Langkah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertahan di zona merah pada pembukaan perdagangan sesi pertama. Indeks komposit terpantau melemah 7,24 poin atau 0,11 persen ke level 6.453,91. Kondisi ini memperpanjang tren koreksi setelah pada penutupan perdagangan hari sebelumnya indeks anjlok hingga 1,13 persen ke posisi 6.461.
Aktivitas di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) tampak masih bergerak lesu akibat minimnya katalis positif baru yang sanggup memompa optimisme pelaku pasar. Sebagian besar investor memilih bersikap hati-hati sambil mencermati dinamika ekonomi global yang kian menantang.
Minim Sentimen Positif, Indeks Uji Level Psikologis
Tekanan yang dialami pasar saham domestik diperkirakan masih akan berlanjut sepanjang hari ini. Analis menilai, ruang gerak IHSG cukup terbatas dan rentan mengalami penurunan lanjutan menuju level support berikutnya.
"IHSG akan menguji level 6.350 hingga 6.400," tulis Tim Analis Phintraco Sekuritas dalam kajian riset hariannya.
Kondisi pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh fenomena wait and see dari para pelaku pasar modal. Sikap wait and see tersebut dipicu oleh dua sentimen utama dari ranah internasional, yakni lonjakan harga minyak mentah dunia serta meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kemungkinan pengetatan moneter lebih lanjut oleh bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed).
Kombinasi antara biaya energi yang melambung dan tren suku bunga tinggi global dikhawatirkan dapat membebani kinerja emiten, sekaligus memicu tekanan tambahan terhadap stabilitas nilai tukar rupiah yang sebelumnya juga ditutup melemah.
Aksi Jual Investor Asing Menggerus Saham Blue Chip
Pelemahan IHSG semakin diperparah oleh derasnya arus keluar dana asing (capital outflow). Tercatat aksi jual bersih atau net sell investor asing mencapai Rp354,16 miliar pada perdagangan sebelumnya.
Tekanan jual ini menyasar sejumlah saham berkapitalisasi pasar besar (big cap) yang biasanya menjadi motor penggerak indeks. Berikut adalah beberapa saham yang paling banyak dilepas oleh investor asing:
- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI)
- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI)
- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI)
- PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN)
- PT Astra International Tbk (ASII)
Strategi Menghadapi Volatilitas Pasar
Dengan kondisi pasar yang masih dibayangi ketidakpastian, para pelaku pasar diimbau untuk lebih selektif dalam menyusun portofolio investasi. Mengingat sektor perbankan dan saham-saham siklikal tengah mengalami tekanan aksi jual, investor disarankan mengutamakan manajemen risiko yang ketat.
Pendekatan defensif dengan mencermati saham-saham yang memiliki fundamental solid serta valuasi menarik bisa menjadi pilihan bijak sembari menunggu meredanya tekanan eksternal dan pulihnya minat beli investor institusi maupun asing di bursa domestik.
IHSG sesi I dibuka melemah 0,11% ke level 6.453,91. Minimnya katalis positif, pelemahan rupiah, serta kekhawatiran kenaikan suku bunga The Fed membuat investor cenderung 'wait and see'. Asing tercatat membukukan net sell pada saham-saham big cap seperti BMRI, BBRI, dan ASII. Simak ulasan lengkapnya di Warkini.com!
Comments (0)