Dunia sinema kembali diguncang oleh karya audiovisual yang menghentak nurani dari panggung Festival Film Venesia. Kali ini, sorot kamera bukan datang dari narasi luar, melainkan dari dalam jantung Israel sendiri. Duo sutradara asal Israel, Yuval Abraham dan Rachel Szor, meluncurkan dokumenter terbaru mereka yang diberi judul NAZA. Film ini berjanji menghadirkan pengungkapan segar nan mengerikan mengenai balik layar pengeboman di Jalur Gaza, berdasarkan kesaksian langsung dari para personel tentara Israel sendiri.
Proses pengambilan gambar film ini dilakukan secara tersembunyi pada malam hari di atas atap-atap gedung kota Tel Aviv. Kamera menangkap pengakuan polos dan dingin mengenai mekanisasi perang yang selama ini tertutup rapat dari publik internasional.
"Film ini membongkar secara terperinci sistem di balik pembunuhan massal warga sipil Palestina di Gaza yang telah dikalkulasi oleh militer Israel," ungkap kedua sutradara tersebut saat mengumumkan proyek ini.
Singkatan Militer yang Menentukan Ajal Warga Sipil
Judul film ini, NAZA, bukanlah sekadar nama sembarangan. Menurut laporan yang dipublikasikan oleh surat kabar Inggris The Guardian, kata tersebut merupakan akronim rahasia militer Israel yang digunakan oleh badan intelijen sebagai istilah halus (eufemisme) untuk memperkirakan jumlah warga sipil yang diprediksi akan tewas dalam suatu serangan udara. Artinya, sebelum tombol bom ditekan, kalkulasi nyawa manusia yang akan melayang sudah disetujui sebagai angka yang "dapat diterima".
Penggarapan dokumenter ini tidak main-main. Di balik layar, berdiri nama-nama produser papan atas Inggris seperti Jim Wilson dan Jonathan Glazer. Keduanya merupakan tim jenius di balik film pemenang Piala Oscar tentang Auschwitz, The Zone of Interest. Keterlibatan media ternama The Guardian makin memperkuat bobot investigasi dan kredibilitas fakta yang disajikan dalam film ini.
Jejak Rekam Sinematik dan Data Korban Jiwa
Kehadiran NAZA semakin menegaskan konsistensi Yuval Abraham dan Rachel Szor dalam menyuarakan kebenaran. Sebelumnya, bersama dua aktivis serta pembuat film asal Palestina, Basel Adra dan Hamdan Ballal, mereka sukses mengguncang dunia lewat dokumenter No Other Land. Film tentang kekerasan pemukim ilegal Israel di Tepi Barat tersebut berhasil meraih piala Oscar untuk kategori Dokumenter Terbaik pada 2025.
Langkah berani para sineas ini berpacu dengan data lapangan yang kian memilukan. Berdasarkan data resmi Kementerian Kesehatan Gaza, pemboman tiada henti yang dilancarkan Israel sejak Oktober 2023 telah merenggut sedikitnya 73.500 korban jiwa warga Palestina dan menyebabkan lebih dari 174.500 orang luka-luka. Sebagian besar dari korban tersebut merupakan wanita dan anak-anak yang terjebak dalam krisis kemanusiaan terburuk abad ini.
Berikut adalah deretan film dokumenter kritis seputar Gaza yang menjadi sorotan di festival internasional:
| Judul Film | Sineas / Kreator | Fokus Utama Narasi | Pencapaian / Catatan |
|---|---|---|---|
| NAZA | Yuval Abraham & Rachel Szor | Kesaksian tentara Israel & sistem kalkulasi korban sipil | Tayang perdana di Festival Film Venesia |
| No Other Land | Yuval Abraham, Rachel Szor, Basel Adra, Hamdan Ballal | Kekerasan pemukim Israel di Tepi Barat Terjajah | Pemenang Oscar Dokumenter Terbaik 2025 |
| Citizen Osama | Sineas Palestina | Perjuangan jurnalis foto Gaza mencari air, makanan, & bertahan hidup | Perwakilan resmi Palestina untuk Oscar 2027 |
| The Voice of Hind Rajab | Sineas Independen | Tragedi pembunuhan bocah Palestina berusia 5 tahun oleh tentara Israel | Juara Kedua Festival Film Venesia tahun lalu |
Pergeseran Opini Publik Dunia dan Suara Hollywood
Penayangan NAZA di Festival Film Venesia bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Pihak penyelenggara festival secara sadar memasukkan sejumlah karya sinema bertema konflik Gaza ke dalam program kompetisi utama. Selain NAZA, ada pula film Citizen Osama yang mengisahkan perjuangan seorang fotografer jurnalistik di Gaza untuk bertahan hidup di tengah krisis pangan dan air bersih. Film tersebut bahkan telah resmi dipilih sebagai perwakilan Palestina untuk bersaing di Academy Awards 2027.
Tak hanya itu, memori publik juga masih segar dengan kesuksesan The Voice of Hind Rajab tahun lalu. Dokudrama yang sangat menyayat hati mengenai pembunuhan bocah perempuan Palestina berusia lima tahun oleh pasukan Israel tersebut berhasil menyabet penghargaan peringkat kedua di Venesia.
Maraknya film-film ini menandai pergeseran peta opini publik secara masif di negara-negara Barat. Gelombang kritik tajam terhadap kebijakan militer Israel kini tidak hanya datang dari aktivis jalanan, tetapi juga dari jajaran figur papan atas industri hiburan global, seperti aktris kawakan AS Susan Sarandon yang konsisten menyuarakan penolakan terhadap kejahatan perang. Keberanian para sineas ini membuktikan bahwa sinema mampu menjadi senjata ampuh menembus tembok propaganda dan menyuarakan rasa kemanusiaan yang mendalam.
Sineas asal Israel, Yuval Abraham dan Rachel Szor, merilis film 'NAZA' yang membongkar kesaksian tentara Israel terkait sistem pengeboman dan kalkulasi tewasnya puluhan ribu warga sipil di Gaza. Baca artikel lengkapnya di Warkini.com!
Comments (0)