warkini.
Viral

Muslim Kabul Padati Masjid Demi Berburu Berkah Lailatul Qadar

Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an sayup-sayup terdengar memecah keheningan malam di penjuru Kota Kabul, Afghanistan. Ratusan jemaah tampak duduk bersimpuh

Muslim Kabul Padati Masjid Demi Berburu Berkah Lailatul Qadar

Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an sayup-sayup terdengar memecah keheningan malam di penjuru Kota Kabul, Afghanistan. Ratusan jemaah tampak duduk bersimpuh dengan khusyuk di atas karpet masjid, membenamkan diri dalam lembaran mushaf di bawah pendar lampu temaram. Memasuki fase sepuluh malam terakhir bulan suci Ramadan, antusiasme umat Muslim di Afghanistan kian memuncak untuk menjemput keutamaan Lailatul Qadar, malam yang dimuliakan lebih baik daripada seribu bulan.

Bagi warga ibu kota, sepuluh hari pemungkas Ramadan bukan sekadar rutinitas penutup bulan puasa. Ini adalah momentum sakral untuk melepaskan sejenak beban hiruk-pikuk kehidupan duniawi dan mendekatkan diri seutuhnya kepada Sang Pencipta melalui ibadah iktikaf. Masjid-masjid bersejarah hingga musala permukiman dipadati jemaah laki-laki dari berbagai kalangan usia, mulai dari pemuda hingga kaum lansia yang memilih bermalam di rumah ibadah.

Menghidupkan Sepuluh Malam Terakhir di Kabul

Sejak matahari terbenam hingga fajar menjelang, masjid-masjid di Kabul bertransformasi menjadi pusat spiritual yang hidup. Aktivitas ibadah diisi dengan salat sunah berjamaah, pembacaan wirid dan zikir panjang, hingga tadarus Al-Qur'an secara mandiri maupun berkelompok. Keheningan malam kerap dihiasi isak tangis jemaah yang bermunajat, memohon ampunan dan keselamatan atas segala dosa yang telah lalu.

"Di sepuluh malam terakhir ini, hati kami terasa lebih terpaut dengan masjid. Kami datang ke sini mencari ketenangan batin dan mengharap rida Allah agar dipertemukan dengan malam Lailatul Qadar. Tidak ada tempat berlindung yang lebih damai selain bersujud di hadapan-Nya," ungkap Ahmad Zia, salah seorang jemaah iktikaf di Kabul.

Tradisi iktikaf di Afghanistan memiliki ikatan komunal yang sangat erat. Warga sekitar masjid kerap bergotong royong menyediakan hidangan berbuka sederhana dan santapan sahur bagi para jemaah yang berdiam diri di masjid. Semangat berbagi ini mempererat tali persaudaraan antarwarga di tengah kondisi ekonomi yang menantang.

Ibadah dan Harapan Kedamaian Negeri

Ibadah iktikaf yang dijalani masyarakat Afghanistan juga sarat akan permohonan tulus bagi masa depan tanah air mereka. Melalui doa-doa panjang di sepertiga malam, terselip harapan mendalam akan terwujudnya kedamaian abadi, kesejahteraan, serta kemudahan hidup bagi seluruh rakyat.

Berikut adalah sejumlah amalan utama yang lazim diintensifkan jemaah selama sepuluh malam terakhir Ramadan:

  • Qiyamul Lail: Menunaikan salat tahajud dan witir berjamaah dengan bacaan surat panjang.
  • Tadarus dan Tadabbur: Mengkhatamkan bacaan ayat suci Al-Qur'an sekaligus merenungi maknanya.
  • Zikir dan Istigfar: Memperbanyak doa ampunan sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW untuk malam kemuliaan.
  • Sedekah Sahur: Berbagi makanan dan minuman kepada sesama jemaah yang tengah beriktikaf.

Bagi umat Muslim di Kabul, malam-malam ganjil di penghujung Ramadan merupakan oase spiritual yang tak ternilai harganya. Di tengah berbagai ujian sosial dan ekonomi, kekuatan doa dan kebersamaan di dalam masjid menjadi lentera yang terus menyalakan harapan mereka akan hari esok yang jauh lebih baik.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rangga-pradana

Content Creator. Mengelola konten viral, podcast, dan video pendek.

Comments (0)

User