Pemukim Israel Bakar Masjid, Tentara Tembak Sopir Bantuan Gaza
Eskalasi kekerasan di wilayah pendudukan Palestina kembali mencatat dua insiden brutal yang terjadi dalam waktu berdekatan. Kelompok pemukim Israel di Tepi
Eskalasi kekerasan di wilayah pendudukan Palestina kembali mencatat dua insiden brutal yang terjadi dalam waktu berdekatan. Kelompok pemukim Israel di Tepi Barat membakar sebuah masjid dan merusak rumah warga, sementara di perbatasan Gaza, tentara Israel menembak mati seorang sopir truk bantuan dan pengawalnya. Rangkaian peristiwa ini menyoroti meningkatnya impunitas dan kekerasan sistematis terhadap warga sipil Palestina serta pekerja kemanusiaan.
Pembakaran Masjid dan Amuk Pemukim di Utara Tepi Barat
Insiden pertama terjadi di Desa Burqa, sebelah timur Ramallah, pada Minggu dini hari (23/2/2026). Ratusan pemukim Israel, sebagian di antaranya mengenakan penutup wajah, menyerbu desa tersebut dengan dikawal ketat oleh pasukan militer Israel. Menurut saksi mata dan dokumentasi warga, para pemukim melemparkan bom molotov ke arah Masjid Al-Huda hingga bagian mihrab dan kubahnya terbakar hebat.
Tidak berhenti di situ, massa pemukim kemudian merangsek ke permukiman penduduk. Mereka memecahkan jendela, membakar sedikitnya 14 rumah dan 3 kendaraan, serta menyerang warga yang mencoba mempertahankan harta benda mereka. Bulan Sabit Merah Palestina melaporkan 23 warga mengalami luka-luka, termasuk lima orang dalam kondisi kritis akibat pukulan benda tumpul dan tembakan gas air mata yang ditembakkan dari jarak dekat.
"Saya melihat asap hitam membubung dari kubah masjid. Mereka berteriak-teriak dalam bahasa Ibrani, menghancurkan apa saja yang ada di jalan. Tentara hanya diam, bahkan menghalangi ambulans mendekat," ujar Mahmoud Saleh, seorang tokoh masyarakat setempat.
Aksi pembakaran masjid ini merupakan bagian dari rangkaian serangan "price tag" yang kerap dilakukan pemukim radikal. Namun eskalasi kali ini tergolong yang terparah sejak awal 2026, menghancurkan tempat ibadah yang selama puluhan tahun menjadi pusat kegiatan sosial desa. Otoritas Palestina melalui Kementerian Luar Negeri mengecam keras insiden ini dan menyebutnya sebagai kejahatan perang yang dilakukan di bawah pengawasan tentara pendudukan.
Dua Tewas Ditembak di Perlintasan Bantuan Kerem Shalom
Berselang satu hari, insiden mematikan terjadi di ujung selatan wilayah pendudukan, tepatnya di perlintasan Kerem Shalom yang menjadi jalur utama masuknya bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza. Sebuah truk bermuatan bahan pangan dari Program Pangan Dunia (WFP) yang sedang mengantre pemeriksaan keamanan menjadi sasaran tembakan langsung oleh tentara Israel yang berjaga di pos tersebut.
Korban tewas di tempat adalah Ahmed Al-Najjar (31), sopir truk asal Rafah, dan Mustafa Barakat (42), petugas keamanan lokal yang mendampingi pengawalan bantuan. Informasi dihimpun dari rekan sesama sopir, tembakan dilepaskan secara tiba-tiba tanpa peringatan setelah sempat terjadi adu mulut terkait prosedur pemeriksaan dokumen. Tentara kemudian menutup total area dan melarang evakuasi medis selama lebih dari satu jam.
"Hari itu saya berada di truk keempat di belakang Ahmed. Saya dengar suara tembakan bertubi-tubi, lalu teriakan. Ketika saya memberanikan diri mengintip, keduanya sudah tergeletak di aspal. Tidak ada ancaman apa pun dari mereka," kata Ibrahim Khalil, saksi yang juga sopir bantuan.
