warkini.
Travel

Boualem Sansal Ingin Kembali ke Aljazair Demi Hadapi Sidang Terbuka

Langkah mengejutkan diambil oleh novelis terkemuka berpaspor Prancis-Aljazair, Boualem Sansal. Belum lama menghirup udara bebas setelah mendekam di balik j

Boualem Sansal Ingin Kembali ke Aljazair Demi Hadapi Sidang Terbuka

Langkah mengejutkan diambil oleh novelis terkemuka berpaspor Prancis-Aljazair, Boualem Sansal. Belum lama menghirup udara bebas setelah mendekam di balik jeruji besi selama hampir satu tahun, sang sastrawan kawakan secara terang-terangan menyatakan keinginannya untuk kembali ke tanah kelahirannya, Aljazair. Namun, kepulangannya kali ini bukan untuk berlibur atau menyerah pada keadaan, melainkan demi menuntut proses peradilan yang sah, terbuka, dan bermartabat.

Sansal dibebaskan dari tahanan otoritas Aljazair pada November 2025 lalu setelah gelombang protes internasional dan diplomasi intensif mendesak pembebasannya. Kendati telah aman di luar negeri, pria yang dikenal lewat karya-karyanya yang kritis terhadap rezim otoriter dan fundamentalisme ini menolak untuk sekadar diam sebagai eksil politik.

Menolak Status 'Pengampunan' Tanpa Kepastian Hukum

Bagi Sansal, kebebasannya saat ini menyisakan tanda tanya besar mengenai integritas hukum di negaranya. Ia merasa narasi yang ditinggalkan oleh otoritas Aljazair masih menggantungkan stigma bersalah di pundaknya tanpa pernah melalui proses pembuktian yang adil di mata publik.

"Saya ingin kembali ke Aljazair bukan untuk menyerahkan diri, tetapi untuk diadili dalam sebuah pengadilan yang sesungguhnya. Saya menuntut hak saya untuk membela diri bersama pengacara saya di depan para pemantau independen," tegas Boualem Sansal dalam pernyataan terbarunya.

Langkah berani ini dinilai banyak pihak sebagai pukulan telak bagi aparat penegak hukum Aljazair. Sansal menghendaki adanya pengadilan terbuka yang disaksikan oleh komunitas global guna membuktikan bahwa tuduhan-tuduhan yang selama ini dialamatkan kepadanya bermuatan politis dan bermaksud membungkam kebebasan berekspresi.

Sorotan Internasional dan Tuntutan Transparansi

Penahanan Sansal sebelumnya sempat memicu ketegangan diplomatik antara Paris dan Aljir. Berbagai organisasi hak asasi manusia serta asosiasi sastra dunia, termasuk PEN International, berulang kali mengecam kriminalisasi terhadap sastrawan berusia senja tersebut.

Untuk memastikan proses hukum yang adil jika ia benar-benar kembali, Sansal menetapkan beberapa syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh otoritas Aljazair:

  • Akses Penuh Tim Hukum: Kehadiran pengacara independen pilihannya tanpa intimidasi selama persidangan berlangsung.
  • Kehadiran Pemantau Internasional: Izin resmi bagi pengamat independen, perwakilan PBB, dan jurnalis asing untuk meliput ruang sidang secara langsung.
  • Transparansi Berkas Perkara: Akses penuh terhadap seluruh dokumen dakwaan yang selama masa penahanan sebelumnya dinilai kabur dan tertutup.

Keinginan Sansal ini menempatkan pemerintah Aljazair dalam posisi dilematis. Jika pemerintah mengabaikan atau menolaknya, mereka akan dinilai takut menghadapi proses hukum yang transparan. Sebaliknya, jika mereka mengabulkannya, sorotan mata dunia akan langsung tertuju pada sistem peradilan Aljazair yang selama ini kerap menuai kritik tajam.

Perjuangan Boualem Sansal membuktikan bahwa bagi seorang intelektual sejati, kebebasan fisik tidak ada artinya tanpa adanya keadilan moral dan pemulihan nama baik yang utuh di hadapan publik.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS wendy-anwar

Reporter Travel. Menjelajah destinasi Indonesia dan tips wisata.

Comments (0)

User