Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Amukan si jago merah yang terpantau sejak awal pekan ini terus memicu kekhawatiran karena kobaran api merambat cepat di vegetasi kering lereng gunung tertinggi di Jawa Barat tersebut.
Ratusan personel gabungan dari Balai TNGC, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, hingga para relawan pencinta alam bahu-membahu menembus medan curam demi menjinakkan kobaran api. Namun, hembusan angin kencang di kawasan dataran tinggi menjadi faktor utama yang sangat menyulitkan proses pemadaman manual di lapangan.
Kronologi dan Jejak Penyebaran Api
Peristiwa kebakaran ini memperlihatkan betapa rentannya kawasan konservasi saat memasuki puncak musim kemarau. Berikut rangkuman perkembangan situasi di lapangan:
- Senin, Hari Pertama: Titik api perdana mulai terdeteksi oleh petugas patroli di salah satu blok lereng TNGC, dengan cepat asap pekat membubung tinggi akibat semak belukar yang mengering.
- Selasa, Upaya Penyekatan: Petugas langsung membuat sekat bakar (ilaran) di sejumlah titik strategis untuk memutus jalur rambatan api ke arah pemukiman dan zona inti.
- Rabu hingga Kini: Hembusan angin yang berubah-ubah arah menyebabkan percikan api melompati jalur sekat, memicu titik api baru di area tebing yang sulit dijangkau armada darat.
Penjelasan BMKG Terkait Kondisi Cuaca Ekstrem
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa anomali cuaca lokal dan kecepatan angin di sekitar lereng Gunung Ciremai menjadi tantangan tersendiri. Tingkat kelembapan udara yang rendah disertai terpaan angin kencang khas kawasan pegunungan membuat material dedaunan kering sangat mudah terpicu api.
"Kombinasi antara kelembapan udara yang sangat minim, suhu siang hari yang cukup terik, serta kecepatan angin pegunungan yang dinamis memicu api cepat membesar dan menyebar ke arah puncak maupun lereng bawah," ungkap perwakilan BMKG dalam keterangannya.
Kondisi ini membuat strategi pemadaman harus disesuaikan secara terus-menerus guna memastikan keselamatan para personel yang berada di garis depan.
Strategi dan Tantangan Tim Gabungan
Untuk menaklukkan medan yang ekstrem, tim penyelamat menerapkan beberapa metode darurat agar karhutla tidak meluas ke area hutan lindung yang lebih dalam:
- Pembuatan Sekat Bakar Manual: Personel membersihkan jalur selebar beberapa meter dari serasah dan ranting kering menggunakan parang dan cangkul.
- Operasi Pemadaman Tradisional: Petugas memanfaatkan teknik gepyok (memukul api) dan semprotan tangki punggung air di titik-titik yang masih bisa diakses dengan berjalan kaki.
- Pemantauan Udara via Drone: Tim memanfaatkan drone termal untuk memetakan arah bara api dan memandu evakuasi jalur petugas di lapangan.
Hingga saat ini, proses pendinginan dan penjagaan di perbatasan zona kebakaran terus diperketat selama 24 jam penuh agar bara api tidak kembali menyala saat malam tiba.
Comments (0)