Kompos Keliling, Inovasi Warga Jakarta Selatan Olah Sampah Organik Jadi Pupuk Berkualitas
Warkini.com – Permasalahan sampah organik rumah tangga kini menemukan titik terang di Jakarta Selatan. Sebuah inisiatif bernama Kompos Keliling hadir sebagai solusi kreatif mengurangi tumpukan limb
Warkini.com – Permasalahan sampah organik rumah tangga kini menemukan titik terang di Jakarta Selatan. Sebuah inisiatif bernama Kompos Keliling hadir sebagai solusi kreatif mengurangi tumpukan limbah dapur yang selama ini berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Program yang digerakkan oleh komunitas warga dan didukung pemerintah setempat ini mengubah sisa makanan, kulit buah, dan dedaunan menjadi pupuk kompos berkualitas tinggi yang bermanfaat bagi lingkungan.
Konsep Kompos Keliling cukup sederhana: petugas menggunakan sepeda motor atau kendaraan kecil berkeliling ke permukiman warga untuk mengumpulkan sampah organik yang sudah dipilah dari setiap rumah. Sampah tersebut kemudian dibawa ke pusat pengolahan kompos di tingkat RW atau kelurahan, lalu diolah secara aerobik menggunakan teknik bokashi hingga menjadi pupuk matang dalam waktu dua hingga empat minggu. Warga yang berpartisipasi aktif mendapatkan insentif berupa pupuk gratis untuk tanaman hias, kebun, atau lahan pekarangan mereka sendiri.
Dari Dapur Menjadi Berkah
Berdasarkan laporan Warkini.com di lapangan, program ini mampu merangkul lebih dari 150 kepala keluarga di Kecamatan Pasar Minggu dan sekitarnya. Setiap harinya, sedikitnya 200 kilogram sampah organik berhasil dialihkan dari TPA. Hal ini berdampak langsung pada berkurangnya emisi gas metana dan beban pengangkutan sampah kota. Salah seorang penggerak Kompos Keliling, Siti Rahayu, menuturkan bahwa edukasi pemilahan menjadi kunci utama keberhasilan.
“Awalnya banyak yang mengeluh ribet. Tapi setelah kami tunjukkan hasil komposnya dan bagaimana tanaman mereka menghijau, para ibu rumah tangga justru jadi paling antusias. Sekarang malah yang minta dijemput sampahnya setiap hari,” ujar Siti saat ditemui Warkini.com di posko pengomposan.
Proses pengomposan dilakukan secara gotong royong. Sebagian warga bertugas mengumpulkan, sebagian lagi bertugas mencacah, mencampur dengan bioaktivator, dan membalik tumpukan kompos secara berkala. Hasil kompos yang sudah jadi dikemas dalam karung dan diberi label "Kompos Keliling" sehingga bisa juga dijual untuk menambah kas lingkungan. Harga per karung dibanderol Rp15.000–20.000, sangat terjangkau untuk masyarakat sekitar dan para penghobi tanaman.
Keberhasilan ini menarik perhatian Suku Dinas Lingkungan Hidup (Sudin LH) Jakarta Selatan. Mereka berencana mereplikasi model Kompos Keliling ke wilayah lain yang memiliki karakteristik permukiman padat. Selain mengurangi volume sampah, langkah ini sejalan dengan target pengelolaan sampah berkelanjutan yang dicanangkan pemerintah provinsi.
Dengan dukungan yang semakin luas, Kompos Keliling membuktikan bahwa persoalan sampah bisa diatasi mulai dari rumah, tanpa harus menunggu teknologi mahal. Gerakan sederhana ini tidak hanya menyehatkan tanah, tetapi juga mempererat kebersamaan warga dalam menjaga bumi. Ke depan, diharapkan seluruh RW di Jakarta Selatan dapat mengadopsi pola serupa sehingga kota semakin bersih dan hijau.
Comments (0)