warkini.
Travel

JAKARTA — Arswendy Bening Swara Pinjam Kesedihan Korban Hilang untuk Film

Pendalaman karakter dalam seni peran sering kali membutuhkan keberanian untuk menyentuh ruang emosional paling kelam. Hal inilah yang dirasakan aktor veter

JAKARTA — Arswendy Bening Swara Pinjam Kesedihan Korban Hilang untuk Film

Pendalaman karakter dalam seni peran sering kali membutuhkan keberanian untuk menyentuh ruang emosional paling kelam. Hal inilah yang dirasakan aktor veteran Arswendy Bening Swara saat dipercaya memerankan tokoh Bapak Wibisana dalam adapatasi film Laut Bercerita. Beradu peran dengan aktris senior Christine Hakim yang memerankan sosok Ibu, Arswendy dituntut untuk mampu menghadirkan spektrum emosi yang sangat kompleks: dari rasa kehilangan, penantian tanpa kepastian, hingga harapan rapuh seorang ayah yang anaknya dihilangkan secara paksa.

Dalam konferensi pers yang digelar di XXI Plaza Senayan pada Rabu, 9 September 2026, Arswendy mengungkapkan bahwa pendekatan akting yang digunakannya bukanlah teori akademis yang rumit, melainkan metode empati yang sangat personal. Ia memilih untuk "meminjam kesedihan" dari orang-orang di kehidupan nyatanya yang secara langsung terdampak oleh tragedi penghilangan paksa tersebut.

Proses Emosional: Menyelami Luka Keluarga Korban Penghilangan Paksa

Arswendy menceritakan bahwa referensi emosional utamanya berasal dari interaksi nyata dengan kerabat korban. Ia bersahabat dekat dengan seorang anak yang ayahnya diculik dan belum pernah kembali hingga hari ini. Pengalaman empiris sahabatnya tersebut menjadi pijakan utama dalam membangun gestur, tatapan mata, dan jiwa dari karakter Bapak Wibisana.

“Bukan kebetulan tapi saya sedang berteman juga dengan salah satu anak yang bapaknya belum kembali. Jadi saya coba meminjam kesedihannya,” ujar Arswendy di hadapan para awak media.

Ia menambahkan bahwa sahabatnya tersebut masih sangat kecil ketika peristiwa nahas terjadi. “Anak tersebut masih berusia sekitar 3 hingga 4 tahun ketika ayahnya menghilang. Saya coba memahami kesedihan keluarga tersebut melalui percakapan personal yang sangat mendalam,” tuturnya penuh haru.

Melalui narasi tersebut, Arswendy mencoba menangkap paradoks psikologis seorang ayah. Di satu sisi, akal sehat menyadari potensi terburuk bahwa sang anak mungkin telah tiada. Namun di sisi lain, ikatan batin seorang pengayom keluarga menolak untuk memadamkan api harapan.

Kronologi Pendalaman Peran dan Pendekatan Karakter

Untuk menerjemahkan naskah adaptasi novel karya Leila S. Chudori ini ke layar lebar, Arswendy melewati beberapa tahapan penting dalam membentuk keaktoran yang presisi:

  1. Riset Interpersonal: Melakukan dialog intim dengan penyintas dan keluarga korban untuk menyerap gestur kesedihan yang autentik tanpa dibuat-buat.
  2. Internalisasi Karakter: Membangun kebiasaan kecil tokoh Bapak Wibisana, seperti tradisi menyediakan piring makan untuk Biru Laut di meja makan setiap hari Minggu.
  3. Penjiwaan Tanpa Teori: Menolak pendekatan teknis yang kaku, Arswendy lebih memilih mengalirkan ingatan emosional atas ketidakadilan yang dialami sahabatnya ke dalam tiap adegan.

Berikut adalah perbandingan pendekatan teknis dan emosional yang diterapkan dalam pembentukan karakter film ini:

Aspek Pendekatan Metode Teknis Biasa Metode Arswendy Bening Swara
Sumber Riset Studi naskah dan dokumen sejarah Empati langsung & "meminjam kesedihan" sahabat korban
Ekspresi Emosi Dramatisasi adegan menangis Penantian sunyi yang menyimpan ketabahan mendalam
Fokus Karakter Penampilan fisik dan dialog Resonansi batin seorang ayah yang menolak menyerah

Sorotan Internasional dan Harapan Bagi Rekonsiliasi Sejarah

Kerja keras jajaran pemeran dan tim produksi Laut Bercerita membuahkan hasil manis di kancah global. Film ini dipastikan masuk dalam kompetisi utama Busan International Film Festival (BIFF) 2026. Pengakuan di festival internasional ini menegaskan bahwa pesan kemanusiaan dan ingatan kolektif atas pelanggaran HAM masa lalu memiliki resonansi universal.

Arswendy berharap penampilannya tidak hanya menjadi tontonan hiburan semata, tetapi juga menjadi media pengingat bahwa di balik angka-angka sejarah yang dingin, ada keluarga yang hingga kini masih setia menunggu ketukan pintu dari anak-anak mereka yang tak kunjung pulang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sasha-gunawan

Reporter Fashion & Beauty. Meliput tren mode, kecantikan, dan industri kreatif.

Comments (0)

User