Suasana senyap nan syahdu menyelimuti ruang utama Masjid Istiqlal, Jakarta, pada Kamis (19/2/2026). Di hari pertama bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, ribuan umat Muslim tampak memadati setiap sudut karpet merah masjid terbesar di Asia Tenggara tersebut. Di bawah kubah raksasa yang megah, alunan ayat-ayat suci Al-Quran terdengar bersahut-sahutan dari bibir para jemaah yang sedang khusyuk melaksanakan ibadah tadarus. Momen ini menjadi penanda dimulainya perjalanan spiritual sebulan penuh untuk menggalang pahala dan menguatkan fondasi iman.
Kegiatan membaca Al-Quran, baik secara bersama-sama maupun mandiri, menjadi pemandangan ikonik yang selalu berulang setiap kali Ramadan menyapa. Banyak di antara para jemaah yang mematok target pribadi sejak hari pertama, seperti mengkhatamkan Al-Quran setidaknya satu kali selama bulan puasa. Metode yang paling populer diterapkan adalah membaca 1 juz per hari, sehingga dalam kurun waktu 30 hari Ramadan, seluruh 30 juz Al-Quran dapat tuntas dibaca dengan sempurna.
Target ODOJ dan Kedisiplinan Ibadah Ramadan
Tradisi One Day One Juz (ODOJ) bukan sekadar mengejar target kuantitas bacaan, melainkan sebuah latihan kedisiplinan diri bagi umat Islam. Dengan membagi bacaan Al-Quran menjadi beberapa lembar setelah salat fardu, target satu juz sehari terasa jauh lebih ringan dan realistis untuk dicapai oleh siapa saja, mulai dari pekerja kantoran hingga pelajar.
| Target Ramadan | Rata-rata Waktu Baca per Hari | Estimasi Khatam |
|---|---|---|
| 1 Juz / Hari | 30 - 45 Menit | 1 Kali (30 Hari) |
| 2 Juz / Hari | 60 - 90 Menit | 2 Kali (15 Hari) |
| 3 Juz / Hari | 120 Menit | 3 Kali (10 Hari) |
Menyelesaikan 30 juz selama bulan suci membutuhkan konsistensi yang terjaga. "Kunci utama keberhasilan khatam Al-Quran di bulan Ramadan adalah niat yang lurus dan pembagian waktu yang teratur," ungkap salah seorang pengurus ibadah di Masjid Istiqlal. Fenomena ini menunjukkan betapa tingginya antusiasme masyarakat dalam memanfaatkan momentum Ramadan 1447 H untuk memperbaiki kualitas hubungan mereka dengan Sang Pencipta.
Sinergi Kebersamaan di Ruang Publik Masjid
Masjid Istiqlal tidak hanya menjadi tempat untuk mengisolasi diri dalam ibadah personal, tetapi juga pusat interaksi sosial-keagamaan yang hangat. Jemaah dari berbagai latar belakang usia, mulai dari anak-anak, remaja, hingga lansia, duduk berdampingan tanpa sekat. Ada yang membaca musyaf fisik berukuran besar, dan tidak sedikit pula generasi muda yang memanfaatkan aplikasi Al-Quran digital di ponsel pintar mereka.
Salah seorang jemaah asal Jakarta Pusat, Ahmad Fauzi (34), mengungkapkan kebahagiaannya bisa kembali menyambut Ramadan dan beribadah di Istiqlal.
"Atmosfer di Istiqlal saat hari pertama puasa itu sangat menggetarkan hati. Melihat ribuan orang sama-sama memegang Al-Quran dan mengaji membuat kita makin bersemangat. Rasa lelah setelah beraktivitas seharian mendadak hilang begitu mendengar alunan ayat suci di sini," ujar Ahmad.
Dampak Positif Tadarus Bagi Ketenangan Jiwa
Secara psikologis dan spiritual, kegiatan tadarus Al-Quran terbukti memberikan efek ketenangan jiwa yang luar biasa. Berbagai kajian keislaman menekankan bahwa interaksi rutin dengan Al-Quran di bulan Ramadan mampu menurunkan tingkat stres serta memberikan kejernihan pikiran di tengah tingginya ritme kehidupan perkotaan.
Tidak heran jika momentum awal Ramadan 1447 H ini dimaksimalkan secara optimal oleh masyarakat. Kebiasaan mulia yang dimulai sejak hari pertama ini diharapkan tidak hanya bertahan hingga akhir bulan suci, melainkan terus terawat menjadi gaya hidup spiritual yang berkelanjutan di masa-masa mendatang.
Comments (0)