Langkah nyata menuju transisi energi hijau di sektor penerbangan nasional terus menunjukkan progres menggembirakan. Melalui unit operasionalnya, PT Pertamina (Persero) secara konsisten menggenjot produksi dan pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bioavtur. Salah satu pusat inovasi strategis yang memegang peranan krusial dalam proyek revolusioner ini adalah Kilang Pertamina Internasional (KPI) Unit Cilacap, Jawa Tengah.
Kilang Cilacap yang dikenal sebagai salah satu kilang minyak terbesar di Tanah Air kini bertransformasi menjadi green refinery andalan. Inisiatif ini membuktikan bahwa Indonesia tidak hanya menjadi konsumen teknologi, melainkan mampu menjadi produsen mandiri bahan bakar ramah lingkungan berbasis nabati untuk pesawat terbang komersial.
Transformasi Kilang Cilacap Menuju Kilang Ramah Lingkungan
Pengembangan SAF di Kilang Cilacap dilakukan dengan memanfaatkan teknologi co-processing yang mengolah bahan baku terbarukan, seperti minyak kelapa sawit olahan (RBDPO), bersama dengan fraksi minyak bumi konvensional. Pendekatan ini memungkinkan kilang menghasilkan bahan bakar jet dengan jejak karbon yang jauh lebih rendah tanpa perlu merombak mesin pesawat yang sudah beroperasi saat ini.
Langkah terobosan di Cilacap ini tidak terlepas dari kesiapan infrastruktur dan kapabilitas teknis yang mumpuni. Kilang ini dirancang untuk mampu mengintegrasikan rantai pasok energi hijau secara bertahap dan berkelanjutan.
"Pengembangan bioavtur SAF di Kilang Cilacap adalah bukti nyata komitmen kami dalam mendukung dekarbonisasi industri penerbangan global sekaligus memperkuat kedaulatan energi berbasis potensi lokal," ungkap perwakilan manajemen Pertamina dalam keterangannya.
Keunggulan dan Dampak Positif Bioavtur SAF
Penggunaan SAF diproyeksikan menjadi kunci utama bagi maskapai penerbangan di seluruh dunia untuk mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060 atau lebih cepat. Sejumlah keunggulan penting dari pengembangan bahan bakar ramah lingkungan ini antara lain:
- Pengurangan Emisi Karbon: SAF mampu memangkas emisi gas rumah kaca hingga 80 persen sepanjang siklus hidupnya dibandingkan avtur fosil konvensional.
- Karakteristik Drop-in Fuel: SAF dapat langsung dicampur dengan bahan bakar jet standar tanpa memerlukan modifikasi pada sistem mesin pesawat maupun infrastruktur pengisian bahan bakar di bandara.
- Pemanfaatan Komoditas Lokal: Mengurangi ketergantungan impor minyak mentah dengan mengoptimalkan kekayaan nabati domestik.
Tonggak Sejarah Uji Coba Penerbangan
Bioavtur racikan Kilang Cilacap sebelumnya telah melalui berbagai tahapan pengujian laboratorium yang ketat, uji performa mesin jet di darat, hingga sukses diujicobakan dalam penerbangan komersial perdana di Indonesia. Keberhasilan ini menempatkan Indonesia dalam jajaran segelintir negara di kawasan Asia Tenggara yang telah berhasil memproduksi dan menguji coba SAF secara mandiri.
Ke depan, Pertamina terus berupaya meningkatkan kapasitas produksi SAF di Cilacap guna menjawab kebutuhan pasar domestik maupun internasional. Kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, operator kilang, dan maskapai penerbangan menjadi pilar penting agar bahan bakar berkelanjutan ini dapat diproduksi secara massal dengan skala keekonomian yang kompetitif.
Comments (0)