PARIS — Kehadiran Paus Leo XIV di Prancis bukan sekadar peristiwa religius biasa. Dalam beberapa hari terakhir, kunjungan pemimpin tertinggi Gereja Katolik dunia itu berubah menjadi fenomena politik yang mengguncang lanskap menjelang Pemilihan Presiden 2027. Para politisi dari berbagai spektrum ideologi beramai-ramai mengambil posisi, berusaha menampilkan kedekatan dengan nilai-nilai yang diwakili sang Paus, sambil menghindari kesan sekadar menunggangi momentum.
Presiden Emmanuel Macron akhirnya memutuskan hadir dalam misa yang dipimpin Paus Leo XIV pada Senin, setelah sebelumnya sempat menuai kritik karena dianggap lambat merespons kunjungan bersejarah tersebut. Sementara itu, pada Sabtu, sejumlah besar politikus dari kubu kanan dan tengah terlihat memadati Place de la Concorde, lokasi salah satu rangkaian acara utama kunjungan Paus. Kehadiran mereka memicu spekulasi luas tentang strategi elektoral masing-masing kubu.
Momentum Spiritual yang Berubah Warna Politik
Kunjungan Paus Leo XIV ke Prancis memang telah lama dinantikan umat Katolik, yang merupakan salah satu komunitas religius terbesar di negara itu. Namun, atmosfernya berubah ketika kandidat-kandidat potensial Pilpres 2027 mulai memanfaatkan momen ini untuk membangun citra. Kubu kanan tengah dan kanan ekstrem, yang selama ini gencar mengangkat isu identitas dan akar Kristiani Eropa, tampak paling agresif dalam mendekati acara-acara Paus.
"Ini adalah momen di mana batas antara iman dan politik menjadi sangat tipis. Semua ingin terlihat berada di sisi yang benar secara moral," ujar seorang analis politik Paris yang enggan disebut namanya.
Di sisi lain, partai-partai kiri menghadapi dilema. Mereka tidak ingin terlihat menolak simbol persatuan yang dibawa Paus, tetapi juga waspada terhadap narasi yang bisa digeser ke arah konservatisme religius. Beberapa tokoh kiri memilih menghadiri acara kemanusiaan yang diselenggarakan bersamaan, sebagai bentuk alternatif dukungan tanpa terseret arus politik identitas.
Siapa yang Paling Diuntungkan?
- Kubu kanan dan tengah memanfaatkan momen untuk memperkuat basis pemilih Katolik konservatif.
- Kubu presiden Macron berusaha menampilkan diri sebagai penjaga stabilitas dan institusi, meski sempat dituding terlambat bergerak.
- Kubu kiri berhati-hati agar tidak kehilangan pemilih muda dan sekuler yang sensitif terhadap isu sekularisme.
- Paus Leo XIV sendiri secara konsisten menekankan pesan perdamaian, migrasi, dan keadilan sosial, yang sulit diklaim oleh satu kubu saja.
Yang menarik, pesan-pesan Paus selama kunjungan justru sering berbenturan dengan agenda politik sebagian elite. Seruan tentang penerimaan terhadap migran dan kritik terhadap ketimpangan ekonomi, misalnya, tidak sepenuhnya sejalan dengan narasi kanan yang tengah menguat. Ini menciptakan paradoks: semua ingin dekat dengan Paus, tetapi tidak semua nyaman dengan isi pesannya.
Efek Berkelanjutan Menuju 2027
Para pengamat menilai kunjungan ini bisa menjadi preseden baru dalam politik Prancis, di mana simbol religius semakin sering dimobilisasi untuk kepentingan elektoral. Dengan Pilpres 2027 yang masih dua tahun lagi, momentum seperti ini berpotensi mempercepat konsolidasi blok-blok politik berbasis nilai.
Namun, publik Prancis dikenal skeptis terhadap politisasi agama. Jika para politikus dianggap terlalu berlebihan, efeknya bisa berbalik menjadi bumerang. Kunjungan Paus Leo XIV mungkin telah berakhir, tetapi efek gelombangnya baru saja dimulai — dan panggung Pilpres 2027 kini terasa semakin dekat.
Comments (0)