Anggaran Perlintasan Sebidang: Dorongan Mendesak Masuk APBN 2027
Perlintasan sebidang kembali jadi sorotan tajam. Kali ini, desakan agar pemerintah segera bertindak bukan sekadar wacana, melainkan tuntutan konkret yang harus diwujudkan dalam Anggaran Pendapatan dan...
Perlintasan sebidang kembali jadi sorotan tajam. Kali ini, desakan agar pemerintah segera bertindak bukan sekadar wacana, melainkan tuntutan konkret yang harus diwujudkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027. Titik-titik rawan yang tersebar di berbagai pelosok daerah sudah menelan terlalu banyak korban, dan penanganannya tidak bisa lagi setengah hati.
Politik Anggaran untuk Keselamatan Publik
Desakan penuh urgensi ini mencuat dari dalam gedung parlemen. Hamka B Kady, yang duduk di posisi strategis sebagai Anggota Badan Anggaran sekaligus Komisi V DPR RI, menyuarakan keresahan publik yang sudah terlalu lama terabaikan. Ia menekankan bahwa penyelesaian perlintasan sebidang harus menjadi prioritas nasional, bukan sekadar proyek tambal sulam. Menurutnya, tanpa intervensi anggaran yang masif dari pemerintah pusat, mimpi untuk menghilangkan 'jalur maut' ini hanya akan menjadi ilusi. Fokusnya bukan hanya pada pembangunan flyover atau underpass, melainkan pada penyediaan anggaran afirmatif yang secara spesifik menyasar titik-titik dengan tingkat kecelakaan tertinggi. Langkah ini diyakini sebagai bentuk kehadiran negara yang sesungguhnya dalam melindungi warganya. Jika tidak ada keberpihakan anggaran, maka regulasi keselamatan hanyalah macan kertas yang tidak punya taring.
Menimbang Beban Sosial dan Efisiensi Logistik
Persoalan perlintasan sebidang bukan hanya soal nyawa yang melayang. Di balik palang pintu yang sering kali rusak atau tidak dijaga, ada kerugian ekonomi yang menggunung setiap harinya. Kemacetan panjang yang ditimbulkan oleh perlintasan liar ataupun resmi telah menciptakan inefisiensi biaya logistik yang luar biasa. Waktu tempuh kendaraan barang menjadi molor, konsumsi bahan bakar membengkak, dan produktivitas masyarakat tergerus. Argumentasi inilah yang coba dibawa ke meja perundingan anggaran. Penyelesaian perlintasan sebidang tidak lagi bisa dipandang sebagai 'cost center', melainkan harus direposisi sebagai investasi jangka panjang untuk mobilitas dan konektivitas nasional. Dengan menyisihkan porsi dana yang signifikan dalam APBN 2027, pemerintah diyakini mampu memutus rantai kemacetan yang selama ini mencekik jalur-jalur vital penghubung antar kota dan provinsi. Skema pendanaan kreatif di luar APBN murni, seperti Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), juga didorong untuk bisa dieksekusi lebih agresif, tetapi tetap membutuhkan pemicu awal berupa modal pemerintah.
Momentum Krusial Menjelang 2027
Sinyal dari Badan Anggaran ini menjadi momentum krusial. Pembahasan APBN 2027 adalah panggung pertarungan terakhir untuk memastikan bahwa keselamatan rakyat tidak lagi dikalahkan oleh ego sektoral atau keterbatasan fiskal yang dikelola secara konvensional. Anggota dewan mendesak agar kementerian terkait, terutama Kementerian Perhubungan dan Kementerian PUPR, segera merampungkan pemetaan detail dan 'shopping list' proyek prioritas. Tanpa perencanaan matang dan data akurat, anggaran yang digelontorkan berisiko bocor dan tidak tepat sasaran. Oleh karena itu, dorongan ini bukan cuma soal angka di atas kertas, melainkan tentang membangun ulang arsitektur keselamatan transportasi darat Indonesia yang lebih manusiawi. Warga di daerah kini menanti, apakah APBN 2027 akan benar-benar menjadi angin segar yang membawa solusi permanen, atau sekadar pengulangan janji yang terkubur dalam tumpukan dokumen tebal.
Baca juga:
Comments (0)