Cadangan Devisa Indonesia Naik Tipis ke US$ 145,6 Miliar, Ditopang Pajak dan Jasa

Posisi cadangan devisa Indonesia kembali menunjukkan tren positif. Bank Indonesia (BI) mencatat jumlahnya mencapai US$ 145,6 miliar pada akhir Juni 2026, naik tipis dari posisi akhir Mei yang sebesar

Jul 08, 2026 - 08:29
0 1
Cadangan Devisa Indonesia Naik Tipis ke US$ 145,6 Miliar, Ditopang Pajak dan Jasa

Posisi cadangan devisa Indonesia kembali menunjukkan tren positif. Bank Indonesia (BI) mencatat jumlahnya mencapai US$ 145,6 miliar pada akhir Juni 2026, naik tipis dari posisi akhir Mei yang sebesar US$ 144,9 miliar. Peningkatan ini terjadi di tengah berbagai tekanan global yang memengaruhi pasar keuangan, menandakan ketahanan eksternal yang tetap solid.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan secara rinci faktor-faktor utama di balik penguatan cadangan devisa tersebut. Dalam keterangannya yang diperoleh Warkini.com pada Selasa (7/7/2026), ia menekankan peran vital penerimaan negara.

“Perkembangan posisi cadangan devisa Juni 2026 tersebut dipengaruhi terutama oleh penerimaan pajak dan jasa di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah Bank Indonesia sebagai respons terhadap tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.”

Pernyataan itu mengonfirmasi bahwa sektor fiskal, melalui penerimaan pajak, menjadi penopang utama. Meskipun pemerintah tetap melakukan kewajiban pembayaran utang luar negeri, aliran dana dari pajak dan jasa mampu mengimbangi, bahkan mendorong kenaikan tipis posisi cadangan devisa. Di sisi lain, BI juga aktif melakukan langkah-langkah stabilisasi di pasar valuta asing untuk menjaga nilai tukar rupiah.

Kondisi ketidakpastian pasar keuangan global yang dimaksud berkaitan dengan dinamika suku bunga internasional, pergerakan mata uang utama dunia, dan sentimen risiko yang kerap memicu aliran modal keluar dari negara berkembang. Dengan cadangan devisa yang tetap kuat dan bahkan meningkat, Indonesia dinilai memiliki bantalan yang cukup untuk meredam guncangan eksternal tersebut. Angka US$ 145,6 miliar itu setara dengan pembiayaan lebih dari enam bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional yang hanya tiga bulan.

Penerimaan pajak yang meningkat menandakan aktivitas ekonomi domestik yang masih bergerak, sementara penerimaan jasa bisa berasal dari surplus perdagangan atau ekspor jasa. Dua komponen tersebut secara langsung menambah pasokan valuta asing ke dalam negeri, yang kemudian dikelola BI sebagai bagian dari cadangan devisa. Dengan menjaga likuiditas valas, BI juga memastikan bahwa kebutuhan transaksi internasional, seperti impor bahan baku dan barang modal, tetap terpenuhi tanpa gangguan. Stabilitas nilai tukar pun turut dikendalikan agar tidak memberatkan sektor riil.

Posisi cadangan devisa yang terjaga menjadi salah satu indikator penting dalam penilaian peringkat kredit Indonesia oleh lembaga internasional. Kenaikan ini, meskipun tidak terlalu besar secara persentase, tetap memberikan sinyal positif bagi investor dan mitra dagang terkait stabilitas ekonomi nasional dalam menghadapi tantangan global yang belum mereda. Demikian laporan terkini yang berhasil dihimpun media kami, Warkini.com.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
rangga-pradana

Reporter Lifestyle. Reporter kuliner, travel, dan gaya hidup.

Comments (0)

User