warkini.
Viral

Basarnas Hentikan Operasi SAR Rombongan Jurnalis di Selat Sunda

Upaya pencarian maraton terhadap rombongan jurnalis dan kru kapal cepat KM Arupadatu I yang dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Sunda akhirnya resmi

Basarnas Hentikan Operasi SAR Rombongan Jurnalis di Selat Sunda

Upaya pencarian maraton terhadap rombongan jurnalis dan kru kapal cepat KM Arupadatu I yang dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Sunda akhirnya resmi dihentikan. Tim SAR gabungan menyudahi penyisiran setelah mengerahkan seluruh armada selama tujuh hari berturut-turut tanpa menemukan tanda-tanda keberadaan korban maupun serpihan utama kapal.

Keputusan berat ini diambil menyusul evaluasi menyeluruh bersama pihak keluarga korban, instansi maritim, dan seluruh unsur SAR yang terlibat di lapangan. Sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) pencarian nasional, operasi standar berlangsung selama tujuh hari kerja.

Kronologi dan Perkembangan Operasi Pencarian

Penyisiran laut dan udara telah dilakukan secara maksimal dengan melibatkan kapal patroli TNI AL, Polairud, armada Basarnas, serta bantuan nelayan lokal. Berikut adalah garis waktu operasi SAR gabungan yang dilakukan sejak hari pertama kapal dinyatakan hilang:

  1. Hari ke-1 (Laporan Awal): KM Arupadatu I yang membawa rombongan jurnalis hilang kontak saat berlayar menembus cuaca buruk di sekitar gugusan Kepulauan Krakatau. Sinyal radio dan pelacak darurat berhenti memancar secara mendadak.
  2. Hari ke-2 hingga ke-4 (Perluasan Wilayah Sisir): Tim SAR mengerahkan helikopter dan kapal penyapu dengan sonar canggih. Radius pencarian diperluas hingga mencapai 40 mil laut ke arah barat daya Selat Sunda dan pesisir selatan Banten.
  3. Hari ke-5 hingga ke-6 (Penyelaman dan Kendala Arus): Tim penyelam diterjunkan di titik koordinat terakhir transmisi kapal, namun terhambat arus bawah laut yang ekstrem serta jarak pandang (visibility) nol di kedalaman dasar laut.
  4. Hari ke-7 (Evaluasi Akhir dan Penutupan): Rapat koordinasi lintas instansi memutuskan penutupan operasi aktif karena nihilnya petunjuk baru di area perairan yang telah disisir berulang kali.
"Kami telah mengerahkan seluruh potensi darat, laut, hingga pantauan udara. Namun sampai hari ketujuh, hasil pencarian masih nihil. Sesuai regulasi, operasi SAR dinyatakan ditutup, tetapi pemantauan pasif tetap berlanjut," ungkap Kepala Kantor SAR Banten saat konferensi pers.

Kondisi Cuaca Ekstrem Jadi Hambatan Utama

Selama sepekan operasi berjalan, kondisi perairan Selat Sunda tercatat sangat dinamis dan menantang. Gelombang laut setinggi 2,5 hingga 4 meter disertai angin kencang kerap memaksa perahu karet dan kapal kecil memperlambat kecepatan manuver pencarian.

Faktor-faktor utama yang menyulitkan tim SAR meliputi:

  • Karakter Arus Kuat: Selat Sunda memiliki arus silang yang sangat kuat antara Samudra Hindia dan Laut Jawa, memungkinkan objek hanyut keluar zona proyeksi awal dalam hitungan jam.
  • Palung Laut Dalam: Topografi dasar laut yang berbukit dan berpalung dalam di dekat kawasan vulkanik menyulitkan alat deteksi sonar mendeteksi bangkai kapal.
  • Anomali Cuaca: Hujan deras dan kabut tebal membatasi pandangan mata telanjang dari helikopter SAR.

Operasi Dapat Dibuka Kembali

Kendati operasi aktif berskala besar resmi ditutup, Basarnas menegaskan bahwa status pencarian dapat dibuka kembali sewaktu-waktu. Hal ini berlaku apabila nelayan atau kapal niaga yang melintas di Selat Sunda menemukan puing atau informasi valid terkait keberadaan KM Arupadatu I.

Pihak keluarga rombongan jurnalis telah menerima penjelasan teknis secara transparan mengenai seluruh upaya yang telah ditempuh petugas di lapangan sejak hari pertama kejadian.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kimberly-sutanto

Reporter Hiburan. Meliput film, musik, dan selebriti Indonesia.

Comments (0)

User