Lanskap savana Gunung Bromo yang megah dan memanjakan mata sering kali berada dalam ancaman serius si jago merah. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seolah menjadi siklus tahunan yang berulang di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Setiap kali musim kemarau ekstrem tiba, ancaman kerusakan ekosistem yang masif dan potensi penutupan jalur wisata selalu menghantui warga serta para pelaku pariwisata lokal. Menanggapi fenomena berulang ini, pakar pariwisata dari Universitas Andalas, Sari Lenggogeni, mendorong pihak pengelola kawasan untuk segera mengubah pola pikir dengan menerapkan sistem mitigasi bencana yang jauh lebih terukur dan tidak sekadar responsif.
Menurut analisisnya, penanganan kebakaran di destinasi pariwisata berkelas dunia seperti Bromo tidak bisa lagi mengandalkan metode konvensional. Pemadaman api saat bencana terjadi dan penutupan kawasan wisata hanyalah solusi darurat sementara yang justru menyisakan dampak ekonomi berkepanjangan. Diperlukan langkah preventif berkelanjutan yang terintegrasi demi menjaga kelestarian lingkungan dan kelangsungan hidup masyarakat setempat secara bersamaan.
Mengapa Mitigasi Berbasis Risiko Menjadi Kunci Utama?
Sari Lenggogeni mendorong Balai Besar TNBTS dan pemangku kepentingan terkait untuk bertransformasi menuju mitigasi berbasis risiko. Pendekatan ini berfokus pada analisis potensi bahaya secara mendalam, pemetaan titik rawan api, pengawasan ketat aktivitas wisatawan, hingga penetapan daya tampung kawasan (carrying capacity) yang realistis demi mencegah terjadinya kelalaian manusia.
"Kita tidak boleh hanya bertindak ketika api sudah membesar. Pengelola destinasi pariwisata harus memiliki peta risiko yang jelas dan prosedur standar operasional (SOP) pencegahan yang sangat ketat. Setiap pelaku pariwisata dan wisatawan wajib memahami risiko lingkungan di area savana yang sangat rentan ini," ujar Sari Lenggogeni.
Dampak kebakaran Bromo tidak hanya membakar ratusan hektar flora endemik seperti rumput savana dan edelweis, tetapi juga memukul telak perekonomian masyarakat Tengger. Saat kawasan Bromo ditutup total akibat api, potensi kerugian ekonomi yang dialami oleh pengemudi jip, pemilik homestay, pedagang kecil, hingga pemandu wisata bisa mencapai miliaran rupiah per hari.
Perbandingan Pendekatan Penanganan Kebakaran Destinasi Wisata
Berikut adalah perbandingan antara pola penanganan konvensional yang berfokus pada respons darurat dengan pendekatan mitigasi berbasis risiko yang ditawarkan para ahli:
| Aspek Penanganan | Pendekatan Konvensional (Responsif) | Mitigasi Berbasis Risiko (Preventif) |
|---|---|---|
| Fokus Utama | Pemadaman saat api sudah menjalar | Pencegahan dan analisis potensi kerentanan |
| Sistem Pemantauan | Patroli berkala skala terbatas | Monitoring real-time dan analisis cuaca/kelembapan |
| Edukasi Pengunjung | Imbauan umum tanpa pengawasan ketat | Orientasi keselamatan wajib dan pembatasan alat pemicu api |
| Dampak Ekonomi | Kerugian fatal akibat penutupan kawasan berulang | Risiko minim karena potensi bencana terkendali sejak dini |
Langkah Strategis Perlindungan Ekosistem dan Wisata Bromo
Untuk mengeksekusi mitigasi berbasis risiko ini secara nyata di lapangan, terdapat beberapa pilar penting yang harus diterapkan secara konsisten oleh pengelola kawasan dan seluruh pihak terkait:
- Sistem Peringatan Dini (Early Warning System): Memasang sensor suhu dan kelembapan udara di area savana yang sangat kering untuk mendeteksi potensi percikan api secara otomatis.
- Regulasi Ketat Pembawa Alat Pemicu Api: Melarang keras penggunaan barang berisiko tinggi seperti flare, kembang api, dan pembuat api unggun liar tanpa izin khusus dan pengawasan petugas.
- Pemberdayaan Masyarakat Peduli Api: Mengintegrasikan warga suku Tengger dan pelaku jip lokal sebagai tim pemantau awal di lapangan yang dibekali pelatihan penanggulangan bencana.
- Fasilitas Pemadam Portabel di Pos Wisata: Menyiapkan alat pemadam api ringan dan penampungan air strategis di sepanjang jalur utama jip dan area tempat kumpul pengunjung.
Pada akhirnya, menjaga keindahan Gunung Bromo bukan sebatas mempertahankan estetika latar foto di media sosial. Ini adalah tanggung jawab moral bersama untuk melindungi keanekaragaman hayati dan kehidupan warga lokal. Sinergi antara pengelola, akademisi, wisatawan, dan warga Tengger adalah kunci mutlak agar Bromo tetap menjadi pesona kebanggaan Indonesia tanpa perlu terus-menerus dirundung ancaman si jago merah.
Comments (0)