Kawasan cagar budaya Kota Lama Semarang mendadak riuh dan semarak saat gelaran seni tradisional tumpah ruah ke jalanan. Di tengah gemerlap lampu malam dan deretan bangunan peninggalan kolonial, kesenian wayang kulit hadir menyapa warga secara langsung. Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menegaskan bahwa pertunjukan wayang bukan sekadar tontonan hiburan pelepas penat, melainkan telah menyatu menjadi identitas dan napas kehidupan seluruh warga Kota Semarang.
Pernyataan penuh makna tersebut ia sampaikan saat menghadiri perhelatan istimewa Wayang On The Street yang menjadi bagian dari rangkaian Festival Kota Lama 2026. Menurutnya, kesenian adiluhung ini menyimpan nilai filosofi kehidupan yang sangat relevan untuk membimbing perilaku masyarakat modern.
"Pertunjukan wayang tidak hanya penting sebagai tontonan, tetapi juga sebagai bagian dari identitas dan napas kehidupan masyarakat Kota Semarang," tutur Agustina Wilujeng di hadapan ratusan warga yang memadati lokasi.
Semarak Wayang On The Street di Kawasan Bersejarah
Konsep pertunjukan jalanan ini sengaja dirancang untuk mendekatkan seni klasik kepada generasi muda dan wisatawan. Dengan latar belakang arsitektur tempo dulu, perpaduan alunan gamelan dan kepiawaian dalang sukses membius para penonton yang duduk lesehan maupun berdiri di sepanjang koridor jalan.
Berikut adalah beberapa catatan penting dari kemeriahan pagelaran seni tradisi di ruang terbuka ini:
- Aksesibilitas Terbuka: Menghapus sekat panggung eksklusif sehingga masyarakat umum dapat berinteraksi langsung dengan para pelaku seni.
- Daya Tarik Pariwisata: Menghidupkan daya tarik malam di kawasan Kota Lama sekaligus meningkatkan geliat ekonomi pelaku UMKM lokal.
- Edukasi Lintas Generasi: Memperkenalkan lakon sarat petuah bijak kepada anak muda lewat format tontonan yang santai dan membumi.
Kronologi Pelaksanaan Festival Kota Lama 2026
Kemeriahan pagelaran budaya ini dirancang melalui serangkaian agenda terstruktur guna memastikan pengalaman budaya yang mendalam bagi pengunjung:
- Tahap Pembukaan & Parade Budaya: Festival diawali dengan parade kostum nusantara yang melintasi rute utama kawasan cagar budaya pada sore hari.
- Sesi Pementasan Wayang On The Street: Memasuki petang, pertunjukan wayang dimulai dengan adegan pembuka yang interaktif, mengundang gelak tawa dan tepuk tangan penonton.
- Dialog Kebudayaan: Sesi dialog singkat antara Wali Kota Semarang, budayawan, dan generasi muda mengenai strategi pelestarian warisan leluhur.
Komitmen Pemerintah Kota Rawat Warisan Tradisi
Pemerintah Kota Semarang berkomitmen penuh untuk terus menyediakan ruang berekspresi bagi seniman lokal. Ruang-ruang publik terbuka akan semakin dioptimalkan agar pertunjukan tradisi seperti wayang orang, ketoprak, dan wayang kulit terus berdenyut di tengah laju modernisasi kota.
Bagi Agustina, menjaga kesenian tetap hidup adalah investasi moral jangka panjang. Nilai-nilai budi pekerti luhur, persaudaraan, dan kepahlawanan yang terkandung di dalam kisah pewayangan diyakini mampu membentengi masyarakat dari erosi moral di era digital saat ini.
Comments (0)