Warkini.com — Blok ekonomi negara berkembang yang tergabung dalam BRICS semakin agresif mengambil langkah nyata untuk melepaskan diri dari ketergantungan terhadap dolar AS. Langkah berani ini ditunjukkan dengan mematangkan infrastruktur sistem pembayaran rahasia dan independen yang dirancang khusus untuk memfasilitasi perdagangan lintas batas tanpa campur tangan mata uang Paman Sam maupun sistem perbankan Barat.
Dominasi dolar AS yang selama berdekade-dekade menjadi tulang punggung transaksi internasional kini mulai goyah. Dorongan utama percepatan sistem baru ini tak lepas dari dinamika geopolitik global, terutama sejak sanksi ekonomi Barat membekukan cadangan devisa Rusia. Negara-negara anggota BRICS—yang kini mencakup Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan, serta anggota baru seperti Uni Emirat Arab, Mesir, Ethiopia, dan Iran—menyadari pentingnya kedaulatan finansial yang mandiri.
Langkah Kronologis Membangun Jalur Pembayaran Alternatif
Proses pembentukan arsitektur keuangan baru ini tidak terjadi dalam semalam. BRICS telah menyusun peta jalan terstruktur guna memastikan sistem pembayaran alternatif ini beroperasi tanpa hambatan teknis maupun intervensi asing:
- Tahun 2022: Pengetatan sanksi ekonomi Barat dan pemblokiran akses SWIFT terhadap bank-bank Rusia menjadi sinyal alarm bagi negara berkembang untuk segera mencari sistem pembayaran cadangan.
- Tahun 2023: KTT BRICS di Afrika Selatan menyepakati komitmen bersama untuk meningkatkan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral hingga mencapai lebih dari 50% dari total perdagangan antarnegara anggota.
- Awal 2024: Pengembangan platform digital berbasis teknologi ledger terdistribusi (blockchain) yang dikenal sebagai BRICS Pay mulai diuji coba secara terbatas untuk pengiriman uang lintas batas.
- Akhir 2024: Integrasi sistem pembayaran nasional dari masing-masing negara anggota, seperti MIR (Rusia), UnionPay (Tiongkok), dan UPI (India), ke dalam satu jaringan inklusif yang saling terhubung.
Analisis Perbandingan: BRICS Pay vs SWIFT
Untuk memahami betapa mendasarnya perubahan ini, kita perlu melihat bagaimana sistem pembayaran baru BRICS dirancang untuk menandingi kejayaan sistem SWIFT yang berbasis di Belgia dan selama ini didominasi oleh transaksi mata uang dolar AS serta euro.
| Fitur / Parameter | Sistem SWIFT (Barat) | BRICS Pay (Sistem Baru) |
|---|---|---|
| Mata Uang Utama | Dolar AS (USD) & Euro (EUR) | Mata Uang Lokal & Aset Digital |
| Teknologi Dasar | Perbankan Tradisional Terpusat | Blockchain & Decentralized Ledger |
| Kerentanan Sanksi | Sangat Tinggi (Bisa Diblokir) | Rendah (Tahan Sanksi Sepihak) |
| Biaya & Kecepatan | Biaya Tinggi, 1-3 Hari Kerja | Biaya Rendah, Real-Time Peer-to-Peer |
Pasar global kini mengamati dengan seksama pergeseran peta kekuatan ekonomi ini. Dengan porsi produk domestik bruto (PDB) BRICS yang telah mencapai 35% GDP Global berdasarkan kesetaraan daya beli (PPP)—melampaui kelompok G7 yang berada di angka 30% GDP Global—ancaman terhadap dominasi dolar AS bukan lagi sekadar gertakan politik belaka.
"Dedolarisasi bukan lagi sekadar wacana politik, melainkan kebutuhan logistik dan keamanan finansial bagi negara-negara berkembang yang ingin melindungi perekonomian mereka dari senjata sanksi ekonomi sepihak," ujar analis senior pasar keuangan internasional.
Masa Depan Perdagangan Global Tanpa Dolar AS
Meskipun dolar AS saat ini masih memegang sekitar 58% dari total cadangan devisa dunia, tren penurunan partisipasinya terus berlanjut. Volume transaksi langsung antara Tiongkok dan Rusia yang menggunakan Yuan dan Rubel bahkan dilaporkan telah menembus angka 80% dari total perdagangan kedua negara tersebut.
Jika sistem pembayaran independen ini diluncurkan secara penuh dan diadopsi oleh lebih dari 30 negara mitra yang antusias ingin bergabung, peta keuangan dunia dipastikan bakal berubah secara drastis. Pasar berkembang tidak lagi harus bergantung pada konversi dolar AS yang sering kali memicu inflasi impor dan krisis likuiditas di berbagai belahan dunia.
Negara-negara anggota BRICS yang menguasai 35% PDB dunia makin agresif mendorong dedolarisasi lewat platform BRICS Pay. Simak kronologi dan analisis dampaknya hanya di Warkini.com!
Comments (0)