Jakarta kembali diuji dengan masalah infrastruktur klasik yang tak kunjung usai. Kali
Penyebabnya? Tim Dinas Sumber Daya Air (SDA) yang diterjunkan langsung ke lokasi menemukan fakta mencengangkan. Gorong-gorong beton di bawah aspal ternyata
Penyebabnya? Tim Dinas Sumber Daya Air (SDA) yang diterjunkan langsung ke lokasi menemukan fakta mencengangkan. Gorong-gorong beton di bawah aspal ternyata sudah keropos parah. Diduga kuat, usia saluran air yang sudah puluhan tahun itu menjadi biang keladi amblasnya permukaan jalan. Air yang terus-menerus merembes menggerus tanah dasar, menciptakan rongga bawah tanah yang sewaktu-waktu bisa runtuh kalau dapat tekanan, entah itu dari hujan deras atau beban kendaraan yang lewat. “Gorong-gorongnya sudah lapuk, bisa dibilang ini infrastruktur warisan zaman baheula yang belum sempat tersentuh revitalisasi,” ujar salah satu petugas SDA di lokasi kejadian.
Fenomena jalan ambles ini sebenarnya bukan barang baru buat warga Jakarta. Sejak awal 2024 saja, setidaknya sudah terjadi tujuh insiden serupa yang tersebar di berbagai titik, mulai dari Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, hingga Jalan Raya Pasar Minggu. Polanya hampir sama: tanah labil, saluran air bocor, dan minimnya perawatan preventif. Warga pun makin resah karena jalan yang seharusnya jadi urat nadi mobilitas berubah jadi ‘jebakan Batman’ yang mengancam keselamatan.
Pemprov Jakarta melalui akun media sosial resminya langsung merespons cepat dengan menutup total akses di sekitar titik amblesan. Proses perbaikan darurat langsung dikebut menggunakan material urugan dan pengecoran sementara. Namun, banyak pihak mempertanyakan: kenapa harus menunggu jalan ambles dulu, baru bertindak?
Bukan Sekadar Gorong-Gorong Lapuk: Akar Masalah Infrastruktur Bawah Tanah
Fenomena jalan ambles di Jakarta seringkali hanya dilihat sepotong-sepotong. Padahal, masalah ini adalah puncak gunung es dari krisis tata kelola ruang bawah tanah yang akut. Banyak gorong-gorong dan utilitas lain (pipa PDAM, kabel listrik, gas) yang ditanam tanpa perencanaan terpadu puluhan tahun silam. Kondisinya makin diperparah dengan masifnya pembangunan gedung tinggi dan penurunan muka air tanah. Ketika tanah turun (land subsidence) dan struktur beton di bawahnya keropos, yang terjadi adalah rongga atau void. Data dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia mencatat, lebih dari 40% wilayah Jakarta Utara dan Jakarta Barat mengalami penurunan tanah signifikan, rata-rata 1 hingga 12 sentimeter per tahun. Kombinasi tanah yang terus turun dan beban kendaraan berat di permukaan bakal bikin aspal jadi mudah retak, lalu runtuh.Perbandingan Insiden Jalan Ambles di Jakarta (Januari - Juli 2024)
| Lokasi | Kedalaman Ambles | Penyebab Utama | Waktu Perbaikan |
|---|---|---|---|
| Kebon Jeruk, Jakbar | 1 meter | Gorong-gorong lapuk | 24 jam (perbaikan darurat) |
| HR Rasuna Said, Jaksel | 2,5 meter | Pipa air pecah | 72 jam |
| Jalan Raya Pasar Minggu | 1,5 meter | Tanah tergerus hujan | 48 jam |
| Gedong Panjang, Jakut | 3 meter | Konstruksi MRT fase 2 | 96 jam (penanganan khusus) |
Dari tabel di atas, kelihatan kan, kalau durasi perbaikan rata-rata memakan waktu 2–4 hari. Itu pun hanya solusi tambal sulam di permukaan tanpa menyelesaikan akar masalah di bawah tanah. Setiap musim hujan tiba, bisa dipastikan titik-titik yang sama akan kembali ambles, dan siklusnya terus berulang.
Comments (0)