Militer Israel dalam pernyataan resmi mengklaim bahwa kedua korban "bergerak mencurigakan ke arah pos pengamanan dan mengabaikan peringatan," namun tidak memberikan bukti pendukung. Juru bicara WFP menyesalkan insiden ini dan mendesak investigasi independen, menekankan bahwa lebih dari 200 pekerja kemanusiaan telah tewas di Gaza sejak konflik terakhir, menjadikan wilayah ini salah satu yang paling mematikan bagi personel bantuan.
Dampak Kemanusiaan dan Reaksi Global
Dua insiden beruntun ini semakin memperburuk krisis kemanusiaan di wilayah pendudukan Palestina. Di Tepi Barat, serangan pemukim tahun ini telah menghancurkan lebih dari 1.200 properti milik warga Palestina dan menyebabkan sedikitnya 800 orang mengungsi. Sementara di Gaza, terhambatnya pengiriman bantuan akibat insiden penembakan membuat distribusi makanan ke pengungsi di Rafah dan Khan Younis tertunda hingga tiga hari.
- Korban tewas di Tepi Barat sejak Januari 2026: 89 warga Palestina, termasuk 17 anak.
- Truk bantuan tertahan di perlintasan Kerem Shalom: 500+ unit menunggu izin masuk.
- Kecaman internasional: OKI, Uni Eropa, dan Amnesty International menyerukan sanksi terhadap pemukim dan militer Israel.
Relawan kemanusiaan di Gaza kini bekerja dalam tekanan psikologis luar biasa. Selain ancaman kelaparan yang menjangkiti lebih dari setengah populasi, nyawa para pekerja bantuan berada dalam bahaya setiap saat. Organisasi HAM menilai bahwa penembakan terhadap kendaraan kemanusiaan yang ditandai dengan jelas merupakan pelanggaran serius terhadap Konvensi Jenewa.
Pakar Timur Tengah dari Universitas Georgetown, Prof. Michael Jansen, mengatakan bahwa "kedua peristiwa ini adalah manifestasi dari budaya impunitas yang telah mengakar. Tanpa pertanggungjawaban hukum, kekerasan hanya akan terus berulang dengan intensitas yang lebih mengerikan." Pernyataan ini menggemakan seruan banyak pihak agar Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mempercepat proses penyelidikan terhadap kejahatan perang di Palestina.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada gencatan senjata atau langkah deeskalasi yang diumumkan. Keluarga korban penembakan di Kerem Shalom menuntut keadilan dan pemakaman yang layak, sementara warga Burqa bergotong-royong membersihkan puing-puing masjid dan rumah mereka, bertekad untuk tetap bertahan di tanah leluhur meski ancaman terus membayangi.
[SOCIAL_TWEET]: Pekan kelam di Palestina: Pemukim Israel bakar masjid di Tepi Barat, 23 warga terlukaβsehari kemudian tentara tembak mati sopir dan pengawal bantuan di Gaza. Impunitas kian menjadi. #WestBank #Gaza #WarCrimes[SOCIAL_TG]: π Tragedi Bertubi di Palestina Pemukim bakar masjid dan serang warga Tepi Barat, 23 terluka. Lalu, tentara Israel tembak mati sopir bantuan dan pengawalnya di perlintasan Gaza. Lebih dari 200 pekerja kemanusiaan tewas di Gaza. Dunia harus bertindak.1οΈβ£ Pemukim Israel bakar masjid dan rusak 14 rumah di Tepi Barat. 23 warga luka. 2οΈβ£ Tentara Israel tembak mati sopir truk bantuan WFP dan pengawalnya di Kerem Shalom. Yang paling menyakitkan: dalam kedua kejadian, tentara hanya menonton atau justru jadi pelaku. Kemanusiaan diuji. #Palestine #HumanRights
Comments (0)