Biang Kerok Banjir Kepung Surabaya Saat Musim Kemarau

Surabaya - Fenomena langka terjadi di Kota Pahlawan. Di tengah musim kemarau yang seharusnya identik dengan cuaca kering, puluhan titik di Surabaya justru terendam banjir. Hujan deras yang mengguyu

Jul 08, 2026 - 05:42
0 0
Biang Kerok Banjir Kepung Surabaya Saat Musim Kemarau

Surabaya - Fenomena langka terjadi di Kota Pahlawan. Di tengah musim kemarau yang seharusnya identik dengan cuaca kering, puluhan titik di Surabaya justru terendam banjir. Hujan deras yang mengguyur selama dua hari berturut-turut menjadi pemicu utama genangan yang melumpuhkan sejumlah ruas jalan dan permukiman warga.

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, angkat bicara dan mengungkap sejumlah faktor yang menjadi biang kerok bencana ini. Menurutnya, sistem drainase perkotaan yang belum sepenuhnya purna menjadi salah satu penyebab utama. Sejumlah saluran air mengalami penyempitan dan pendangkalan akibat sedimentasi, sehingga kapasitasnya tidak lagi memadai untuk menampung curah hujan tinggi.

"Saya mohon maaf kepada warga Surabaya atas ketidaknyamanan yang terjadi. Saat ini kami bekerja maksimal di lapangan," ujar Eri Cahyadi dalam keterangannya, Rabu (24/6/2026).

Selain faktor infrastruktur drainase, Eri juga menyoroti perilaku masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan ke saluran air. Tumpukan sampah ini menyumbat aliran dan memperparah genangan di berbagai titik. Pemerintah Kota Surabaya mengaku telah mengerahkan ratusan petugas untuk membersihkan saluran dan mempercepat surutnya air.

Menariknya, banjir kali ini terjadi di luar prediksi musim. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah memperingatkan adanya anomali cuaca yang berpotensi memicu hujan lebat meskipun Jawa Timur seharusnya memasuki puncak musim kemarau. Anomali ini dipicu oleh adanya gangguan atmosfer berupa belokan angin dan kelembapan tinggi di lapisan udara.

Pemkot Surabaya berjanji akan mempercepat proyek normalisasi sungai dan perbaikan sistem drainase yang selama ini terkendala pembebasan lahan. Beberapa titik langganan banjir seperti kawasan Jalan Ahmad Yani, Rungkut, dan Wiyung menjadi prioritas penanganan. Dari data sementara yang dihimpun media kami, sedikitnya 30 titik terendam dengan ketinggian air bervariasi antara 20 hingga 60 sentimeter.

Warga pun mengeluhkan dampak banjir yang mengganggu aktivitas ekonomi. Sejumlah pelaku usaha mikro terpaksa menutup lapak mereka karena lokasi berjualan terendam air. Meski demikian, belum ada laporan korban jiwa dalam peristiwa ini. Tim tanggap darurat terus bersiaga di lapangan untuk membantu warga yang membutuhkan evakuasi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
rangga-pradana

Reporter Lifestyle. Reporter kuliner, travel, dan gaya hidup.

Comments (0)

User