Harga Ponsel Naik, Ikut Dongkrak Inflasi Juni 2026
Lonjakan harga telepon seluler pada Juni 2026 turut memberi tekanan pada laju inflasi tahunan. Berdasarkan rilis terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), harga ponsel tercatat mengalami kenaikan sebesar
Lonjakan harga telepon seluler pada Juni 2026 turut memberi tekanan pada laju inflasi tahunan. Berdasarkan rilis terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), harga ponsel tercatat mengalami kenaikan sebesar 1,61% secara bulanan. Kenaikan ini membuat komoditas tersebut menyumbang andil 0,01% terhadap inflasi tahunan periode yang sama.
Meskipun angka 0,01% terlihat kecil, kontribusinya tidak bisa diabaikan. Ponsel merupakan salah satu dari sekian banyak barang elektronik yang masuk dalam keranjang penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK). Dalam beberapa bulan terakhir, harga alat komunikasi memang menunjukkan tren naik, sejalan dengan pelemahan nilai tukar rupiah dan meningkatnya biaya komponen di pasar global.
BPS mencatat, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan secara umum masih relatif terkendali. Namun, subkelompok peralatan telekomunikasi justru menunjukkan tekanan inflasi yang cukup terasa. Kenaikan 1,61% itu bahkan menjadi yang tertinggi sejak awal tahun, mengalahkan kenaikan pada Mei yang hanya 0,9%.
"Harga ponsel memang fluktuatif, sangat bergantung pada rantai pasok dan kurs. Kenaikan kali ini cukup signifikan karena bersamaan dengan merangkaknya harga chip global dan biaya logistik," ujar seorang pejabat BPS dalam keterangan pers yang dikutip media kami.
Secara tahunan, inflasi Juni 2026 berada di level yang masih dalam target pemerintah. Namun, sumbangan dari komoditas non-makanan seperti ponsel menjadi sinyal bahwa tekanan harga tidak hanya datang dari pangan dan energi. Kenaikan harga ponsel ini juga dipengaruhi oleh faktor musiman, seperti peluncuran model baru yang membuat permintaan melonjak di tengah pasokan yang terbatas.
Dari pantauan di lapangan, beberapa gerai resmi dan toko daring memang melakukan penyesuaian harga pada awal Juni. Kenaikan berkisar antara Rp100.000 hingga Rp300.000 per unit untuk segmen menengah ke bawah, sementara untuk ponsel kelas atas kenaikannya bisa lebih tinggi. Hal ini langsung mempengaruhi daya beli sebagian konsumen yang sebelumnya menunda pembelian.
Di sisi lain, penetrasi internet yang terus meningkat membuat ponsel bukan lagi barang sekunder, melainkan kebutuhan primer bagi banyak rumah tangga. Itulah sebabnya pergerakan harganya berdampak langsung pada pengeluaran rutin masyarakat. Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin ponsel akan menjadi penyumbang inflasi yang lebih besar pada bulan-bulan mendatang.
BPS akan terus memantau pergerakan harga alat komunikasi ini, terlebih menjelang kuartal ketiga yang kerap diramaikan oleh peluncuran produk baru. Sementara itu, pelaku industri diharapkan dapat menjaga stabilitas pasokan agar gejolak harga tidak semakin membebani inflasi nasional. Demikian laporan dari Warkini.com.
Comments (0)