warkini.
Travel

Alba Rohrwacher Pukau Penonton Lewat Drama Emosional 'Tres Adioses'

Sutradara kenamaan asal Spanyol, Isabel Coixet, kembali menghadirkan karya sinematik yang menyentuh relung hati terdalam lewat film terbarunya berjudul Tre

Alba Rohrwacher Pukau Penonton Lewat Drama Emosional 'Tres Adioses'

Sutradara kenamaan asal Spanyol, Isabel Coixet, kembali menghadirkan karya sinematik yang menyentuh relung hati terdalam lewat film terbarunya berjudul Tres adioses (atau dirilis dengan judul asli Tre ciotole). Film hasil kolaborasi Italia dan Spanyol ini diadaptasi langsung dari buku karya mendiang penulis ternama asal Sardinia, Michela Murgia, yang sempat menjadi buku terlaris di Italia.

Melalui film ini, Coixet kembali mengangkat tema tentang kerapuhan hidup dan bagaimana seseorang menghadapi batas akhir waktunya di dunia. Namun, sorotan utama yang membuat film ini begitu berbobot tidak lepas dari penampilan aktris Italia berbakat, Alba Rohrwacher, yang membawakan karakter utama dengan intensitas emosional luar biasa.

Melihat Kembali Makna Kehidupan di Tengah Keputusasaan

Kisah Tres adioses berpusat pada tokoh Marta (diperankan oleh Alba Rohrwacher), seorang guru pendidikan jasmani yang menetap di Roma. Hidupnya mulai terguncang setelah hubungannya dengan sang kekasih, Antonio (diperankan oleh Elio Germano), kandas pasca sebuah pertengkaran hebat.

Tak lama berselang, Marta mulai kehilangan nafsu makan dan mengalami penurunan berat badan yang drastis. Awalnya, ia mengira kondisi fisiknya yang melemah itu semata-mata dipicu oleh patah hati dan stres akibat perpisahan. Sayangnya, pemeriksaan medis berkata lain: hasil diagnosis dokter mengungkap bahwa tubuh Marta sedang digerogoti oleh penyakit yang jauh lebih fatal dan mengancam nyawanya.

"Kekuatan terbesar film ini bukan pada kepedihan akhir hayatnya, melainkan bagaimana seorang manusia belajar mencintai kembali sisa waktu yang masih dimilikinya."

Bukan Sekadar Pengulangan Narasi Lama

Lebih dari dua dekade lalu, Isabel Coixet sempat mencuri perhatian dunia lewat karya klasiknya Mi vida sin mí (My Life Without Me, 2003) yang dibintangi Sarah Polley. Meski keduanya sama-sama mengangkat topik wanita yang menghadapi vonis kematian, Tres adioses menawarkan perspektif batin yang sangat berbeda.

Jika karakter Ann dalam film terdahulu berfokus merapikan urusan duniawi yang akan ditinggalkannya untuk keluarga, karakter Marta justru mengajak penonton untuk:

  • Merayakan kehadiran: Memandang lingkungan sekitar dan orang-orang terdekat dengan cara yang jauh lebih intim dan jujur.
  • Menerima ketidaksempurnaan: Berdamai dengan luka masa lalu dan perpisahan pahit sebelum waktu habis.
  • Menghargai momen kecil: Mengubah kepanikan menjadi ketenangan saat menatap sisa hidup yang ada di depan mata.

Kolaborasi Matang di Balik Layar

Film berdurasi 120 menit ini ditulis naskahnya oleh Enrico Audenino bersama Isabel Coixet, dengan sinematografi apik garapan Guido Michelotti dan penyuntingan dari Jordi Azategui. Kehadiran aktor-aktor pendukung seperti Francesco Carril dan Silvia D’Amico turut memperkaya dinamika emosi sepanjang cerita.

Secara keseluruhan, Tres adioses bukan hanya sekadar melodrama tentang perpisahan, tetapi sebuah refleksi hangat mengenai keberanian menerima kenyataan dan menemukan kembali arti hidup di saat-saat paling rapuh.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kimberly-sutanto

Reporter Hiburan. Meliput film, musik, dan selebriti Indonesia.

Comments (0)

User