'Kutukan Trump' hingga Kristal Keberuntungan, Superstisi Global Menjamur

Hanya dalam selang beberapa pekan, dua fenomena dari belahan dunia berbeda sama-sama menyedot perhatian publik. Di Amerika Serikat, kata “kutukan” mewarnai

Jul 11, 2026 - 07:43
0 1
'Kutukan Trump' hingga Kristal Keberuntungan, Superstisi Global Menjamur

Hanya dalam selang beberapa pekan, dua fenomena dari belahan dunia berbeda sama-sama menyedot perhatian publik. Di Amerika Serikat, kata “kutukan” mewarnai pemberitaan usai kegagalan tim nasional di Piala Dunia 2026. Sementara di China, anak muda justru meninggalkan barang-barang mewah dan beralih pada kristal yang diyakini membawa keberuntungan. Meski terpisah benua, keduanya punya benang merah: superstisi dan pencarian makna di luar logika rasional.

Kutukan Trump: Ketika Politik Ikut Campur di Lapangan

Kekalahan Amerika Serikat dari Belgia di babak penyisihan Piala Dunia 2026 langsung memicu ledakan emosi di media sosial. Namun bukan kritik taktik atau performa pemain yang paling keras terdengar, melainkan satu istilah yang jadi trending topic: Trump Curse atau Kutukan Trump. Istilah ini mencuat karena mantan Presiden Donald Trump secara publik memberikan dukungan bombastis dan meramalkan kemenangan tim AS sebelum pertandingan. Ketika hasilnya justru sebaliknya, warganet ramai-ramai menuding campur tangan Trump membawa sial.

“Setiap kali dia ikut campur urusan olahraga, hasilnya selalu buruk. Ini benar-benar kutukan,” tulis salah satu pengguna X.

Fenomena ini bukan kali pertama muncul. Dalam kultur pop Amerika, “kutukan” olahraga sudah jadi legenda, seperti Curse of the Bambino di bisbol atau Madden Curse di sepak bola Amerika. Namun kali ini, dimensi politik turut memperkuat narasi. Psikolog olahraga Dr. Amanda Reese menyebut bahwa publik mencari penjelasan sederhana atas kegagalan yang menyakitkan. “Ketika realitas terlalu kompleks, otak kita cenderung menciptakan pola dan kambing hitam,” ujarnya. Popularitas Trump yang kontroversial membuatnya menjadi sasaran empuk.

Dari Tas Mewah ke Batu Pembawa Hoki

Berpindah ke belahan dunia lain, China menyaksikan pergeseran konsumsi yang tak kalah mengejutkan. Generasi muda, yang dulu memburu barang merek ternama sebagai simbol status, kini ramai-ramai mengoleksi batu kristal. Zirui Yang, mahasiswi jurusan desain di Shanghai, adalah salah satunya. Ia menjual beberapa tas tangan bermerek premium dan menggunakan uangnya untuk membeli kristal amethyst dan rose quartz.

“Dulu saya merasa harus punya barang mahal agar diakui. Tapi sekarang saya mencari sesuatu yang memberi ketenangan dan harapan. Kristal membuat saya merasa lebih terkendali di tengah ketidakpastian,” tutur Zirui.

Tren ini bukan isapan jempol. Data dari platform e-commerce China menunjukkan lonjakan penjualan kristal, batu bertuah, dan aksesori “spiritual” hingga dua kali lipat sepanjang 2025. Sementara itu, penjualan barang mewah melambat, dengan beberapa merek besar melaporkan penurunan pertumbuhan signifikan di kalangan konsumen berusia 20-30 tahun. Fenomena ini disebut sebagai “emotional consumption”—berbelanja bukan untuk pamer, melainkan untuk memenuhi kebutuhan batin.

Psikologi di Balik Superstisi Global

Dua tren di atas tidak berdiri sendiri. Psikolog sosial Dr. Li Wei dari Universitas Peking melihatnya sebagai respons terhadap ketidakpastian global yang meningkat. Ancaman krisis iklim, ketegangan geopolitik, dan kecemasan ekonomi pascapandemi mendorong individu mencari pegangan di luar logika konvensional.

“Superstisi dan konsumsi spiritual bukan tentang kebodohan, melainkan strategi koping. Ketika kita tidak bisa mengontrol hasil, kita berpegang pada simbol-simbol yang memberi ilusi kontrol,” jelasnya.

Di AS, “Trump Curse” menjadi cara untuk menyederhanakan kenyataan pahit. Di China, kristal adalah medium untuk merasakan koneksi dengan alam dan energi positif. Keduanya menunjukkan bahwa di era informasi ini, manusia modern justru semakin haus akan narasi non-rasional.

Dampak pada Perilaku Konsumen Muda

Pergeseran ini juga terlihat dari strategi pemasaran. Merek-merek mewah mulai berkolaborasi dengan astrolog dan pembuat konten spiritual untuk menarik minat Gen Z. Sebaliknya, toko-toko kecil yang menjual kristal dan alat meditasi kini membanjiri Instagram dan TikTok. Di sisi lain, kritik bermunculan bahwa tren semacam ini hanya bentuk lain dari konsumerisme terselubung yang dikemas dalam bahasa “kesadaran”. Namun bagi banyak anak muda, ini adalah langkah nyata menuju kesejahteraan mental yang lebih baik.

  • Penjualan barang mewah di kalangan Gen Z turun 12% pada kuartal pertama 2026 (data Bain & Company).
  • Pasar kristal dan batu semi mulia global diprediksi tumbuh 8% per tahun hingga 2030.
  • Riset YouGov: 67% anak muda di kawasan Asia Pasifik mengaku membeli produk spiritual minimal sekali dalam enam bulan terakhir.

Apakah ini sekadar tren sesaat? Melihat akar psikologis dan struktural yang mendasarinya, nampaknya dunia sedang memasuki babak baru di mana logika dan takhayul berjalan beriringan. Dari kutukan politik di lapangan sepak bola hingga batu kristal di meja kamar mahasiswi, kita menyaksikan bahwa kebutuhan manusia akan makna tidak pernah padam—ia hanya berubah bentuk.

[SOCIAL_TWEET]: Kalah di Piala Dunia, 'Trump Curse' trending. Sementara di China, anak muda tinggalkan barang mewah demi kristal hoki. Dua fenomena ini ungkap betapa superstisi kian mewarnai dunia. #TrumpCurse #KristalKeberuntungan #TrenGlobal[SOCIAL_TG]: ⚽✨ 'Kutukan Trump' bikin AS kalah di Piala Dunia, sementara anak muda China ramai-ramai borong kristal keberuntungan. Ternyata, dunia makin percaya takhayul, nih!

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User