Pemandangan langit Jakarta selama bertahun-tahun selalu dihiasi oleh pemandangan yang serupa: juntaian kabel hitam yang saling bertumpuk mirip mie instan menggantung di antara tiang-tiang beton. Tidak hanya merusak pemandangan kota, jaring kabel yang memprihatinkan ini juga menyimpan potensi bahaya besar bagi keselamatan pengguna jalan. Namun, perubahan besar kini mulai digulirkan secara agresif oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Dalam rencana strategis pembangunan tata kota terbaru, calon pimpinan daerah DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan komitmennya untuk membebaskan Ibu Kota dari jeratan kabel udara. Penataan jaringan telekomunikasi dan listrik sepanjang 6.500 kilometer ditargetkan dapat sepenuhnya dialihkan ke bawah tanah dalam kurun waktu 5 tahun ke depan.
Menyulap 'Spaghetti Udara' Menjadi Infrastruktur Terpadu
Langkah masif ini diwujudkan melalui skema Sarana Jaringan Utilitas Terpadu (SJUT). Melalui mekanisme ini, seluruh kabel operator telekomunikasi yang tadinya menjuntai tak beraturan di udara akan ditanam ke dalam lubang khusus (ducting) di bawah kaki lima dan jalan raya.
Penataan kabel udara sepanjang 6.500 kilometer ini bukanlah pekerjaan ringan. Proyek ini membutuhkan sinergi erat antara Pemprov DKI, jajaran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) seperti Sarana Jaya dan Jakpro, serta Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (APJATEL). Selama ini, ego sektoral antar-operator sering kali menjadi ganjalan utama dalam mempercepat pemindahan kabel ke bawah tanah.
"Jakarta harus menjadi kota global yang rapi, aman, dan estetis. Penataan 6.500 kilometer kabel semrawut ini bukan sekadar soal keindahan, tetapi bentuk perlindungan nyata negara terhadap keselamatan warga di jalanan," ujar narasi komitmen penataan Jakarta.
Keselamatan Warga dan Estetika Kota Jadi Alasan Utama
Desakan pembersihan kabel udara ini makin berhembus kencang setelah serangkaian insiden tragis yang menimpa warga. Kasus pengendara sepeda motor yang tersangkut kabel terjuntai hingga menyebabkan luka berat dan korban jiwa menjadi tamparan keras bagi pembenahan fasilitas publik.
Selain alasan keselamatan, penataan ini dipandang penting untuk mempercantik wajah Jakarta yang tengah bertransisi menjadi pusat bisnis dan kota global setelah lepas dari status Ibu Kota Negara. Jalan-jalan protokol hingga kawasan pemukiman padat secara bertahap akan dibersihkan dari "hutan tiang" yang mengganggu pemandangan.
Perbandingan Metode Pengelolaan Kabel di Jakarta
Untuk memahami mengapa pemindahan kabel bawah tanah sangat krusial, berikut adalah analisis perbandingan antara sistem kabel udara lama dengan sistem bawah tanah (SJUT):
| Kriteria Analisis | Sistem Kabel Udara (Lama) | Sistem Bawah Tanah / SJUT (Baru) |
|---|---|---|
| Estetika Kota | Semrawut, merusak pemandangan kota. | Bersih, langit kota terbuka tanpa tiang. |
| Faktor Keselamatan | Rentan putus, menjuntai, dan membahayakan warga. | Sangat aman, terlindungi dari cuaca ekstrem. |
| Perawatan & Perbaikan | Mudah diakses tapi merusak pemandangan. | Tersentralisasi di dalam manhole khusus. |
| Ketahanan Jaringan | Rentan tersambar petir dan tertimpa pohon. | Lebih stabil dan berumur panjang. |
Tahapan Pembenahan Menuju Jakarta Bebas Kabel Udara
Untuk mencapai target 6.500 kilometer dalam 5 tahun, Pemprov DKI Jakarta telah menyusun beberapa tahapan krusial:
- Pemetaan Zona Prioritas: Memprioritaskan jalan protokol, kawasan bisnis, serta jalur utama transportasi publik.
- Pembangunan Manhole Terpadu: Menyediakan lorong bawah tanah yang dapat disewa bersama oleh seluruh operator telekomunikasi.
- Pemotongan Kabel Mangkrak: Menginstruksikan pemotongan langsung terhadap kabel-kabel tua yang sudah tidak beroperasi lagi.
- Pemberlakuan Sanksi Tegas: Memberikan sanksi pencabutan izin bagi provider yang nekad memasang kabel udara baru tanpa izin.
Dengan target yang terukur dan eksekusi yang konsisten, wajah Jakarta lima tahun ke depan diyakini bakal berubah total. Warga kelak bisa menikmati trotoar yang luas dan aman tanpa rasa waswas tertimpa juntaian kabel, sembari menatap langit kota yang benar-benar bersih.
Pemprov DKI Jakarta bergerak cepat menata wajah kota dari ancaman kabel udara yang menjuntai semrawut. Melalui skema Sarana Jaringan Utilitas Terpadu (SJUT), jaringan kabel sepanjang 6.500 km bakal ditanam ke bawah tanah demi keamanan dan estetika kota global. Simak ulasan lengkapnya di Warkini.com!
Comments (0)