SLB Dharma Bhakti. Kehadirannya membawa semangat baru bagi keluarga besar sekolah tersebut. Evi Agus Subiyanto memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas lahirnya gagasan Program Orang Tua Asuh. Menurutnya, langkah ini menjadi jembatan emosional dan struktural yang mempertemukan keluarga, masyarakat, dunia pendidikan, serta berbagai pihak untuk memberikan dukungan kolektif yang selama ini amat dibutuhkan.

"Ini adalah wujud nyata komitmen bersama untuk memberikan ruang tumbuh yang lebih baik, aman, dan nyaman bagi anak-anak berkebutuhan khusus," ujar Evi Agus Subiyanto.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa Dharma Pertiwi tidak akan berhenti pada level apresiasi semata. Berbagai program turunan akan terus dirancang agar sekolah-sekolah luar biasa di bawah naungan organisasi tersebut mampu berkembang secara berkelanjutan, baik dari sisi kurikulum maupun fasilitas pendukung yang ramah difabel. Kepedulian yang tulus, menurutnya, adalah ketika kata hati diikuti oleh tindakan nyata yang memberi dampak berkelanjutan.

Setiap Anak Berhak Meraih Masa Depan

Sementara itu, Mayjen TNI Kristomei Sianturi menggunakan momentum peluncuran untuk menyampaikan pandangan fundamentalnya soal hak pendidikan. Ia menegaskan bahwa setiap anak, tanpa terkecuali, memiliki hak yang sama untuk mengenyam pendidikan dan menggapai cita-citanya. Bagi Pangdam, ABK bukanlah objek belas kasihan, melainkan subjek pembangunan yang memerlukan ruang dan kesempatan setara. Ia menolak anggapan bahwa keterbatasan fisik atau intelektual menjadi penghalang permanen bagi seseorang untuk berkontribusi bagi bangsa.

"Anak-anak berkebutuhan khusus memiliki hak yang sama untuk meraih masa depan. Kepedulian terhadap mereka harus kita bangun sebagai gerakan bersama," tegas Pangdam.

Nada tegas dalam suaranya mencerminkan tekad jajaran Kodam XXI/Radin Inten untuk terus hadir di tengah masyarakat, khususnya kelompok rentan. Program Orang Tua Asuh, menurutnya, hanyalah pintu masuk dari sekian banyak langkah konkret yang akan dijalankan guna memperkuat ekosistem pendidikan inklusif di Provinsi Lampung. Rasa empati yang diilhami oleh tugas kebangsaan harus selalu diwujudkan dalam bentuk kebijakan lapangan yang dirasakan langsung oleh rakyat.

Agenda Strategis Penunjang Fasilitas Pendidikan

Selain peluncuran Program Orang Tua Asuh, rangkaian kunjungan kerja tersebut juga diisi dengan berbagai kegiatan strategis untuk menunjang fasilitas sekolah. Penanaman pohon di lingkungan sekolah dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap kenyamanan belajar dan kelestarian lingkungan. Tak berhenti di situ, hadir pula Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) Café Lubi yang diharapkan dapat membuka peluang kemitraan ekonomi kreatif bagi lembaga pendidikan ini.

Puncaknya, dilakukan penandatanganan prasasti pembangunan playground khusus serta ruang kelas khusus autis. Dua fasilitas tersebut menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap ABK harus terealisasi dalam bentuk infrastruktur yang memadai, aman, dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak. Dengan fasilitas yang tepat, harapan besar tumbuh bahwa para siswa akan lebih antusias menjalani proses pembelajaran tanpa hambatan fisik yang menghambat ekspresi diri mereka. Langkah ini sekaligus menegaskan bahwa dukungan terhadap penyandang disabilitas harus bersifat komprehensif, meliputi aspek pendidikan, psikologis, hingga sarana prasarana yang inklusif.

Kehadiran Pangdam XXI/Radin Inten bersama jajaran Dharma Pertiwi di SLB Dharma Bhakti Dharma Pertiwi membuka lembaran baru bagi perjuangan hak pendidikan ABK di Lampung. Program Orang Tua Asuh dan berbagai agenda pendampingnya menjadi cermin bahwa tanggung jawab sosial bukan lagi sekadar milik keluarga atau sekolah, melainkan tanggung jawab bersama yang harus diemban oleh seluruh komponen bangsa. Dalam konteks inilah, kolaborasi militer, organisasi sosial kemasyarakatan, dan dunia pendidikan membuktikan bahwa perubahan nyata dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten dan tulus.