Layar perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali dihiasi warna merah membara pada penutupan perdagangan Rabu, 10 September 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terhempas cukup dalam, melemah 1,29% dan parkir di level 6.591,90. Penurunan ini melanjutkan tren koreksi yang terjadi selama dua hari berturut-turut, menebar kecemasan di kalangan investor ritel. Di saat yang sama, gelombang tekanan jual oleh pemodal mancanegara tak terelakkan, di mana investor asing mencatatkan angka penjualan bersih (net sell) fantastis mencapai Rp1,95 triliun di seluruh pasar.
Kendati iklim pasar saham sedang diliputi kekhawatiran akibat ketidakpastian ekonomi global dan pergeseran dana asing ke pasar obligasi, ada fenomena menarik yang patut dicermati. Di tengah badai aksi jual bernilai triliunan rupiah tersebut, investor asing rupanya tidak sepenuhnya pergi membelakangi bursa saham Indonesia. Mereka justru diam-diam melakukan akumulasi beli (*buy on weakness*) terhadap sepuluh saham pilihan yang harganya dinilai sudah terdiskon cukup murah.
Analisis Koreksi Pasar dan Aksi Sell-off Investor Asing
Koreksi berturut-turut pada indeks acuan domestik ini utamanya didorong oleh aksi lepas portofolio pada saham-saham berkapitalisasi besar (big cap). Ketegangan geopolitik global serta penyesuaian ekspektasi arah suku bunga acuan bank sentral menjadi pemantik utama melesunya gairah pasar modal secara regional dalam beberapa hari terakhir.
Analis Senior Pasar Modal Warkini Research mengungkapkan bahwa pergerakan indeks saat ini sedang berada dalam fase konsolidasi yang sangat menantang. “Investor asing cenderung mengurangi porsi risiko mereka secara agregat karena sentimen makro. Namun perhatikan bahwa pergerakan ini bersifat selektif. Mereka tetap melepas saham berisiko tinggi dan mengalihkan dananya ke emiten dengan fundamental super kokoh,” jelasnya saat diwawancarai.
Daftar Saham Pilihan yang Tetap Diakumulasi Asing
Di tengah derasnya arus modal keluar, aksi borong diam-diam (selective buying) terus terjadi pada emiten dari sektor perbankan terkemuka, telekomunikasi, hingga komoditas yang memiliki valuasi sangat menarik. Langkah ini menandakan bahwa kepercayaan jangka panjang dana asing terhadap prospek bisnis di Indonesia belum sepenuhnya luntur.
| Sektor Emiten | Strategi Investor Asing | Kondisi Valuasi Saham |
|---|---|---|
| Perbankan Big Cap | Akumulasi Bertahap | Terdiskon (Undervalued) |
| Telekomunikasi | Net Buy Konstan | Defensif & Cash Flow Kuat |
| Energi & Komoditas | Koleksi Selektif | Yield Dividen Tinggi |
Berikut adalah deretan 10 saham utama yang dilaporkan terus dikoleksi oleh investor asing di tengah aksi jual masif di bursa:
- Bank Central Asia (BBCA): Tetap diincar karena rasio kredit bermasalah yang sangat rendah dan likuiditas melimpah.
- Bank Rakyat Indonesia (BBRI): Menjadi target akumulasi di area *support* teknikal yang kuat.
- Telkom Indonesia (TLKM): Dikoleksi sebagai saham defensif dengan arus kas operasional yang sangat stabil.
- Bank Mandiri (BMRI): Masuk daftar beli seiring kinerja pertumbuhan laba bersih yang konsisten mendongkrak optimisme.
- Astra International (ASII): Menarik minat asing karena pembagian dividen yang dinilai sangat menggiurkan.
- Adaro Energy (ADRO): Diakumulasi berkat penguatan arus kas operasional di tengah dinamika harga energi.
- GoTo Gojek Tokopedia (GOTO): Mencatat aksi beli bersih selektif dari investor institusi pada harga bawah.
- Indofood Sukses Makmur (INDF): Dianggap sebagai benteng aman dari fluktuasi ketat siklus ekonomi.
- Kalbe Farma (KLBF): Sektor kesehatan yang terus menjadi pilihan utama saat pasar dipenuhi risiko tinggi.
- United Tractors (UNTR): Dikoleksi investor berjangka panjang karena prospek diversifikasi bisnisnya.
Strategi Bagi Investor Ritel: Jangan Panik!
Menghadapi situasi pasar yang bergejolak, investor ritel diimbau untuk tidak terjebak dalam aksi jual panik (panic selling). Penurunan IHSG hingga menembus level 6.591,90 justru dapat dimanfaatkan sebagai momentum emas untuk menyaring emiten berkualitas yang harganya sedang tertekan secara teknikal.
“Gunakan strategi dollar-cost averaging (DCA) dan fokuslah pada emiten yang dikoleksi asing. Saat pasar berdarah, di situlah peluang terbaik untuk mengamankan aset berfundamental kuat dengan harga murah,” tegas sang analis.
Secara teknikal, IHSG kini sedang menguji level *support* krusial di area 6.550. Jika level ini mampu bertahan, peluang untuk mengalami *rebound* teknikal menuju level *resistance* 6.650 akan terbuka lebar dalam beberapa hari mendatang. Oleh karena itu, kecermatan dalam membaca arah pergerakan arus modal asing (foreign flow) menjadi kunci utama untuk meraup keuntungan di tengah ketidakpastian bursa.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 1,29% ke level 6.591,90 pada 10 September 2026. Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp1,95 triliun. Namun, beberapa saham big cap tetap menjadi incaran akumulasi asing. Simak daftar 10 saham yang dibeli asing selengkapnya hanya di Warkini.com!
Comments (0)