warkini.
Viral

Kota Hijau Nggak Cuma Mimpi: Tata Ruang Indonesia Dikritik

Pernah nggak sih lo jalan-jalan ke kota besar, terus tiba-tiba mikir: "Ini kota atau beton raksasa?" Jalan keras semua, pohonnya numpuk di satu taman kecil, sisanya gedung, mal, sama proyek yang nggak...

Kota Hijau Nggak Cuma Mimpi: Tata Ruang Indonesia Dikritik

Pernah nggak sih lo jalan-jalan ke kota besar, terus tiba-tiba mikir: "Ini kota atau beton raksasa?" Jalan keras semua, pohonnya numpuk di satu taman kecil, sisanya gedung, mal, sama proyek yang nggak kelar-kelar. Welcome to urban Indonesia, bestie. Isu tata kota dan ruang hijau lagi jadi buah bibir lagi, dan honestly, ini bukan sekadar soal estetika Instagramable — ini soal kita masih bisa napas lega di masa depan atau nggak.

Ruang Hijau Makin Sempit, Warga Makin Panas

Setiap tahun, lahan hijau di kota-kota kita tergerus demi apartemen, ruko, sama infrastruktur. Padahal, standar internasional aja nyaranin minimal 9 meter persegi ruang hijau per orang, sementara aturan di Indonesia bahkan menargetkan 30 persen ruang hijau terbuka dari total luas kota. Realitanya? Banyak kota masih jauh di bawah target itu. Parah sih.

Akibatnya kerasa banget. Suhu kota naik — istilahnya urban heat island, alias kota jadi kayak microwave raksasa. Siang panas, malam tetap pengap. Belum lagi soal air: pohon dan tanaman itu alami banget buat nahan air hujan. Kalau hijaunya dicabut semua, air nggak ada tempat ngumpul, banjir datang tiap musim hujan. Lo tahu lah ritual tahunan: genangan, dapur kebanjiran, konten banjir FYP lagi.

"Udah tau kota panas banget, tetep dikasih proyek gedung lagi. Red flag sih ini." — cuitan warganet

Alih Fungsi Lahan: Si Puting Beliung Pembangunan

Plot twist-nya, masalah ini bukan kejadian tiba-tiba. Bertahun-tahun, alih fungsi lahan pertanian, hutan kota, sampai sawah di pinggiran kota terus berjalan. Kebijakan tata ruang sempat jadi arena tarik-menarik antara kepentingan investor, pemerintah daerah, sama warga yang cuma mau tempat tinggal layak.

Yang paling red flag itu kalau perencanaan kota cuma ngejar ekonomi jangka pendek. Gedung boleh tinggi, jalan boleh lebar, tapi kalau drainase nggak dibenerin, transportasi publik nggak nyambung, dan ruang publik hilang — ya percuma. Kota jadi cuma buat lewat, bukan buat tinggal. Mood banget sama kota yang cuma cakep di brosur properti.

IKN sampai Kampung: Siapa yang Dapat Ruang Hijau?

Kasus kota baru kayak IKN sempat bikin debat panas: seberapa serius konsep forest city-nya, dan bakal kejaga nggak ruang hijaunya pas konstruksi jalan? Nggak cuma kota baru, kota lama juga punya PR besar. Jakarta misalnya, udah lama target RTH-nya nggak pernah kecapai. Padahal warga padat banget, yang punya akses ke taman cuma sebagian orang.

Nah di sisi lain, ada gerakan seru dari bawah. Komunitas bikin kebun urban di lahan kosong, rooftop garden di gang sempit, sampai penanaman pohon bareng-bareng di akhir pekan. Ini semua green flag — bukti bahwa warga nggak tinggal diam. Sayangnya, aksi keren ini sering jalan sendirian tanpa dukungan kebijakan yang konsisten.

Solusinya Nggak Cuma Tanam Pohon

Gas pol aja sih sebenernya idenya banyak:

1. Paksa 30 persen ruang hijau jadi kenyataan. Bukan angka di kertas yang dibukukan pas perda lahir, terus dilupakan. Harus ada audit terbuka tiap tahun.

2. Kembangkan transportasi publik yang beneran nyambung. Kalau orang bisa pilih bus, MRT, atau kereta, mobil di jalan berkurang, polusi turun, ruang buat trotoar dan taman bertambah.

3. Bangun kota padat yang manusiawi. Gedung tinggi nggak masalah, asal di bawahnya ada ruang publik hijau, area main anak, sama jalur pejalan kaki yang adem.

4. Libatkan warga dari awal. Perencanaan kota tanpa suara warga itu auto jadi bumerang. Musyawarah kampung, konsultasi publik, partisipasi asli — bukan formalitas belaka.

5. Manfaatkan teknologi. Peta hijau berbasis data, sensor kualitas udara, simulasi genangan — semua bisa bantu pengambil keputusan nggak asal tebak.

Kota Layak Huni Itu Pilihan Kita Bareng-bareng

Indonesia punya peluang besar buat jadi contoh perkotaan berkelanjutan di Asia Tenggara. Tapi itu cuma terjadi kalau tata ruang dikelola serius, bukan asal kejar proyek. Soalnya, kota yang cuma terdiri dari beton tanpa pohon itu bukan kota masa depan — itu set balapan F1 salah tempat.

Jadi, buat lo yang tiap hari tinggal di kota: mulai dari hal kecil, pilih transportasi umum, dukung taman kota, atau sekadar nyebut di Twitter soal RTH yang hilang. Suara lo literally keitung.

Menurut lo, kota mana di Indonesia yang paling butuh penataan ulang? Dan kalau lo jadi wali kota sehari, kebijakan hijau apa yang langsung lo gas? Drop di kolom komentar!

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rangga-pradana

Content Creator. Mengelola konten viral, podcast, dan video pendek.

Comments (0)

User