Suasana di koridor perkuliahan yang biasanya ramai mendadak lengang. Ratusan hingga ribuan mahasiswa melangkah keluar dari kelas secara serentak, meninggalkan papan tulis dan bangku kuliah demi menyuarakan amarah mereka di jalanan. Pada Jumat (18/9), riuh teriakan demonstrasi menggema di lingkungan kampus University of the Philippines (UP) dan Polytechnic University of the Philippines (PUP). Langkah drastis berupa walkout alias aksi mogok kuliah ini digelar sebagai bentuk perlawanan keras terhadap dugaan skandal korupsi pemerintah serta ancaman pangkasan anggaran pendidikan tinggi secara masif pada 2027.
Aksi serentak yang dipusatkan di kampus UP Diliman dan UP Los Baños dimulai sejak pukul 11.30 waktu setempat. Bendera-bendera organisasi mahasiswa dikibarkan tinggi-tinggi di bawah terik matahari Manila, sementara suara pengeras suara tak henti-hentinya membedah ketimpangan kebijakan publik. Para mahasiswa menganggap keputusan pemerintah mengeringkan dana untuk universitas negeri sebagai tindakan yang merenggut masa depan generasi muda Filipina.
"Kami tidak bisa tinggal diam ketika ruang kelas kami rusak dan fasilitas laboratorium memprihatinkan, sementara pejabat negara terus menggelapkan dana publik tanpa rasa malu. Pendidikan adalah hak seluruh rakyat, bukan barang dagangan!" tegas Maria Santos, perwakilan aliansi mahasiswa dalam orasinya yang membakar semangat massa.
Beban Berat Perguruan Tinggi Negeri dan Bahaya Pemotongan Anggaran
Warkini.com mencatat bahwa ancaman penghematan anggaran ini bukanlah yang pertama kali membayangi dunia pendidikan di Filipina. Namun, rencana pemangkasan alokasi dana untuk tahun anggaran 2027 dipandang sebagai pukulan paling mematikan bagi eksistensi perguruan tinggi negeri. Universitas seperti UP dan PUP merupakan tumpuan utama bagi puluhan ribu mahasiswa dari kalangan keluarga menengah ke bawah yang mengandalkan subsidi penuh dari negara.
Guna memberikan gambaran lebih jelas mengenai situasi pergerakan ini, berikut adalah peta pergerakan aksi dan dampaknya terhadap kampus-kampus terdampak:
| Kampus / Lokasi | Waktu Aksi | Poin Isu Utama |
|---|---|---|
| UP Diliman (Quezon City) | 11:30 AM | Pemotongan dana riset, fasilitas rusak, dan korupsi pejabat. |
| UP Los Baños (Laguna) | 11:30 AM | Pengurangan subsidi sains/pertanian dan kuota mahasiswa baru. |
| PUP Main Campus (Manila) | Aksi Simultan | Krisis alokasi dana operasional dasar dan ruang kuliah layak. |
Dampak Domino Bagi Sistem Pendidikan Nasional
Pemotongan anggaran ini diperkirakan akan memicu efek domino yang sangat mengkhawatirkan di sektor pendidikan. Tanpa subsidi dana yang memadai dari pemerintah pusat, universitas terpaksa membatasi jumlah penerimaan mahasiswa baru, memotong honorarium dosen serta staf pengajar, hingga menghentikan berbagai program riset ilmiah penting. Di saat yang sama, publik Filipina terus disuguhkan oleh berbagai laporan investigasi mengenai pembengkakan dana taktis eksekutif yang rawan penyelewengan.
"Sangat ironis ketika anggaran untuk sektor vital seperti pendidikan terus digerogoti dengan alasan efisiensi anggaran, namun dana kementerian lain yang penuh celah korupsi justru melambung tinggi," cetus seorang pengamat kebijakan publik di Manila. Ketimpangan prioritas ini memicu kemarahan kolektif yang menyatukan civitas akademika dari berbagai disiplin ilmu.
Eskalasi Gerakan Mahasiswa dan Respon Pemerintah
Aksi mogok kuliah ini diprediksi akan menjadi pemantik gelombang protes yang jauh lebih besar di seluruh pelosok Filipina. Para pimpinan organisasi mahasiswa telah mengancam akan menggelar unjuk rasa susulan yang melibatkan serikat buruh, akademisi, dan sektor masyarakat sipil apabila pemerintah tidak segera merevisi rencana pemangkasan anggaran tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, pihak otoritas pemerintah Filipina belum memberikan tanggapan resmi terkait tuntutan para mahasiswa. Namun, tekanan yang meluap dari jalanan ini dipastikan akan memanaskan meja diskusi di parlemen saat pembahasan rancangan anggaran mendatang. Bagi para mahasiswa, aksi ini bukan sekadar membolos kuliah sehari, melainkan pertaruhan besar demi mempertahankan kelangsungan pendidikan inklusif di negeri mereka.
Comments (0)